Islamabad – Angkatan Udara India mengakui adanya kerugian dalam operasi militer udara terhadap Pakistan. Meski situasi di sepanjang perbatasan mulai tenang pasca-gencatan senjata, kedua negara tetap saling menuding melanggar perjanjian tersebut.
Pernyataan resmi dari militer India menyebutkan bahwa “kerugian adalah bagian dari pertempuran,” tanpa menjelaskan secara rinci jumlah pesawat atau kerusakan yang terjadi. Namun, pihak India menegaskan seluruh pilot telah kembali dari operasi pekan lalu.
Di sisi lain, militer Pakistan menyatakan lima pesawat tempur India berhasil ditembak jatuh. Sumber pemerintah India di wilayah Kashmir yang dikelola New Delhi mengonfirmasi bahwa setidaknya tiga jet jatuh di wilayah tersebut, hanya beberapa jam setelah India melaporkan telah mengebom sembilan target di dalam wilayah Pakistan.
Juru bicara militer Pakistan, dalam konferensi pers pada Minggu (11/5/2025), mengatakan bahwa sebelum gencatan senjata diberlakukan, pasukan udara Pakistan telah menggempur 26 instalasi militer India. Selain itu, puluhan drone dilaporkan terbang di sejumlah kota besar India, termasuk ibu kota, New Delhi.
Gencatan Senjata, Warga Sipil Tarik Napas Lega
Gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat ini membawa ketenangan sementara di perbatasan. Seorang perwira senior Pakistan di Muzaffarabad mengatakan tidak ada laporan bentrokan baru sejak Senin pagi. “Kami belum diberitahu mengenai insiden bersenjata apa pun sejak pagi ini,” ujarnya kepada wartawan AFP.
Ketegangan mereda pula di Poonch, kota di wilayah barat laut India yang sebelumnya menjadi sasaran penembakan artileri dari Pakistan. Pasar tradisional yang sempat lumpuh kini kembali dibuka. “Saya merasa sangat bahagia,” ujar Sohail Anjum, penjual buah berusia 15 tahun, kepada AFP. “Saya harap kami bisa kembali bekerja dan ketenangan ini akan terus berlangsung.”
Selama empat hari sebelumnya, dua negara bertetangga yang sama-sama memiliki senjata nuklir ini terlibat saling serang menggunakan artileri, drone, hingga rudal, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka. Banyak negara asing menyerukan pengendalian diri.
AS Apresiasi Pemimpin Kedua Negara
Konflik kembali mencuat setelah serangan militan di wilayah Kashmir yang dikelola India pada 22 April lalu menewaskan 26 orang di sebuah kawasan wisata. India menuding kelompok militan Lashkar-e-Taiba berada di balik serangan tersebut, sementara Pakistan membantah keterlibatan dan menyerukan investigasi independen.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan komitmen penuh terhadap implementasi gencatan senjata serta pengelolaan krisis secara bertanggung jawab. Islamabad juga menyambut baik pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengapresiasi peran kedua negara dalam menurunkan eskalasi, serta menawarkan dukungan dalam menyelesaikan sengketa Kashmir.
Pakistan juga menekankan pentingnya penyelesaian adil dan permanen atas konflik Kashmir berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Sebaliknya, pemerintah India masih mengevaluasi kelanjutan proses diplomasi. Menteri Luar Negeri India Vikram Misri menuding Pakistan telah melanggar gencatan senjata yang disepakati sehari sebelumnya, tuduhan yang dibantah Islamabad.
Presiden Trump, dalam pernyataannya, menyebut keberanian dan kepemimpinan kedua negara sebagai kunci penyelamatan dari kehancuran. Ia juga menjanjikan peningkatan hubungan dagang dengan India dan Pakistan, serta menyatakan komitmennya untuk membantu menemukan solusi damai atas konflik Kashmir.