Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Israel Serang Fasilitas Nuklir Iran

badge-check


					Sebuah bangunan tampak rusak pascaserangan Israel, di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025. (foto: WANA/Majid Asgaripour) Perbesar

Sebuah bangunan tampak rusak pascaserangan Israel, di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025. (foto: WANA/Majid Asgaripour)

Jerusalem – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel serang berbagai fasilitas militer dan nuklir di Iran pada Jumat (13/6/2025) dini hari waktu setempat. Operasi militer yang diberi nama Operation Rising Lion ini disebut sebagai langkah pre-emptive Israel untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menyebut serangan ini sebagai “momen penentu dalam sejarah Israel” dan menegaskan bahwa operasi militer akan berlangsung “selama diperlukan untuk menghapus ancaman eksistensial dari Iran.”

Target: Fasilitas Nuklir dan Komandan Militer Iran

Israel menyatakan bahwa pihaknya menargetkan fasilitas pengayaan uranium utama Iran di Natanz, pabrik rudal balistik, serta para ilmuwan dan komandan militer yang dianggap terlibat dalam pengembangan senjata nuklir.

Media pemerintah Iran melaporkan terjadinya serangkaian ledakan di sekitar Natanz dan di ibu kota Tehran. Televisi pemerintah Iran juga menyatakan bahwa Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Hossein Salami, tewas dalam serangan udara yang menghantam markas besar IRGC di Tehran.

Laporan tersebut juga menyebut korban sipil, termasuk anak-anak, dalam serangan yang menghantam kawasan permukiman di ibu kota Iran.

Operasi Gabungan: Serangan Udara dan Sabotase

Seorang pejabat militer Israel menyebut bahwa militer menargetkan “puluhan lokasi” strategis, dan menyebut bahwa Iran telah memiliki cukup bahan untuk membuat 15 bom nuklir dalam hitungan hari.

Selain serangan udara, laporan Axios mengungkapkan bahwa badan intelijen Israel, Mossad, juga memimpin operasi sabotase rahasia di dalam wilayah Iran, menargetkan situs rudal strategis serta sistem pertahanan udara.

Siaga Penuh: Israel Antisipasi Serangan Balasan

Sebagai antisipasi serangan balasan dari Iran, Israel menyatakan status darurat nasional. Bandara Internasional Ben Gurion ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, dan sistem pertahanan udara Iron Dome dalam kondisi siaga penuh.

“Kami memperkirakan serangan balasan berupa rudal dan drone dalam waktu dekat,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Israel, menyatakan bahwa mereka telah mengerahkan puluhan ribu tentara ke berbagai titik perbatasan.

“Kita berada dalam kampanye sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah operasi kritis untuk mencegah ancaman yang dapat menghancurkan Israel,” tegas Zamir.

Respons Amerika Serikat: Tidak Terlibat

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat dalam serangan tersebut. “Israel bertindak secara unilateral untuk membela diri. Prioritas utama kami adalah melindungi personel Amerika di kawasan,” ujar Rubio.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump tengah menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional untuk merespons eskalasi situasi ini.

Sementara itu, seorang pejabat AS menyebut bahwa militer AS sedang bersiap menghadapi berbagai skenario, termasuk evakuasi warga sipil Amerika dari wilayah konflik.

Dampak Global: Minyak Naik, Bursa Saham Jatuh

Krisis yang membara ini langsung mengguncang pasar global. Harga minyak mentah melonjak, sementara indeks saham utama dunia anjlok tajam. Para investor beralih ke aset safe haven seperti emas dan obligasi negara.

Perwakilan AS dan Iran sejatinya akan menggelar putaran keenam perundingan nuklir di Oman pada Minggu (15/6). Namun, sumber diplomatik menyebut perundingan tersebut nyaris menemui jalan buntu dan kini terancam batal menyusul aksi militer terbaru Israel.

Presiden Trump pada Kamis sempat menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Iran “sangat mungkin terjadi”, meski ia masih berharap ada jalan damai. Namun kini, konflik terbuka tampaknya tak terelakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional