Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Korea Selatan Hentikan Siaran Pengeras Suara ke Korea Utara

badge-check


					Pengeras suara yang menyiarkan propaganda melintasi perbatasan Korsel dan Korut. (foto: Getty Images) Perbesar

Pengeras suara yang menyiarkan propaganda melintasi perbatasan Korsel dan Korut. (foto: Getty Images)

Seoul – Militer Korea Selatan resmi menghentikan siaran propaganda melalui pengeras suara di sepanjang perbatasan dengan Korea Utara, dalam langkah yang disebut sebagai bagian dari upaya “memulihkan kepercayaan” antara kedua negara yang masih berselisih sejak Perang Korea.

Keputusan ini diumumkan hanya sepekan setelah Presiden terpilih Lee Jae-myung resmi menjabat. Dalam kampanyenya, Lee berkomitmen memperbaiki hubungan antar-Korea yang sempat memburuk di bawah pemerintahan sebelumnya.

“Langkah ini bertujuan memulihkan kepercayaan dalam hubungan antar-Korea dan mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea,” demikian pernyataan militer Korea Selatan, Selasa (10/6/2025).

Dari Perang Balon ke Perang Pengeras Suara

Siaran propaganda dari Selatan sempat dihentikan selama enam tahun, namun kembali diaktifkan pada Juni 2024. Kebijakan itu diambil setelah Korea Utara mengirimkan balon-balon berisi sampah melintasi perbatasan sebagai bagian dari perang psikologis.

Balon-balon berisi sampah yang berasal dari Korea Utara. (foto: Skynews)

Isi siaran mencakup berita dari kedua Korea, kabar internasional, serta informasi tentang kehidupan dan demokrasi di Korea Selatan. Pyongyang menyebut siaran itu sebagai tindakan permusuhan dan bahkan mengancam akan menghancurkan pengeras suara tersebut.

Namun kini, dengan tidak adanya lagi balon dari Utara, serta pergeseran pendekatan pemerintah yang baru, siaran tersebut kembali dihentikan — meskipun hanya bersifat sementara. “Siaran dapat kembali diaktifkan jika dibutuhkan,” tulis kantor berita Yonhap.

Reaksi Pro dan Kontra

Keputusan penghentian ini menuai tanggapan beragam. Warga di wilayah perbatasan seperti Ganghwa menyambut baik langkah tersebut. Mereka mengaku terganggu dengan suara keras yang terdengar hingga larut malam dari kedua sisi perbatasan.

“Kami berharap keputusan ini akan mengakhiri perang psikologis berbasis kebisingan dari Korea Utara, sehingga warga kami dapat kembali menjalani kehidupan normal,” tulis pernyataan resmi Pemerintah Kabupaten Ganghwa.

Namun, kelompok advokasi hak asasi manusia Korea Utara mengkritik kebijakan tersebut. Mereka menilai siaran tersebut sebagai salah satu jendela informasi penting bagi warga Korea Utara yang hidup dalam keterisolasian.

“Pengeras suara adalah pengingat bagi rakyat Korea Utara bahwa mereka tidak dilupakan,” ujar Hana Song, Direktur Eksekutif Database Center for North Korean Human Rights yang berbasis di Seoul. “Mematikannya sama saja dengan menguatkan isolasi yang dilakukan oleh rezim Kim Jong Un.”

Perubahan Sikap Pemerintah Baru

Hubungan antar-Korea memburuk selama masa pemerintahan Presiden Yoon Suk Yeol, yang dikenal bersikap keras terhadap Pyongyang. Yoon kemudian dimakzulkan setelah memberlakukan darurat militer pada Desember tahun lalu, dengan alasan ancaman dari “kekuatan anti-negara” dan simpatisan Korea Utara.

Presiden Lee Jae-myung, yang dikenal lebih moderat, kini mengambil langkah awal dengan membuka jalur komunikasi dan menurunkan tensi politik. Meski masih banyak tantangan ke depan, keputusan ini dianggap sebagai sinyal awal normalisasi hubungan kedua negara. Secara teknis, Korea Utara dan Korea Selatan masih berstatus perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir tanpa perjanjian damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional