Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Pakar PBB Desak Perusahaan Hentikan Bisnis dengan Israel

badge-check


					Francesca Albanese. (foto: AFP/Fabrice Coffrini) Perbesar

Francesca Albanese. (foto: AFP/Fabrice Coffrini)

Jenewa – Seorang pakar hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan kepada puluhan perusahaan multinasional agar segera menghentikan bisnis mereka dengan Israel. Ia memperingatkan bahwa keterlibatan mereka berisiko membuat mereka ikut andil dalam kejahatan perang yang tengah berlangsung di Gaza dan Tepi Barat.

Francesca Albanese menyampaikan laporannya kepada Dewan HAM PBB pada Kamis (3/7/2025).  Dalam laporannya, ia menggambarkan adanya “ekonomi genosida”, di mana konflik Palestina menjadi ajang uji coba—tanpa pertanggungjawaban atau pengawasan—untuk senjata dan teknologi baru.

“Israel sedang melakukan salah satu genosida paling kejam dalam sejarah modern,” tegas Albanese. Ia juga menegaskan bahwa bisnis internasional yang turut mendukung operasi militer Israel di Gaza bisa dianggap ikut berkontribusi dalam aksi kejahatan tersebut.

Daftar Perusahaan yang Terlibat

Laporan Albanese menyebut nama-nama perusahaan besar, seperti produsen senjata Lockheed Martin yang menjual senjata ke Israel. Perusahaan teknologi seperti Alphabet (induk Google), IBM, Microsoft, dan Amazon karena menyediakan teknologi yang memungkinkan Israel melacak dan menargetkan warga Palestina.

Ia juga mencantumkan perusahaan seperti Caterpillar, Hyundai, dan Volvo, yang telah memasok kendaraan berat untuk menghancurkan rumah dan meratakan pemukiman.

Albanese juga mengklaim bank BNP Paribas dan Barclays telah menjamin obligasi negara Israel sepanjang konflik tersebut.

Beberapa perusahaan menanggapi tuduhan tersebut. Lockheed Martin menyatakan bahwa penjualan militer dilakukan antar pemerintah dan sebaiknya ditanyakan langsung ke Pemerintah AS. Volvo menolak klaim Albanese dengan menyebut bahwa informasi dalam laporan tersebut tidak akurat, dan menegaskan komitmennya terhadap HAM.

Lebih jauh, laporan itu menyebut bahwa bisnis dengan Israel sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan tersebut, serta turut membantu Israel melanjutkan perang. Albanese menyatakan bahwa semua perusahaan tersebut harus segera menghentikan kerja sama dengan Israel.

Tiru Perlawanan Era Apartheid

Dengan menyebut nama-nama perusahaan ternama, Albanese tampaknya ingin meniru strategi global yang pernah digunakan untuk menekan rezim apartheid di Afrika Selatan. Strategi tersebut dilakukan melalui tekanan ekonomi dan disinvestasi massal.

Meski laporan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum, dampaknya bisa signifikan di tingkat opini publik dan pasar konsumen global. Apalagi, tuduhan keterlibatan dalam potensi genosida menjadi sorotan serius yang bisa berdampak hukum.

Laporan Albanese juga mendefinisikan soal “komplikasi dalam genosida”. Menurut definisi, keterlibatan dapat terjadi ketika suatu entitas melakukan tindakan yang hasilnya berkontribusi pada genosida, meski tanpa niat untuk melakukannya. Mahkamah Internasional kini juga tengah memeriksa kasus serupa atas gugatan dari Afrika Selatan terhadap Israel.

Reaksi Terpecah

Israel menolak laporan tersebut sebagai “tak berdasar, fitnah, dan penyalahgunaan jabatan.” Pemerintah Israel juga menuding Francesca Albanese bersikap bias dan antisemit.

Meski begitu, sebagian besar negara anggota PBB dari kawasan Afrika, Asia, dan Timur Tengah menyambut positif laporan tersebut. Mereka mendukung seruan untuk disinvestasi dan menganggap genosida memang sedang berlangsung. Beberapa negara Eropa juga mengkritik pemblokiran bantuan ke Gaza dan menekankan kewajiban Israel untuk memastikan keselamatan warga Palestina.

Sementara itu, Amerika Serikat, sekutu utama Israel, keluar dari Dewan HAM PBB sejak masa kepresidenan Donald Trump. Pemerintah AS menyebut laporan Albanese sebagai “kampanye politik dan ekonomi yang tak dapat diterima terhadap perekonomian Amerika dan global.”

Meskipun pemerintah AS tampaknya tidak akan mengubah kebijakannya, tekanan terhadap perusahaan-perusahaan AS yang tercantum dalam laporan ini bisa meningkat. Tekanan tersebut terutama datang dari konsumen dan pemerintah di negara-negara lain tempat perusahaan-perusahaan itu beroperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional