AUSTIN, 21 September 2026 — Petugas Imigrasi Amerika Serikat atau Immigration and Customs Enforcement (ICE) tembak seorang warga di Austin, Texas, Amerika Serikat, Minggu (20/9) waktu setempat. Warga berjenis kelamin pria tersebut mengalami luka tembak dan kini menjalani perawatan di rumah sakit. Pemerintah Kota Austin menyebut kondisinya serius tetapi stabil.
Penembakan terjadi di wilayah utara Austin setelah petugas ICE melakukan razia kendaraan bermotor atau traffic stop. Kepolisian Austin memastikan tidak ada anggotanya yang terlibat dalam operasi maupun penembakan tersebut. Kepala Kepolisian Austin Lisa Davis mengatakan, pihaknya masih memiliki informasi terbatas karena insiden baru terjadi. Namun, unit investigasi khusus kepolisian telah berada di lokasi untuk melakukan penanganan awal.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS atau Department of Homeland Security (DHS), lembaga yang membawahi ICE, tidak hadir dalam konferensi pers pemerintah kota. Permintaan keterangan mengenai penembakan tersebut juga belum mendapat tanggapan.
Wali Kota Austin Minta Polisi Ikut Investigasi
Wali Kota Austin Kirk Watson meminta kepolisian setempat dilibatkan dalam penyelidikan kasus tersebut. Watson mengatakan pentingnya keterlibatan polisi Austin agar proses investigasi memiliki perspektif independen dan dapat memberikan kejelasan kepada masyarakat.
Menurut dia, penyelidikan tidak semestinya dilakukan oleh ICE sendiri. “Warga Austin memiliki hak untuk merasa aman di kota mereka,” kata Watson dalam konferensi pers.
Watson juga berharap petugas federal yang terlibat dalam penembakan tetap berada di Austin selama proses penyelidikan berlangsung. “Kami tidak mengetahui keberadaannya. Namun, harapan saya, agen yang terlibat dalam penembakan oleh aparat tidak meninggalkan kota, terlebih meninggalkan negara bagian,” ujar Watson.
Pria yang Ditembak Disebut Warga Venezuela
Pengacara imigrasi yang mewakili keluarga korban mengidentifikasi pria tersebut sebagai Wilber Rafael Garces Perez, warga Venezuela berusia 28 tahun. Pengacara yang bernama Kate Lincoln Goldfinch itu mengatakan, berdasarkan informasi yang diketahuinya, Garces Perez tidak memiliki riwayat kriminal.
Namun, kepada media, Goldfinch mengakui belum mengetahui secara pasti status keimigrasian Garces Perez saat ini.
Keluarga Garces Perez sendiri juga mengalami kesulitan memperoleh informasi mengenai kondisi dan keberadaan pria tersebut di rumah sakit. Menjelang pukul 19.00 waktu setempat, istri Garces Perez baru mendapat informasi dari pengacara rumah sakit bahwa suaminya telah diserahkan ke dalam tahanan ICE beberapa jam sebelumnya.
Belum diketahui apakah Garces Perez masih menjalani perawatan di rumah sakit ketika berada dalam tahanan ICE atau telah dipindahkan ke lokasi lain.
Polisi Texas Tiba Setelah Penembakan
Departemen Keamanan Publik Texas atau Texas Department of Public Safety (DPS) mengatakan, pihaknya menerima permintaan bantuan dari ICE terkait pengejaran kendaraan sekitar pukul 12.50 waktu setempat.
Namun, ketika petugas DPS tiba di lokasi, penembakan telah terjadi. Kepolisian Austin kemudian melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.
Sebuah Toyota Corolla berwarna biru tua terlihat berada di bawah jalan layang dengan kerusakan pada bagian pintu sisi penumpang dan tanda yang tampak seperti lubang peluru. Kendaraan tersebut kemudian di derek pada Minggu sore. Arus lalu lintas di sekitar lokasi kembali lancar setelah proses penanganan selesai.
Ratusan Orang Gelar Protes
Penembakan tersebut segera menarik perhatian warga dan kelompok yang menentang operasi ICE. Sekitar 100 orang berkumpul di lokasi kejadian. Sejumlah demonstran meneriakkan kecaman kepada aparat yang berjaga dengan menggunakan tameng antihuru-hara.
Bahkan, sebagian pengendara yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut. Salah satu demonstran membawa poster bertuliskan “Nobody is safe” di satu sisi dan “ICE Nazi” di sisi lainnya.
Kantor Jaksa Wilayah Travis County José Pompa Garza juga meminta agar aparat penegak hukum dan jaksa setempat dilibatkan dalam penyelidikan. “Kami juga meminta kerja sama pemerintah federal untuk memberikan akses terhadap bukti-bukti,” demikian pernyataan kantor jaksa tersebut.
Anggota DPR AS yang mewakili sebagian wilayah Austin, Greg Casar, turut menyerukan transparansi dalam proses penyelidikan.
Penindakan ICE Meningkat
Penembakan di Austin terjadi ketika ICE meningkatkan operasi penegakan hukum imigrasi di berbagai wilayah Amerika Serikat. Pada Juli dan Agustus 2026, jumlah penangkapan oleh ICE telah melampaui 50.000 orang per bulan untuk pertama kalinya dalam sejarah lembaga tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah insiden penembakan yang melibatkan petugas ICE juga terjadi di berbagai wilayah AS.
Pada Juli 2026, seorang petugas ICE menembak hingga tewas Lorenzo Salgado Araujo, 52 tahun, di Houston. Insiden itu terjadi setelah agen federal yang menggunakan kendaraan tanpa pengenal yang jelas mengejar Araujo ketika ia sedang membawa pekerja konstruksi menuju lokasi kerja.
Pada bulan yang sama, seorang pria Kolombia berusia 25 tahun, Johan Sebastián, di tembak oleh petugas ICE di Maine.
Peningkatan operasi penegakan imigrasi pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga mendapat sorotan dan kritik dari sejumlah pihak. Sebelumnya, pada musim dingin lalu, kebijakan penegakan imigrasi pemerintah federal mendapat kecaman luas menyusul kematian Alex Pretti dan Renee Good di Minnesota.
Penyelidikan terhadap penembakan di Austin kini menjadi perhatian pemerintah kota, aparat penegak hukum lokal, serta otoritas federal untuk memastikan kronologi dan keadaan yang melatarbelakangi penggunaan senjata oleh petugas ICE.










