Srinagar – Pasukan bersenjata India, dibantu militer, menyisir rumah-rumah warga dan kawasan hutan di Kashmir, Jumat (25/4/2025), paska serangan militan di kawasan wisata Pahalgam yang menewaskan 26 orang. Ini menjadi serangan terhadap warga sipil paling mematikan dalam hampir dua dekade terakhir.
Panglima Angkatan Darat India, Jenderal Upendra Dwivedi, mengunjungi Srinagar, ibu kota Kashmir India, untuk meninjau kondisi keamanan. Pemerintah India menuding adanya unsur Pakistan dalam serangan tersebut, tuduhan yang kemudian dibantah oleh Islamabad.
Serangan yang terjadi pada Selasa lalu itu memicu gelombang kemarahan nasional. Perdana Menteri India, Narendra Modi, berjanji memburu pelaku hingga ke “ujung dunia.” Para korban, menurut Modi, berasal dari berbagai penjuru India.
Ketegangan antara India dan Pakistan—dua negara bersenjata nuklir—semakin meningkat. India menangguhkan perjanjian penting tentang pembagian air, Indus Waters Treaty, yang telah berlangsung sejak 1960. Sebagai tanggapan, Pakistan menutup wilayah udaranya bagi penerbangan India, memicu gangguan pada rute-rute internasional.
Menteri Sumber Daya Air India, C.R. Paatil, menegaskan tekad pemerintah untuk menghentikan aliran air Sungai Indus ke Pakistan. “Kami akan memastikan tidak ada satu tetes pun air Sungai Indus yang mengalir ke Pakistan,” ujarnya melalui media sosial X.
Pakistan yang sangat bergantung pada Sungai Indus untuk irigasi dan pembangkit listrik tenaga air, memperingatkan bahwa setiap upaya pengalihan aliran sungai akan dianggap sebagai “tindakan perang.”
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyerukan ketenangan, menyatakan bahwa India dan Pakistan “akan menemukan jalan keluar”. Meski mengakui bahwa serangan tersebut adalah “kejadian buruk.”
Di sektor ekonomi, pasar keuangan India sempat terguncang, dengan indeks saham utama ditutup melemah 0,7 hingga 0,9 persen. Nilai tukar rupee India turun 0,2 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah naik empat basis poin.

Rumah keluarga Asif Sheikh, seorang terduga pelaku dalam serangan militan di Kashmir, telah dihancurkan oleh pihak berwenang India di desa Monghama, Tral, Kashmir Selatan, pada 25 April 2025.
Seruan Balas Dendam
Beberapa politisi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India mendesak pemerintah untuk melancarkan aksi militer terhadap Pakistan. Pada 2019, India pernah melakukan serangan udara ke wilayah Pakistan sebagai balasan atas pemboman bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 40 personel paramiliter di Kashmir.
Polisi Kashmir mengidentifikasi tiga tersangka terkait serangan di Pahalgam, dua di antaranya merupakan warga negara Pakistan. Aparat juga telah merobohkan rumah dua tersangka militan, salah satunya terlibat langsung dalam serangan ini.
Penggunaan “keadilan buldoser” —praktik merobohkan bangunan milik terduga pelaku kejahatan—semakin marak di negara-negara bagian yang dikuasai BJP, memicu kekhawatiran diskriminasi terhadap minoritas Muslim.
Di tengah ketegangan, terjadi pula insiden baku tembak sporadis di sepanjang Garis Kontrol (LoC) yang memisahkan wilayah Kashmir yang dikuasai India dan Pakistan.