Menu

Otomatis
Breaking News

Sports

Juara US Open 2026, Elena Rybakina Tumbangkan Aryna Sabalenka

badge-check

Petenis Kazakhstan Elena Rybakina dan petenis Belarus Aryna Sabalenka berpose memegang trofi di atas podium seusai pertandingan babak final US Open, Flushing Meadows, New York. Minggu, 13 September 2026. (IMAGN IMAGES/Robert Deutsch) Perbesar

Petenis Kazakhstan Elena Rybakina dan petenis Belarus Aryna Sabalenka berpose memegang trofi di atas podium seusai pertandingan babak final US Open, Flushing Meadows, New York. Minggu, 13 September 2026. (IMAGN IMAGES/Robert Deutsch)

NEW YORK, 13 September 2026 — Juara US Open 2026, Elena Rybakina akhiri dominasi Aryna Sabalenka sekaligus menegaskan kenaikannya ke puncak tenis putri dunia.

Rybakina menundukkan juara bertahan dua tahun terakhir, Aryna Sabalenka, dengan skor 6-4, 5-7, 6-2 pada final US Open 2026 di Arthur Ashe Stadium, Minggu (13/9) dini hari WIB.

Kemenangan tersebut mengantarkan Rybakina meraih gelar Grand Slam ketiganya sekaligus memastikan statusnya sebagai petenis nomor satu dunia. Petenis kelahiran Rusia yang kini mewakili Kazakhstan itu juga menghentikan catatan kemenangan Sabalenka di Flushing Meadows.

Sabalenka sebelumnya mengoleksi 20 kemenangan beruntun di US Open. Kekalahan tersebut sekaligus menggagalkan ambisi Sabalenka menyamai pencapaian Serena Williams dan Chris Evert yang pernah menjuarai US Open tiga kali berturut-turut.

Bagi Rybakina, gelar ini semakin melengkapi musim luar biasa yang dijalaninya. Ia sebelumnya menjuarai Australian Open 2026 dan Wimbledon 2022.

Cedera pergelangan kaki sempat mengancam keikutsertaannya di New York. Namun, Rybakina mampu mengatasi persoalan tersebut dan tampil hingga pertandingan terakhir. “Sulit menemukan kata-kata. Saya tidak menyangka sesuatu seperti ini akan terjadi ketika datang ke turnamen,” kata Rybakina seusai pertandingan.

“Saya sempat mengalami cedera. Entah bagaimana, semuanya berjalan sesuai dengan keinginan saya.” Rybakina juga mengapresiasi Sabalenka yang menurutnya selalu memberikan tantangan berat.

“Aryna, sangat sulit bermain melawan Anda. Anda selalu mendorong saya hingga batas kemampuan,” ujarnya.

Rybakina Semakin Mencintai New York

Rybakina mengaku pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena US Open sebelumnya bukanlah turnamen yang memberikan banyak keberuntungan baginya. Kini, setelah menjadi juara, pandangannya terhadap New York berubah.

“Saya ingin berterima kasih kepada penonton yang luar biasa atas atmosfer yang begitu indah. Saya semakin jatuh cinta dengan New York,” kata Rybakina.

Selain gelar, Rybakina membawa pulang hadiah uang sebesar 5,5 juta dollar AS.

Ia juga menjadi petenis putri ketiga pada abad ini yang mampu menjuarai Australian Open dan US Open pada tahun yang sama. Dua nama sebelumnya adalah Sabalenka dan Angelique Kerber.

“Rasanya akan berbeda ketika bangun keesokan harinya dan menyadari bahwa Anda telah memenangkan US Open sekaligus mencapai peringkat nomor satu dunia,” tutur Rybakina. Menurut dia, keberhasilan tersebut juga menghadirkan rasa lega setelah menjalani rangkaian pertandingan yang melelahkan.

“Ini sebuah kelegaan karena selama dua atau tiga pekan terakhir Anda menjalani semua rutinitas. Itu pekerjaan yang sangat berat, dan juga penuh tekanan,” ujarnya.

Sabalenka Sempat Bangkit

Final antara dua petenis teratas dunia tersebut berlangsung ketat sejak awal. Rybakina tampil dengan seragam pertandingan kuning dan hitam. Ia mengandalkan pukulan groundstroke keras untuk menekan Sabalenka.

Namun, Sabalenka mampu bertahan melalui servis-servis kerasnya. Rybakina akhirnya mendapatkan momentum ketika Sabalenka melakukan double fault. Kesalahan tersebut membuat Rybakina unggul 3-2.

Sabalenka yang frustrasi kemudian memukul bola tinggi ke tribun penonton dan mendapatkan pelanggaran kode etik dari wasit kursi.

“Memang sangat sulit mengendalikan emosi ketika Anda kalah di final Grand Slam dan sedang berusaha mengejar gelar tiga kali berturut-turut,” kata Sabalenka.

“Saya hanya ingin meluapkannya. Kalau saya memendamnya, mungkin saya tidak akan bisa bicara apa pun.”

Ekspresi frustrasi Sabalenka semakin terlihat setiap kali melakukan kesalahan. Sebaliknya, Rybakina tetap tenang. Ia mempertahankan permainan solid hingga mengamankan set pertama dengan skor 6-4.

Pada set kedua, sebenarnya Sabalenka bisa menemukan kembali ritmenya. Petenis Belarus tersebut mulai lebih agresif. Ia mengombinasikan pukulan keras dengan variasi permainan, termasuk sebuah drop shot yang mengecoh Rybakina. Sabalenka juga menghasilkan pukulan backhand menyilang yang akurat untuk membalikkan momentum.

Rybakina mulai kehilangan konsistensi di pertengahan set kedua. Sabalenka memanfaatkan situasi tersebut dan memaksakan set penentuan setelah menang 7-5.

Rybakina Comeback di Set Ketiga

Pada awal set ketiga, Sabalenka langsung menunjukkan agresivitas. Ia bahkan berteriak penuh semangat setelah menghasilkan pukulan backhand winner untuk mengamankan gim pembuka.

Namun, Rybakina kembali menemukan permainan terbaiknya. Petenis Kazakhstan tersebut terus memberikan tekanan dengan groundstroke keras dan pukulan yang dalam. Ia kemudian membangun keunggulan hingga 5-2.

Sabalenka tidak mampu membendung laju lawannya. Rybakina akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 6-2 pada set ketiga. Gelar US Open pun menjadi milik Rybakina.

Perayaan Rybakina tetap sederhana, sesuai dengan karakter tenangnya sepanjang pertandingan. Ia bahkan lebih terlihat seperti baru menyelesaikan pertandingan biasa ketimbang baru memenangkan salah satu gelar terbesar dalam kariernya.

Di sisi lain, Sabalenka duduk di bangku pemain dengan raket yang telah rusak akibat luapan emosinya.

“Saya kecewa, tetapi saya ingin mengucapkan selamat kepada Elena. Saya berharap bisa bermain sedikit lebih baik, tetapi mungkin tahun depan,” ujar Sabalenka dengan mata berkaca-kaca.

Kemenangan di New York membuat Rybakina semakin dekat dengan pencapaian Career Grand Slam. Ia kini hanya membutuhkan gelar French Open untuk melengkapi koleksi empat Grand Slam.

Sementara itu, rangkaian pertandingan US Open 2026 berlanjut pada Minggu dengan final tunggal putra. Petenis Amerika Serikat Ben Shelton akan berusaha mengakhiri penantian panjang negaranya untuk memiliki juara Grand Slam putra dengan menghadapi unggulan pertama, Alexander Zverev.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rybakina Tekuk Gauff, Tantang Sabalenka di Final US Open 2026

11 Sep 2026 - 10:52 WIB

Rybakina Tekuk Gauff, Tantang Sabalenka di Final US Open 2026

Sabalenka Hajar Pegula di Semifinal, Selangkah Lagi Cetak Sejarah di US Open

11 Sep 2026 - 09:57 WIB

Sabalenka Hajar Pegula di Semifinal, Selangkah Lagi Cetak Sejarah di US Open

Jerman Cetak Sejarah, Lolos Semifinal Piala Dunia Basket Putri 2026

11 Sep 2026 - 08:33 WIB

Jerman Cetak Sejarah, Lolos Semifinal Piala Dunia Basket Putri 2026

Australia dan China Lolos ke Perempat Final Piala Dunia Basket Putri 2026

10 Sep 2026 - 10:32 WIB

Australia dan China Lolos ke Perempat Final Piala Dunia Basket Putri 2026

Hancurkan Korea Selatan 94-56, Jerman Melaju ke Perempat Final

9 Sep 2026 - 11:05 WIB

Hancurkan Korea Selatan 94-56, Jerman Melaju ke Perempat Final
Trending di Sports