NEW YORK, 22 September 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump ancam akan lenyapkan Iran dari muka bumi jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Ancaman itu disampaikan Trump dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (22/9).
“Akankah ada kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar daripada sebelumnya?” kata Trump. “Atau apakah saya lenyapkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk kembali membunuh dan menghancurkan orang serta negara?”
Namun, Trump mengatakan dirinya masih meyakini kesepakatan dengan Iran dapat tercapai. Menurut dia, kemungkinan tersebut akan muncul setelah pemilihan umum sela AS pada November.
Pernyataan itu mencerminkan pendekatan diplomasi koersif yang selama ini digunakan pemerintahan Trump, yakni mempertahankan jalur negosiasi sambil menebarkan ancaman penggunaan kekuatan militer.
Pertemuan AS-Iran
Pidato Trump berlangsung di tengah aktivitas diplomatik tingkat tinggi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa pejabat Amerika Serikat telah menggelar pertemuan selama tiga jam dengan delegasi Iran. Ia menyebut pertemuan tersebut “sangat produktif”.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff. Tidak ada komentar langsung dari pejabat di Teheran mengenai hasil pertemuan tersebut.
Dalam pidatonya, Trump banyak menghabiskan waktu untuk membenarkan tindakan militer terhadap Iran. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus menjadi salah satu isu yang memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya.
Trump mengatakan konflik tersebut telah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia juga kembali menekankan konsep “peace through strength” atau perdamaian melalui kekuatan. Menurut Trump, tekanan militer dan ancaman penggunaan kekuatan merupakan bagian penting untuk memaksa lawan mencapai kesepakatan.
Trump Janjikan Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Selain Iran, perang Rusia-Ukraina juga menjadi bagian dari pidato Trump. Trump mengatakan pemerintahannya terus berkomunikasi dengan pemimpin Rusia dan Ukraina. Ia kembali menyatakan keyakinannya bahwa perang tersebut dapat diakhiri melalui diplomasi.
“Kami bekerja sangat dekat dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina, dan kami akan menyelesaikannya,” ujar Trump. “Itu akan terjadi, menurut saya, lebih cepat daripada yang dipahami orang.”
Pernyataan tersebut muncul ketika perang Rusia-Ukraina masih berlangsung sampai hari ini. Kedua negara terus melakukan serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah masing-masing.
Sejak awal menjabat di periode keduanya, Trump telah menjadikan upaya mengakhiri perang Rusia Ukraina sebagai salah satu agenda utama kebijakan luar negerinya.
Singgung AI dan Persaingan dengan China
Dalam pidatonya, Trump juga membahas perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan menyerahkan keunggulannya dalam teknologi AI kepada China.
Ia juga menolak kekhawatiran berlebihan mengenai perkembangan AI dan menyebut teknologi tersebut lebih tepat di sebut sebagai “super intelligence”. “Penggunaan kata artificial membuatnya terdengar palsu. Ini bukan palsu, ini sebenarnya luar biasa. Tetapi kita harus berhati-hati,” katanya.
Trump memperingatkan agar kekhawatiran terhadap AI tidak digunakan sebagai alasan untuk membatasi perkembangan teknologi tersebut melalui apa yang disebutnya sebagai agenda globalis.
Kesepakatan AS-Denmark soal Greenland
Di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, Trump juga menandatangani kesepakatan dengan pemimpin Denmark dan Greenland terkait peningkatan kehadiran militer AS di pulau tersebut. Kesepakatan itu kembali menegaskan kedaulatan Greenland sebagai wilayah otonom Denmark. Namun, pada saat yang sama, Amerika Serikat memperoleh akses luas terhadap wilayah udara dan teritorial Greenland.
Trump juga melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, serta para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Trump Kritik PBB
Pidato Trump juga memperlihatkan perbedaan tajam dengan pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dalam pidato perpisahannya sebagai Sekretaris Jenderal PBB, Guterres memperingatkan bahwa perpecahan dunia semakin melebar akibat persaingan geopolitik, perang, perubahan iklim, dan perkembangan AI.
“Retakan di dunia kita semakin melebar,” kata Guterres. Ia juga meminta negara-negara besar menyadari bahwa kekuatan mereka memiliki batas.
Sebaliknya, Trump mengkritik keras institusi internasional dan menuduh PBB menjalankan agenda “kiri jauh” yang digerakkan birokrat globalis yang tidak dipilih oleh rakyat.
Trump menegaskan pentingnya kedaulatan nasional dan kekuatan militer Amerika Serikat. “Tidak ada pemerintahan global,” kata Trump. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan ancaman berkembang di wilayah Belahan Barat.
“Jika diperlukan, kami akan menggunakan kekuatan militer kami yang tak tertandingi untuk mengamankan kepentingan nasional vital Amerika Serikat,” ujarnya.
Delegasi Kuba Tinggalkan Ruangan
Trump juga mengarahkan kritiknya kepada Kuba. Ia menuduh pemerintahan komunis Kuba membangun hubungan dengan kelompok-kelompok sayap kiri di Amerika Serikat, termasuk Communist Party USA, Antifa, dan Democratic Socialists of America. Trump juga menyebut Kuba sebagai “negara gagal”.
Delegasi Kuba tampak meninggalkan ruang sidang ketika Trump mulai mengkritik pemerintah negara tersebut.











