Menu

Otomatis
Breaking News

Internasional

Erdogan Kecam Aksi Protes atas Penahanan Wali Kota Istanbul

badge-check

Demo Warga Turki Perbesar

Demo Warga Turki

Ankara – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menilai bahwa aksi protes yang terjadi akibat penahanan Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, telah berubah menjadi “gerakan kekerasan.” Ia menegaskan bahwa Partai Republik Rakyat (CHP), oposisi utama pemerintah, akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan dan luka-luka yang dialami aparat keamanan.

Penahanan Imamoglu pada Rabu (20/3/2025) lalu telah memicu gelombang unjuk rasa terbesar di Turki dalam lebih dari satu dekade. Pada Minggu (24/3/2025), pengadilan menahannya dengan status terdakwa dalam kasus korupsi, tuduhan yang ia bantah.

Pihak oposisi dan para pendukungnya menilai bahwa kasus yang menjerat Imamoglu bermuatan politik dan tidak mencerminkan prinsip demokrasi. Namun, pemerintah Erdogan membantah tuduhan tersebut.

Meskipun pemerintah telah memberlakukan larangan berkumpul di sejumlah kota, aksi protes tetap berlanjut hingga malam kelima pada Minggu, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan. Ketua CHP, Ozgur Ozel, bahkan menyerukan agar demonstrasi nasional terus berlanjut.

“Gerakan Kekerasan”

Berbicara dalam konferensi pers usai rapat kabinet di Ankara, Erdogan meminta CHP menghentikan tindakan yang dinilainya sebagai provokasi terhadap warga.

“Sebagai bangsa, kita menyaksikan dengan heran bagaimana peristiwa yang dipicu oleh seruan pemimpin oposisi untuk turun ke jalan berubah menjadi gerakan kekerasan,” ujar Erdogan, yang kini berusia 71 tahun.

“Pihak oposisi bertanggung jawab atas polisi yang terluka, jendela toko yang pecah, serta kerusakan properti publik. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban, baik secara politik di parlemen maupun secara hukum di pengadilan,” tambahnya.

Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, sebelumnya juga menuding bahwa beberapa pengunjuk rasa telah “meneror” jalanan dan mengancam stabilitas nasional. Menurutnya, sebanyak 1.133 orang telah ditahan selama lima hari aksi, sementara 123 polisi dilaporkan mengalami luka-luka.

CHP mengirimkan delegasi untuk bertemu dengan Gubernur Istanbul guna membahas kekerasan aparat terhadap demonstran. Ketua CHP Istanbul, Ozgur Celik, menyebut bahwa tindakan represif aparat pada Minggu malam merupakan yang paling brutal sejauh ini, dengan banyak demonstran dilarikan ke rumah sakit.

Penahanan yang Kontroversial

Imamoglu, 54, ditahan pada hari yang sama dengan pemilihan internal CHP untuk menentukan calon presiden partai. Dalam pemungutan suara, sekitar 15 juta orang memberikan dukungan kepada wali kota tersebut.

Berita penahanannya mendominasi halaman depan surat kabar di Turki. Media oposisi menilai bahwa Imamoglu dipenjara bukan karena kasus korupsi, melainkan karena dirinya dianggap sebagai pesaing terkuat Erdogan dalam politik nasional.

Banyak warga yang mengecam langkah pemerintah terhadap Imamoglu. “Saya yakin ada ketidakadilan yang dilakukan terhadap Imamoglu. Mereka menahannya tanpa alasan yang jelas,” ujar Adem Bali, seorang pekerja konstruksi berusia 22 tahun.

Erdogan, yang telah memimpin Turki selama lebih dari dua dekade, menyatakan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa CHP tidak mampu mengelola pemerintahan daerah, apalagi negara.

Di tengah gejolak politik ini, Erdogan juga berupaya menenangkan investor yang panik setelah penahanan Imamoglu, yang menyebabkan anjloknya pasar saham, obligasi, dan nilai tukar lira pekan lalu. Bank sentral Turki bahkan harus melakukan intervensi dengan menjual cadangan devisa untuk menstabilkan pasar.

“Prioritas utama kami adalah menjaga stabilitas makroekonomi. Kementerian Keuangan, bank sentral, dan seluruh lembaga terkait bekerja siang dan malam dengan koordinasi penuh untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” ujar Erdogan.

Setelah anjlok hingga 16,6 persen pekan lalu—penurunan terbesar sejak krisis keuangan global 2008—indeks saham utama Istanbul mengalami sedikit pemulihan pada Senin.

Analis memprediksi ketidakpastian politik akan berlangsung lama. “Protes ini menjadi reaksi publik terbesar dalam lebih dari satu dekade, sehingga sulit untuk memprediksi arah situasi politik di Turki ke depan,” ujar Wolfango Piccoli, co-presiden konsultan politik Teneo.

Ia menambahkan bahwa “agenda politik Erdogan sekali lagi telah memberikan dampak serius terhadap prospek ekonomi Turki.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Australia Perketat Visa Pelajar Asing, Mahasiswa Terancam Tak Bisa Bawa Keluarga

17 Sep 2026 - 09:56 WIB

Australia Perketat Visa Pelajar Asing, Mahasiswa Terancam Tak Bisa Bawa Keluarga

Mahkamah Agung AS Pertahankan Pemungutan Suara Lewat Pos

15 Sep 2026 - 09:29 WIB

Mahkamah Agung AS Pertahankan Pemungutan Suara Lewat Pos

Trump Desak Zelenskyy Hentikan Serangan ke Kilang Minyak Rusia

14 Sep 2026 - 09:54 WIB

Trump Desak Zelenskyy Hentikan Serangan ke Kilang Minyak Rusia

Gelombang Panas Membuat Anggur Perancis Lebih Memabukkan

12 Sep 2026 - 21:19 WIB

Gelombang Panas Membuat Anggur Perancis Lebih Memabukkan

Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Minyak Utama Usai Diserang Drone

12 Sep 2026 - 20:39 WIB

Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Minyak Utama Usai Diserang Drone
Trending di Internasional