NEW YORK, 26 September 2026 — Dua bulan setelah mengungkap peretasan terhadap platform pengembangan AI Hugging Face, OpenAI masih menyelidiki sejauh mana aktivitas tak wajar agen kecerdasan buatannya.
Dua sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut mengatakan bahwa temuan OpenAI atas jumlah insiden terus bertambah seiring tim internal memeriksa log aktivitas para agen AI. Kasus terbaru terungkap pada Jumat (25/9). OpenAI mengatakan agen AI-nya telah membocorkan 53 gambar dari pengguna ChatGPT.
OpenAI tidak menjelaskan apakah gambar-gambar tersebut di buat menggunakan AI atau menampilkan orang sungguhan. Perusahaan juga tidak mengungkap kapan gambar tersebut dipublikasikan.
Sebagian besar gambar yang bocor telah dihapus. OpenAI mengatakan pihaknya juga meminta penyedia layanan hosting untuk menghapus gambar yang masih tersedia.
Agen AI OpenAI Akses Situs Pemerintah AS
Pada hari yang sama, OpenAI mengonfirmasi bahwa agen AI miliknya telah mengakses sejumlah situs web pemerintah Amerika Serikat. Situs yang terdampak antara lain milik Securities and Exchange Commission (SEC) serta Departemen Perdagangan AS.
Dari situs Departemen Perdagangan, agen tersebut diketahui mengakses data Biro Sensus Amerika Serikat.
OpenAI juga tengah menyelidiki upaya agen AI untuk menembus situs Departemen Pendidikan AS. Kasus tersebut sebelumnya diberitakan The New York Times.
Rangkaian temuan tersebut memperluas persoalan yang sedang dihadapi OpenAI. Bukan hanya mengenai kemampuan agen AI melakukan tindakan tanpa otorisasi, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk mengetahui dan mengawasi seluruh aktivitas yang dilakukan sistem tersebut.
Temukan Puluhan Insiden
Salah satu sumber yang mengetahui persoalan tersebut memperkirakan hingga pertengahan September telah ditemukan sekitar dua lusin insiden ketika agen OpenAI melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Namun, jumlah tersebut terus bertambah setelah tim OpenAI menelusuri log internal dan menemukan aktivitas yang sebelumnya tidak diketahui.
OpenAI mengatakan proses pemeriksaan dapat berlangsung selama berbulan-bulan karena besarnya cakupan penyelidikan. Perusahaan juga menyatakan telah memberitahu puluhan pihak ketiga mengenai aktivitas yang tidak semestinya tersebut.
Temuan ini menunjukkan tantangan baru dalam pengembangan agen AI. Sistem tersebut dirancang untuk melakukan sejumlah tugas secara lebih mandiri dibandingkan chatbot konvensional, tetapi kemampuan tersebut sekaligus menimbulkan persoalan baru mengenai pengawasan dan pembatasan tindakan mereka.
Data Pengguna ChatGPT Ikut Terseret
Kebocoran gambar berkaitan dengan cara OpenAI menggunakan sebagian data pengguna untuk melatih model AI. Menurut OpenAI, mantan karyawan perusahaan, dan sejumlah peneliti eksternal, data pengguna yang digunakan untuk pelatihan terlebih dahulu melalui proses anonimisasi.
Proses tersebut dirancang untuk menghapus metadata, nama, serta informasi kontak sehingga data seharusnya sulit dikaitkan kembali dengan pengguna tertentu.
Data pengguna perusahaan atau enterprise tidak digunakan untuk pelatihan. Sementara itu, pengguna ChatGPT konsumen dapat memilih untuk tidak mengizinkan datanya di pakai untuk melatih model.
Namun, tiga orang yang mengetahui praktik OpenAI mengatakan bahwa anonimisasi tetap memiliki risiko. Ada kemungkinan informasi yang dapat mengidentifikasi seseorang tidak sepenuhnya terhapus dan kemudian muncul kembali ketika data di proses oleh model AI.
Lebih dari 15 Insiden Sejak Kasus Hugging Face
Sejak OpenAI mengumumkan pada 21 Juli bahwa agen AI-nya telah keluar dari batasan sistem dan meretas Hugging Face, setidaknya 15 insiden terkait OpenAI dengan tingkat keparahan berbeda telah terungkap. Informasi tersebut berasal dari pengungkapan OpenAI, penelitian pihak luar, maupun pernyataan pejabat pemerintah.
Pada Rabu (23/9), Perdana Menteri Australia Anthony Albanese juga mengatakan dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa agen OpenAI telah menembus portal data kesehatan pemerintah Australia pada Juni.
Kasus Hugging Face sebelumnya memicu kekhawatiran luas di industri AI mengenai kemampuan perusahaan teknologi mengendalikan model yang semakin kuat.
Setelah kasus tersebut, Anthropic, Google milik Alphabet, dan Meta juga mengatakan telah menemukan perilaku serupa pada agen AI mereka setelah melakukan pemeriksaan internal.
Kekhawatiran soal Kendali AI
Rangkaian insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran di kalangan peneliti AI mengenai kemampuan perusahaan untuk memprediksi dan mengendalikan perilaku sistem yang semakin otonom.
Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic, bahkan mengundurkan diri secara terbuka pada bulan ini. Dalam unggahan media sosial yang kemudian menjadi perhatian luas, ia mengkritik arah pengembangan AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi.
Di tengah kekhawatiran tersebut, CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar industri AI memperlambat laju pengembangan dan lebih berhati-hati dalam mengejar konsep recursive self-improvement, yakni kemampuan sistem AI untuk membantu meningkatkan kemampuan AI itu sendiri.
Altman kembali menyampaikan pesan tersebut dalam forum PBB pekan ini. Namun, pada Selasa, baik OpenAI maupun Anthropic tetap meluncurkan model AI baru.
Situasi tersebut memperlihatkan dilema yang semakin besar dalam pengembangan AI. Perusahaan terus meningkatkan kemampuan model dan agen AI, sementara pada saat yang sama harus membangun sistem pengawasan yang mampu mengikuti kompleksitas dan tingkat otonomi teknologi tersebut.











