Tokyo – Suhu panas ekstrem, hingga 41,8 derajat Celcius yang melanda sejumlah daerah penghasil beras di Jepang memicu ledakan populasi wereng (stink bugs). Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional. Pemerintah Jepang pun bergerak cepat dengan menerapkan kebijakan baru untuk meningkatkan produksi beras, yang resmi diumumkan Selasa (5/8/2025).
Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa menunggu lebih lama untuk bertindak. “Kita harus bergerak cepat dan dengan rasa krisis untuk mencegah kerusakan yang lebih luas akibat suhu tinggi,” ujar Koizumi dalam konferensi pers di Tokyo.
Menurutnya, pemerintah akan memberikan dukungan langsung kepada petani dalam bentuk bantuan pengendalian hama. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program penanganan kekeringan yang semakin parah di musim tanam ini.
Krisis Beras Tahun Lalu Jadi Pelajaran
Sebelumnya, gelombang panas juga pernah terjadi pada 2023 yang berakibat merusak kualitas panen beras secara signifikan. Ketidaksesuaian antara suplai dan permintaan yang gagal diprediksi pemerintah memperburuk situasi. Akibatnya, Jepang mengalami kekurangan beras dalam skala besar dan harga komoditas pokok itu melonjak ke rekor tertinggi dalam sejarah.
“Ini bukan hanya soal pertanian, ini menyangkut stabilitas nasional,” tambah Koizumi.
Langkah terbaru ini mencakup peningkatan produksi melalui optimalisasi varietas tahan panas dan pemberian insentif bagi petani. Selain itu, pemerintah juga mendorong modernisasi sistem irigasi untuk mengurangi risiko gagal panen.
Ancaman Serangga dan Perubahan Iklim
Kehadiran wereng dalam jumlah besar menjadi indikator baru dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan. Hama ini berkembang pesat di tengah suhu tinggi dan kelembaban tinggi, merusak tanaman padi yang belum dipanen.
Ahli pertanian dari Universitas Tokyo, Prof. Keisuke Nakamura, menjelaskan bahwa populasi wereng biasanya bisa dikendalikan secara alami, tetapi cuaca ekstrem telah mengganggu keseimbangan ekosistem. “Jika tidak ditangani segera, ancaman hama ini bisa berdampak pada keamanan pangan nasional,” ujarnya.