ST PETERSBURG, 19 Oktober 2026 – Serangan drone pada Senin (19/10) dini hari menghantam dua fasilitas minyak di St Petersburg, Rusia, dan menewaskan sedikitnya satu orang serta melukai lima lainnya. Serangan tersebut juga menyasar pusat logistik perusahaan e-commerce Ozon dan pusat data jejaring sosial VKontakte.
Gubernur St Petersburg Alexander Beglov mengatakan kebakaran terjadi di St Petersburg Oil Terminal dan depo minyak Ruchyi setelah serangan tersebut. Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.
Beglov juga melaporkan kerusakan pada 12 gedung apartemen dan dua rumah akibat serangan di wilayah tersebut. Bandara Pulkovo sempat ditutup sementara, sedangkan gangguan layanan internet seluler juga terjadi.
Hingga laporan ini disusun, Kyiv belum memberikan komentar mengenai serangan tersebut.
Serangan Juga Sasar Pusat Logistik Ozon dan Pusat Data VK
Selain fasilitas minyak, serangan drone turut menghantam pusat logistik Ozon—perusahaan e-commerce yang dijuluki sebagai Amazon-nya Rusia. Gempuran tersebut juga menyasar pusat data VKontakte, yang tercatat sebagai jejaring sosial terbesar di negara tersebut.
Ozon mengonfirmasi pusat logistiknya di wilayah itu menjadi sasaran drone dan mengalami kebakaran. Perusahaan menyatakan seluruh staf telah dievakuasi dan tidak ada korban luka.
Ozon juga menghentikan sementara penerimaan kiriman dari penjual di lokasi tersebut karena fasilitas itu sedang dialihkan untuk kebutuhan operasional lainnya.
Sementara itu, VK mengonfirmasi sebuah drone menargetkan pusat data regionalnya. Meski sejumlah pengguna melaporkan gangguan pada dini hari, perusahaan menyatakan layanan mereka tetap beroperasi seperti biasa.
Serangan tersebut menunjukkan bahwa sasaran serangan tidak hanya terbatas pada infrastruktur energi, tetapi juga mencakup fasilitas logistik dan teknologi yang menopang aktivitas ekonomi Rusia.
Ukraina Sebut Rusia Terus Menyerang Infrastruktur Energi
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada Sabtu (17/10) bahwa Rusia telah menyerang sektor energi Ukraina sebanyak 76 kali sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi pada pekan sebelumnya.
Ukraina sempat menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia selama tiga hari setelah pengumuman tersebut. Kyiv menyatakan keputusan mengambil langkah itu sebagai bagian dari upaya meredakan serangan terhadap infrastruktur energi, tetapi menuduh Moskwa tetap melancarkan serangan.
Ukraina kemudian kembali menyerang fasilitas Rusia pada awal pekan ini. Langkah tersebut menuai kritik dari Trump, yang menginginkan gencatan senjata untuk memfasilitasi kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait pasokan solar.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah menembak jatuh lebih dari 1.000 drone Ukraina di wilayah Rusia sepanjang malam hingga Minggu.
St Petersburg sendiri pernah menjadi sasaran serangan Ukraina sebelumnya, meskipun wilayah Rusia yang lebih dekat dengan perbatasan Ukraina lebih sering menghadapi serangan. Terminal minyak St Petersburg terakhir kali di serang pada Juli.
Ketegangan Washington dan Kyiv Meningkat
Hubungan antara Washington dan Kyiv mengalami ketegangan setelah Amerika Serikat menyepakati impor solar dari Rusia. Kesepakatan yang menurut Trump bertujuan menekan harga energi di AS yang melonjak di tengah perang Iran menjelang pemilihan paruh waktu.
Zelensky menilai kesepakatan tersebut sama saja dengan membantu membiayai upaya perang Rusia. Keputusan Trump untuk menangguhkan sementara sejumlah sanksi terhadap Moskwa juga menuai kritik, termasuk dari sejumlah anggota Partai Republik di AS.
Namun, pada Minggu, Zelensky mengatakan melalui Telegram bahwa ia telah berkomunikasi dengan dua utusan utama Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Menurutnya, tim kedua pihak terus berkomunikasi dan sedang mempersiapkan langkah diplomatik berikutnya.
Serangan Infrastruktur Energi Meningkat Menjelang Musim Dingin
Rusia dan Ukraina semakin intensif menyerang infrastruktur energi satu sama lain menjelang musim dingin. Hingga saat ini, invasi skala penuh Rusia ke Ukraina memasuki tahun kelima.
Rusia menyatakan serangan-serangannya menyasar fasilitas yang menjadi basis militer Ukraina. Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut dua pekan pertama Oktober menjadi periode paling mematikan bagi warga sipil Ukraina dalam beberapa tahun terakhir.
Serangan Rusia terhadap fasilitas energi telah menyebabkan ratusan ribu warga Ukraina kehilangan pasokan listrik. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga saat suhu semakin dingin.
Zelensky mengatakan pada Sabtu bahwa puluhan ribu warga Ukraina masih belum mendapatkan listrik. Dalam sepekan terakhir, menurutnya, Rusia meluncurkan hampir 2.700 drone, 1.700 bom udara, dan 66 rudal, yang sebagian besar mengarah ke fasilitas energi.
















