MOSKOW, 23 Oktober 2026 — Serangan drone Ukraina merusak sejumlah pusat data penting di Rusia pada Oktober 2026. Akibatnya, berbagai layanan digital, mulai dari perbankan, belanja online, hingga pemesanan taksi, mengalami gangguan.
Fasilitas yang menjadi sasaran meliputi tiga pusat data milik perusahaan teknologi Yandex, satu milik bank terbesar Rusia, Sberbank, dan satu fasilitas yang melayani platform media sosial VKontakte.
Kerusakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk diperbaiki. Sejumlah pakar juga menilai serangan ini dapat menghambat ambisi Rusia untuk bersaing dengan Amerika Serikat dan China dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
“Hal ini secara efektif membuat Rusia jauh tertinggal dalam persaingan AI,” kata Mikhail Klimarev, kepala kelompok aktivis Internet Protection Society.
Ukraina Serang Lima Pusat Data
Drone Ukraina menyerang tiga pusat data Yandex dalam rentang empat hari. Fasilitas di Sasovo, wilayah Ryazan, diserang pada 8 Oktober. Sehari kemudian, pusat data di Kaluga menjadi sasaran, disusul fasilitas di Vladimir pada 11 Oktober.
Selanjutnya, pusat data sekaligus pusat pengembangan AI milik Sberbank di Balakovo, wilayah Saratov, diserang pada 14 Oktober. Empat hari kemudian, serangan menyasar pusat data di St. Petersburg yang melayani VKontakte.
Yandex, Sberbank, dan VKontakte tidak mengungkapkan secara terperinci tingkat kerusakan fasilitas mereka. Namun, masyarakat dan pelaku usaha di Rusia melaporkan gangguan layanan digital yang meluas.
Gangguan tersebut berdampak pada pembayaran, belanja online, pemesanan taksi, navigasi, penyimpanan data, hingga asisten virtual Alisa milik Yandex.
Dampaknya juga menjalar ke sistem peradilan. Sejumlah pengadilan arbitrase dilaporkan harus membatalkan atau menunda sidang karena gangguan akses ke layanan dan basis data.
Layanan Sehari-hari Ikut Terganggu
Yandex menjadi bagian penting dari kehidupan digital masyarakat Rusia. Perusahaan ini menyediakan mesin pencari, layanan pembayaran, penyimpanan data, navigasi, pemesanan taksi, hingga platform belanja online.
Analis Eurasia Group, Nick Reiners, mengatakan Yandex menggabungkan berbagai layanan yang di negara lain disediakan perusahaan seperti Uber, Amazon, dan Google.
Menurutnya, banyaknya layanan yang bergantung pada sejumlah kecil pusat data membuat perusahaan tersebut menjadi sasaran strategis.
Serangan itu mengganggu pembayaran, pesanan belanja, perjalanan taksi, hingga akses ke data pribadi.
Seorang warga Moskow, Igor Mann, mengaku tidak bisa mengambil barang pesanannya melalui Yandex Market. Sementara itu, pengemudi taksi Pavel Belyavskiy mengatakan bahwa ia beberapa kali terpaksa membatalkan perjalanan karena tidak bisa menghubungi penumpang.
Sejumlah perusahaan besar dan bank yang menggunakan layanan komputasi awan Yandex juga mengalami gangguan.
Yandex menyatakan sebagian besar layanan komputasi awannya telah kembali beroperasi dalam beberapa hari setelah serangan. Perusahaan memanfaatkan pusat data lain di Rusia untuk memulihkan layanan.
Namun, pemulihan layanan tidak berarti seluruh kerusakan pada fasilitas dan peralatan pengembangan AI telah teratasi.
Kebijakan Internet Rusia Jadi Sorotan
Serangan tersebut juga menyoroti risiko kebijakan pemerintah Rusia yang mewajibkan penyimpanan data di dalam negeri sebagai bagian dari upaya membangun internet berdaulat.
Kebijakan ini membuat infrastruktur digital Rusia lebih rentan ketika pusat data di wilayahnya mendapatkan serangan.
Sebaliknya, Ukraina menyimpan sebagian data penting di server negara-negara Eropa yang menjadi sekutunya. Langkah tersebut membantu mengurangi dampak serangan Rusia terhadap infrastruktur digital Ukraina.
Reiners menilai penyimpanan data yang terpusat di Rusia membuat infrastruktur negara itu menjadi sangat rentan.
Klimarev memperkirakan serangan tersebut dapat mendorong perusahaan-perusahaan Rusia menyewa kapasitas komputasi di luar negeri, termasuk di Eropa, untuk menjaga operasional mereka.
Ambisi AI Rusia Terancam
Dampak jangka panjang serangan ini kemungkinan akan menghambat pengembangan AI Rusia.
Yandex telah menginvestasikan dana besar untuk membangun pusat data dan mengembangkan teknologi AI. Tiga superkomputernya digunakan untuk mengembangkan model AI dan masuk dalam daftar 500 superkomputer teratas dunia. Superkomputer terkuatnya, yang berada di Sasovo, menempati peringkat ke-19.
Citra satelit menunjukkan sejumlah pusat data mengalami kerusakan serius. Kebakaran akibat serangan di duga merusak chip berperforma tinggi dan peralatan penting lainnya.
Connor Martin, pakar dari Council on Foreign Relations, menilai serangan drone Ukraina dapat semakin memperlebar kesenjangan teknologi AI Rusia dengan Amerika Serikat dan China.
Rusia juga menghadapi kendala untuk mengganti chip Nvidia A100 buatan Amerika Serikat yang terpasang pada superkomputer Yandex. Keterbatasan pasokan chip berperforma tinggi dan sanksi terhadap pengiriman teknologi ke Rusia dapat membuat perbaikan semakin sulit dan mahal.
Klimarev bahkan meragukan pihak Rusia dapat memperbaiki kerusakan tersebut dalam enam bulan atau satu tahun.
















