New Delhi/Islamabad – Dunia menyaksikan babak baru dalam sejarah konflik bersenjata saat India dan Pakistan—dua negara bersenjata nuklir yang telah lama berseteru—terlibat dalam perang drone pertama di dunia. Dalam serangkaian pernyataan resmi dan saling tuduh, kedua negara mengklaim keberhasilan serangan dan keberhasilan pertahanan. Eskalasi ini kini menyoroti dimensi baru dalam ketegangan Asia Selatan.
Pada Kamis (8/5/2025), India menuding Pakistan meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal ke tiga pangkalan militer di wilayah India dan Kashmir yang dikuasai India. Pakistan membantah keras tuduhan tersebut dan mengklaim telah menembak jatuh 25 drone India dalam beberapa jam terakhir. Sementara itu, pemerintah India memilih untuk tidak memberikan tanggapan langsung atas klaim itu.
Era Baru Konflik India Paksitan
Ketegangan terbaru ini menandai pergeseran berbahaya dalam rivalitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Para ahli memperingatkan bahwa konflik yang sebelumnya didominasi oleh artileri dan tembak-menembak konvensional kini telah masuk ke era baru. Sebuah era dimana senjata tak berawak, senyap, dan sulit dilacak menjadi penentu medan pertempuran.
“Konflik Indo-Pakistan kini memasuki era drone—di mana ‘mata yang tak terlihat’ dan presisi tanpa awak dapat menentukan apakah eskalasi terjadi atau justru dapat dicegah,” ujar Jahara Matisek, profesor di US Naval War College, kepada BBC.
Pakistan melaporkan bahwa sejak Rabu pagi, serangan udara India dan tembakan lintas batas telah menewaskan 36 orang dan melukai 57 lainnya di wilayahnya, termasuk di Kashmir yang dikuasai Pakistan. Sebaliknya, militer India menyebut sedikitnya 16 warga sipil tewas akibat tembakan artileri dari Pakistan. India menyatakan bahwa serangan misilnya merupakan balasan atas serangan militan terhadap wisatawan India di Pahalgam bulan lalu—sebuah tuduhan yang dibantah Pakistan.
Dalam pernyataan militer terbaru, Pakistan menyebut berhasil menjatuhkan 25 drone India, termasuk di kota-kota besar seperti Karachi, Lahore, dan Rawalpindi. Drone-drone tersebut, yang dilaporkan merupakan drone Harop buatan Israel, diklaim berhasil dijatuhkan melalui kombinasi teknik elektronik dan serangan langsung. Di sisi lain, India mengklaim telah melumpuhkan beberapa radar pertahanan udara Pakistan, termasuk di Lahore—klaim yang kembali dibantah Islamabad.
Peran drone dalam perang modern kini menjadi sorotan utama. Selain sebagai alat pengintaian, drone digunakan untuk menyerang langsung atau sebagai umpan untuk memicu sistem pertahanan musuh. Taktik ini juga terlihat dalam perang Ukraina-Rusia. Drone menjadi tulang punggung dalam menyerang dan menetralkan pertahanan musuh tanpa mempertaruhkan pesawat berawak.
India Andalkan Teknologi Israel, Pakistan Gandeng China dan Turki
Menurut Prof Matisek, India banyak mengandalkan drone pengintai buatan Israel seperti IAI Searcher dan Heron. Selain itu, India juga menggunakan drone serang loitering seperti Harpy dan Harop, yang mampu menetap di udara sebelum menghantam target. Heron dikenal sebagai “mata di langit” India di wilayah-wilayah sensitif, sementara Searcher Mk II digunakan dalam operasi garis depan dengan daya jelajah 300 km dan ketahanan terbang hingga 18 jam.
Meskipun jumlah drone tempur India disebut masih terbatas, rencana akuisisi 31 drone MQ-9B Predator dari Amerika Serikat senilai 4 miliar dollar AS diyakini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan serang jarak jauh India. India juga tengah mengembangkan taktik “swarm drone” atau serangan gerombolan drone kecil untuk membanjiri sistem pertahanan musuh.
Sementara itu, Pakistan disebut memiliki armada drone yang “ekstensif dan beragam” dengan lebih dari seribu unit dari dalam negeri maupun impor. Model yang digunakan mencakup buatan China (CH-4), Turki (Bayraktar Akinci), serta produksi lokal seperti Burraq dan Shahpar. Selain itu, militer Pakistan telah aktif mengintegrasikan drone ke dalam operasi mereka selama hampir satu dekade. Salah satu konsep yang mereka gunakan adalah “loyal wingman,” yaitu drone pendamping jet tempur berawak.
“Bantuan teknis Israel dalam penyediaan drone seperti Harop dan Heron sangat penting bagi India. Sementara itu, ketergantungan Pakistan pada platform dari Turki dan China menunjukkan adanya perlombaan senjata yang terus berlangsung,” kata Prof Matisek.
Belum se-Intens di Ukraina
Meski terjadi eskalasi, para analis menilai bahwa perang drone antara India dan Pakistan saat ini belum menyamai skala dan intensitas konflik Ukraina-Rusia. Penggunaan drone dalam persaingan kedua negara masih berada dalam tahap yang lebih terbatas dibandingkan di medan perang Eropa. Dalam perang tersebut, ribuan drone digunakan untuk pengintaian dan serangan langsung secara simultan.
“Penggunaan drone dalam konflik ini lebih merupakan pilihan militer berintensitas rendah. Namun, bila ini menjadi awal dari kampanye udara yang lebih luas, kalkulasinya akan sangat berbeda,” ujar Manoj Joshi, analis pertahanan India.
Menurut analis pertahanan Pakistan, Ejaz Haider, aktivitas drone terbaru di Jammu tampak lebih sebagai reaksi taktis ketimbang aksi balasan penuh. “Serangan balasan yang sesungguhnya akan melibatkan banyak platform—baik berawak maupun tidak—untuk menunjukkan dampak yang menentukan.”
Namun, semua pihak sepakat bahwa penggunaan drone telah menurunkan ambang batas politis dan operasional dalam melakukan serangan. Hal ini membuka opsi aksi militer yang lebih cepat, tetapi dengan risiko eskalasi yang lebih besar.
“Setiap drone yang dijatuhkan, setiap radar yang dibutakan, bisa menjadi pemicu ketegangan baru dalam lanskap hubungan India-Pakistan yang sudah rapuh,” tutup Prof Matisek.