KYIV, 15 Oktober 2026 – Kecepatan drone Ukraina di medan tempur tiba-tiba melambat akibat pembatasan mendadak terhadap penggunaan perangkat komunikasi Starlink buatan Amerika Serikat (AS). Para pejabat setempat mengungkapkan masalah ini pada Rabu (14/10), tepat ketika ibu kota kembali mendapat gempuran serangan rudal selama dua malam berturut-turut.
Pada saat yang sama, Ukraina mengaku tidak menerima peringatan dini seperti biasanya dari mitra Barat terkait serangan rudal balistik Rusia ke Kyiv.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa dukungan militer dan intelijen dari Washington mulai berkurang di tengah memburuknya hubungan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Serangan Rusia ke ibu kota Ukraina berlangsung selama dua malam berturut-turut. Kepolisian Kyiv melaporkan lima orang tewas dan 36 lainnya terluka dalam serangan yang berlangsung sejak Selasa malam hingga Rabu pagi.
Zelenskyy tidak menyebutkan secara spesifik negara mitra Barat yang tidak memberikan peringatan dini. Sementara itu, Trump menyatakan bahwa AS tidak menghentikan pembagian informasi intelijen dengan Ukraina.
Pembatasan Starlink Ganggu Operasi Drone
Serhii Beskrestnov, penasihat Zelenskyy, mengatakan perusahaan SpaceX milik Elon Musk menerapkan pembatasan kecepatan pada terminal Starlink yang dipasang pada drone Ukraina.
Pembatasan tersebut mengganggu operasi militer, termasuk penggunaan drone serang. Kecepatan yang lebih rendah membuat drone Ukraina lebih mudah menjadi sasaran pertahanan Rusia.
Pada Rabu, Zelenskyy mengatakan operator drone mulai melaporkan peningkatan koneksi data dengan kecepatan hingga 161 kilometer per jam. Namun, seorang pejabat Ukraina menyebut kecepatan itu masih terlalu rendah untuk mencegat drone Rusia bertenaga jet. Ukraina membutuhkan pencabutan seluruh pembatasan tersebut.
Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim karena membahas informasi militer yang sensitif.
Musk mengatakan melalui platform X bahwa Starlink versi militer dalam kendali penuh militer AS dan Trump. Pentagon dan Angkatan Antariksa AS belum menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan pembatasan layanan komunikasi satelit di Ukraina.
Starlink merupakan perangkat penting bagi militer Ukraina, baik untuk operasi ofensif maupun defensif. Sistem ini digunakan dalam misi drone jarak jauh, sistem pertahanan udara pencegat, hingga mendukung logistik di garis depan.
Beskrestnov menilai pembatasan tersebut tidak terjadi secara kebetulan dan berkaitan dengan situasi politik saat ini, meskipun ia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Gedung Putih belum memberikan komentar langsung mengenai persoalan tersebut.
Ukraina Khawatir Dukungan Intelijen AS Melemah
Kekhawatiran Kyiv meningkat setelah Ukraina mengaku tidak memperoleh peringatan dini mengenai gelombang pertama serangan rudal balistik Rusia pada Selasa malam.
Juru bicara Angkatan Udara Ukraina, Yurii Ihnat, mengatakan Kyiv baru menerima peringatan untuk tiga gelombang serangan rudal berikutnya.
Meski demikian, seorang anggota Komite Pertahanan parlemen Ukraina mengatakan pertukaran intelijen dengan mitra internasional belum dihentikan. Ia juga berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada pers.
Ketidakpastian mengenai arah dukungan Washington mencuat setelah Trump menjalin kesepakatan impor solar dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Langkah tersebut diambil tepat di tengah gencarnya upaya komunitas internasional menjatuhkan sanksi terhadap Moskow atas invasinya ke Ukraina.
Trump juga melontarkan kritik terhadap Zelenskyy. Pada Sabtu (10/10), ia mengatakan Ukraina sudah waktunya memiliki presiden baru. Trump menilai Zelenskyy belum berbuat cukup untuk mengakhiri perang dan turut menyalahkannya atas tingginya harga solar di AS.
Sejauh ini, upaya Trump untuk menghentikan pertempuran belum menghasilkan kemajuan berarti.
Rusia Terus Menyerang Infrastruktur Energi Ukraina
Zelenskyy pada Rabu mengecam keras serangan udara Rusia yang terus menyasar infrastruktur energi Ukraina. Gempuran tersebut tetap berlanjut meskipun Trump sebelumnya telah mendesak kedua negara untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas vital itu.
“Kami meminta Amerika dan SEMUA pihak di dunia yang tidak menutup mata terhadap kenyataan untuk merespons, dan merespons dengan tegas,” tulis Zelenskyy melalui media sosial. Ia menilai Rusia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk meredakan ketegangan dan memilih melanjutkan perang.
Menurut Zelenskyy, pasukan Rusia menyerang jaringan listrik serta fasilitas minyak dan gas Ukraina selama tiga malam berturut-turut.
Sementara itu, Zelenskyy telah menyetujui penghentian sementara kampanye Ukraina yang selama berbulan-bulan menargetkan kilang minyak Rusia dan menyebabkan kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia.
Namun, Rusia dan Ukraina masih berbeda pandangan mengenai pelaksanaan gencatan senjata terhadap infrastruktur energi. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan rincian kesepakatan tersebut masih dibahas.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukannya telah melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur energi Ukraina. Gempuran tersebut menyasar ibu kota Kyiv dan kawasan di sekitarnya, hingga wilayah Kharkiv di bagian timur laut negara itu. Sebanyak enam pembangkit listrik diklaim menjadi sasaran.
Perdana Menteri Ukraina Serhii Koretskyi mengatakan ketiga pembangkit listrik dan pemanas gabungan di Kyiv terkena serangan. Zelenskyy menyebut sedikitnya 600.000 orang kehilangan pasokan listrik.
Ia juga mengatakan Rusia meluncurkan 39 rudal balistik dan lebih dari 120 drone ke sejumlah infrastruktur energi dan fasilitas lainnya di Kyiv, wilayah Kyiv, serta Kharkiv.
Zelenskyy Minta Dukungan Inggris
Di tengah meningkatnya serangan Rusia, Zelenskyy tiba di London pada Rabu untuk membahas tambahan bantuan militer dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham.
Burnham mengumumkan percepatan pengiriman sistem pertahanan udara buatan Inggris untuk Ukraina. Ia juga menegaskan bahwa dukungan negaranya terhadap Kyiv tidak akan berubah, meskipun mengakui beberapa hari terakhir menjadi periode yang gelap dan sulit bagi Ukraina.
Zelenskyy turut bertemu dengan Raja Charles III di Istana Buckingham.
Para pemimpin Eropa khawatir Rusia memiliki ambisi lebih luas di kawasan tersebut. Mereka juga menuduh Moskow melakukan sabotase sebagai bagian dari perang hibrida dan berupaya mempertahankan dukungan Washington terhadap Ukraina.
Ukraina Klaim Rebut Kembali Wilayah
Di medan perang, Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya dalam penguasaan Rusia di bagian timur negara tersebut.
Komandan Korps Angkatan Darat Ketiga Ukraina, Brigadir Jenderal Andrii Biletskyi, mengklaim pasukannya berhasil membebaskan wilayah seluas 277 kilometer persegi. Capaian teritorial tersebut diraih melalui rangkaian operasi militer yang telah bergulir sejak musim panas lalu.
Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pejabat Rusia juga belum memberikan komentar mengenai pernyataan itu.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pertahanan udaranya menjatuhkan 902 drone Ukraina di sejumlah wilayah Rusia, Semenanjung Krimea serta perairan Laut Azov.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan 493 drone bergerak menuju wilayah ibu kota Rusia. Sebagian besar ditembak jatuh sebelum mendekati kota, sedangkan 180 drone dicegat saat mendekati Moskow. Ia tidak melaporkan kerusakan atau korban jiwa.
Bank milik negara Rusia, Sberbank, juga mengonfirmasi serangan terhadap pusat data mereka di Saratov. Fasilitas tersebut sebelumnya direncanakan menjadi pusat data terbesar di Eropa.
Kantor berita pemerintah Rusia, Tass, mengutip anggota dewan Sberbank yang menyatakan sistem bank tetap beroperasi normal setelah serangan tersebut.
















