SEOUL, 21 Oktober 2026 — Korea Selatan (Korsel) akan tarik sebagian staf kedutaan mereka di Kyiv, Ukraina, menyusul memburuknya hubungan diplomatik kedua negara terkait pemindahan dua tawanan perang asal Korea Utara ke Seoul.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Park Doosoon, mengatakan pada Selasa (20/10) bahwa keputusan tersebut diambil karena Ukraina dinilai belum mengambil langkah konstruktif untuk menyelesaikan keberatan Seoul. Kekhawatiran terhadap keselamatan staf kedutaan di tengah meningkatnya serangan Rusia juga menjadi pertimbangan.
Park tidak merinci jumlah staf yang akan ditarik maupun jadwal pelaksanaannya. Namun, Korea Selatan akan tetap menempatkan kuasa usaha dan personel penting di Kyiv untuk menjaga komunikasi dengan pemerintah Ukraina serta membantu warga negaranya.
“Kami masih menjaga komunikasi dan, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, tujuan kami adalah mencari penyelesaian secara damai melalui konsultasi erat dengan pihak Ukraina,” kata Park.
Ia menambahkan, Seoul telah menyampaikan sikap dan permintaannya mengenai sejumlah persoalan yang belum terselesaikan melalui berbagai saluran diplomatik. Kini, menurut dia, Ukraina perlu memberikan tanggapan atau mengambil langkah yang sesuai.
Perselisihan Berawal dari Pengumuman Zelenskyy
Perselisihan diplomatik kedua negara mencuat setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan pemindahan dua tawanan perang Korea Utara dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 23 September.
Korea Selatan menuduh Ukraina melanggar kesepakatan untuk menjaga agar pemindahan kedua tentara tersebut bersifat rahasia. Namun, Ukraina membantah bahwa kedua negara pernah mencapai kesepakatan semacam itu.
Sebagai bentuk protes, Korea Selatan telah menarik duta besarnya dari Ukraina pada awal bulan ini.
Saat itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, menyatakan Kyiv tetap terbuka terhadap dialog yang konstruktif. Ia menegaskan bahwa diplomasi harus lebih diutamakan daripada emosi.
Dua Tentara Korea Utara Memilih ke Korea Selatan
Kedua tentara Korea Utara tersebut termasuk di antara ribuan personel yang dikirim Pyongyang untuk mendukung perang Rusia melawan Ukraina. Mereka ditangkap pada awal 2025 dan kemudian diserahkan Ukraina kepada Korea Selatan.
Dalam wawancara dengan media, keduanya menyatakan ingin menetap di Korea Selatan karena khawatir akan menghadapi penganiayaan jika kembali ke Korea Utara.
Korea Selatan selama ini menerima para pembelot dari Korea Utara dan memberikan dukungan finansial kepada mereka. Kebijakan tersebut berkaitan dengan posisi konstitusional Seoul yang mengklaim sebagai pemerintahan sah di seluruh Semenanjung Korea.
Pejabat Korsel mengatakan kerahasiaan pemindahan kedua tentara itu sangat penting untuk melindungi mereka beserta keluarga yang masih berada di Korut.
Namun, sejumlah pengamat menilai pemerintahan Presiden Lee Jae Myung yang berhaluan liberal mungkin juga khawatir pengumuman kedatangan kedua tentara tersebut dapat menghambat upaya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang.
Media pemerintah Korea Utara belum memberikan komentar mengenai pemindahan tersebut. Sebelumnya, Pyongyang kerap bereaksi keras terhadap pembelotan warganya yang menjadi sorotan publik dan terkadang menuduh Korea Selatan melakukan penculikan.
Hubungan Dua Korea Kian Memburuk
Perselisihan Seoul dan Kyiv terjadi ketika hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara juga semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengambil sikap keras terhadap Seoul dan berupaya memutus hubungan antar-Korea. Pyongyang juga terus mempercepat program senjata nuklirnya di tengah kebuntuan diplomatik dengan Washington.
Penarikan sebagian staf kedutaan Korea Selatan menambah tekanan dalam hubungan Seoul dan Kyiv. Meski demikian, pemerintah Korea Selatan menyatakan masih mengupayakan penyelesaian melalui konsultasi diplomatik dengan Ukraina.
















