New York, 13 Agustus 2025 – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Selasa (12/8/2025) mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Rusia terkait dugaan pola kekerasan seksual yang dilakukan aparat bersenjata dan keamanan kedua negara. Guterres menyampaikan peringatan ini melalui laporan tahunannya kepada Dewan Keamanan PBB mengenai kekerasan seksual dalam konflik.
Dalam laporan tersebut, PBB mengungkap adanya “kekhawatiran signifikan” terkait bentuk-bentuk kekerasan seksual yang terdokumentasi secara konsisten lebih jauh. Termasuk kekerasan terhadap alat kelamin, pemaksaan tahanan untuk telanjang dalam waktu lama, serta penggeledahan telanjang yang kasar dan merendahkan martabat.
Israel Bantah Tuduhan
Guterres memperingatkan Israel dan Rusia bahwa tahun depan mereka kemungkinan akan dimasukkan dalam daftar pihak yang diduga secara kredibel melakukan atau bertanggung jawab atas pola pemerkosaan atau bentuk kekerasan seksual lain.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menolak tuduhan tersebut. “PBB harus fokus pada kejahatan perang dan kekerasan seksual yang dilakukan Hamas serta pembebasan semua sandera. Israel akan terus melindungi warganya dan bertindak sesuai hukum internasional,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.
Sementara itu, kelompok militan Hamas sudah masuk dalam daftar pihak yang diduga melakukan kekerasan seksual dalam laporan Guterres tahun ini. Pejabat senior Hamas, Basem Naim, membantah keras tuduhan tersebut. Ia menyebutnya sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari “kejahatan brutal” Israel di Gaza.
Dugaan Pelanggaran di Penjara
Dalam peringatannya kepada Israel, Guterres menyebut adanya “informasi kredibel” mengenai pelanggaran yang dilakukan aparat keamanan Israel terhadap warga Palestina di beberapa penjara, pusat penahanan, dan pangkalan militer. Bukti yang dikumpulkan PBB menunjukkan pola kekerasan seksual yang mengkhawatirkan. Bentuk-bentuknya mencakup kekerasan terhadap alat kelamin, pemaksaan telanjang berkepanjangan, dan penggeledahan telanjang berulang kali yang dinilai menghina martabat korban.
Laporan itu juga menyoroti dugaan pelanggaran oleh pasukan bersenjata Rusia dan kelompok bersenjata afiliasinya terhadap tawanan perang Ukraina. PBB mencatat setidaknya 72 fasilitas penahanan resmi dan tidak resmi di Ukraina dan Rusia yang menjadi lokasi dugaan kekerasan seksual.
Bentuk pelanggaran yang dilaporkan meliputi penyetruman, pemukulan, pembakaran alat kelamin, serta pemaksaan telanjang untuk tujuan penghinaan dan memperoleh pengakuan atau informasi.