Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Ukraina Uji Drone StarGate untuk Evakuasi Prajurit Terluka

badge-check

Seorang pekerja SkyFall memeriksa drone StarGate sebelum uji penerbangan demonstrasi di lokasi yang dirahasiakan di Ukraina. Rabu, 14 Oktober 2026. (AP Photo/Evgeniy Maloletka) Perbesar

Seorang pekerja SkyFall memeriksa drone StarGate sebelum uji penerbangan demonstrasi di lokasi yang dirahasiakan di Ukraina. Rabu, 14 Oktober 2026. (AP Photo/Evgeniy Maloletka)

KYIV, 17 Oktober 2026 – Ukraina mulai menguji drone evakuasi medis StarGate yang dirancang untuk mengangkut prajurit terluka dari medan perang tanpa harus mengirimkan tim penyelamat ke wilayah berbahaya.

Drone buatan perusahaan teknologi pertahanan Ukraina, SkyFall, tersebut dirancang untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses kendaraan darat. Terutama di zona pertempuran yang terus terancam serangan drone dan artileri Rusia.

Pada pekan ini, StarGate diserahkan kepada sebuah brigade tempur untuk menjalani evaluasi dalam kondisi mendekati medan perang sebenarnya. Jika terbukti andal, teknologi ini berpotensi mengubah metode evakuasi korban di garis depan, khususnya bagi prajurit dengan luka parah yang tidak dapat segera dijemput.

Juru bicara SkyFall mengatakan, gagasan pengembangan StarGate muncul langsung dari kebutuhan prajurit di garis depan.

“Gagasan ini datang langsung dari garis depan, dari parit-parit pertahanan,” ujarnya. Ia tidak bersedia disebutkan namanya karena risiko keamanan yang dihadapi personel teknologi militer Ukraina.

Dirancang Menjangkau Zona Berbahaya

Di sejumlah sektor pertempuran, zona pembunuhan atau kill zone—wilayah yang terus berada dalam ancaman drone dan artileri—membentang sejauh 10 hingga 15 kilometer, bahkan lebih.

StarGate memiliki jangkauan satu arah hingga 15 kilometer. Kemampuan tersebut berpotensi memungkinkan drone menjangkau prajurit yang terluka parah dan terjebak jauh di dalam zona berbahaya.

Pengembangan drone ini bermula dari permintaan militer. Tahun lalu, seorang komandan Resimen Serbu Terpisah ke-475 yang dikenal dengan tanda panggilan Code 9.2 menghubungi pendiri SkyFall. Ia meminta perusahaan mengembangkan metode evakuasi korban yang jauh lebih aman dari titik-titik posisi yang sulit dijangkau..

Bagi personel Code 9.2, menjemput prajurit terluka dapat mengharuskan mereka berjalan kaki melewati wilayah yang rawan serangan drone. Kendaraan darat tanpa awak memang semakin banyak digunakan untuk mengevakuasi korban dan mengirimkan perbekalan. Akan tetapi kemampuannya terbatas ketika menghadapi lumpur, kawah ledakan, jalan yang hancur, sungai, ranjau, dan ancaman dari udara.

Seorang komandan Code 9.2 dengan nama panggilan KVN mengatakan, robot darat biasanya membutuhkan waktu dua hingga tiga jam untuk mencapai posisi tertentu. Hal itu bergantung pada jarak, kondisi jalan, dan tingkat ancaman dari udara.

“Menempuh jarak 10 kilometer dalam hitungan menit akan membawa perubahan besar di garis depan,” katanya.

Menurut KVN, evakuasi korban terus dilakukan di wilayah operasi unitnya. Namun, prajurit yang terluka tidak selalu bisa dijemput pada hari yang sama. Bagi mereka yang mengalami cedera parah, keterlambatan tersebut dapat menjadi persoalan hidup dan mati.

Nama kedua komandan tersebut hanya disebut berdasarkan nama panggilan, sesuai protokol militer Ukraina.

Mampu Mengangkut Beban hingga 150 Kilogram

SkyFall berkembang menjadi produsen drone Ukraina setelah invasi skala penuh Rusia pada 2022. Perusahaan tersebut sebelumnya mengembangkan drone angkut berat Vampire, yang dijuluki “Baba Yaga” oleh pasukan Rusia, serta drone Shrike FPV dan pencegat udara P1-SUN.

Nama StarGate diambil dari waralaba fiksi ilmiah yang menggambarkan portal penghubung dunia yang berjauhan.

Menurut SkyFall, drone ini mampu membawa muatan hingga 150 kilogram atau sekitar 330 pon. Kapasitas tersebut dirancang untuk mengangkut prajurit terluka yang masih mengenakan pelindung tubuh dan membawa perlengkapan tempur. Kabin evakuasi medisnya menggunakan tandu sebagai komponen utama.

StarGate memiliki kecepatan jelajah 65 kilometer per jam dan kecepatan maksimum hingga 105 kilometer per jam. Perusahaan menyatakan drone tersebut dapat disiapkan untuk terbang dalam waktu sekitar 10 menit.

Diuji Menghadapi Gangguan Elektronik

Dalam demonstrasi lapangan, StarGate lepas landas ketika sejumlah drone FPV mendekat untuk menyimulasikan ancaman udara di garis depan Ukraina.

Sistem pengacau elektronik kemudian diaktifkan. Ketika salah satu drone penyerang mendekat, sebuah jaring ditembakkan untuk menjeratnya dan mengubah arah terbangnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan StarGate adalah memastikan drone tetap dapat bernavigasi ketika peperangan elektronik mengganggu komunikasi atau sinyal GPS.

Untuk mengatasinya, StarGate menggunakan dua saluran komunikasi, yakni Starlink dan sistem L-Link milik perusahaan. Drone tersebut juga dilengkapi sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mempertahankan kendali ketika navigasi satelit tidak tersedia.

Meski kendali utamanya masih manual, StarGate telah dilengkapi beragam fitur berbasis AI. Teknologi ini memastikan sistem tetap berfungsi optimal walau berada di area tanpa GPS, menghadapi manipulasi sinyal, maupun mengalami gangguan frekuensi radio.

SkyFall menyatakan, jika komunikasi terputus sepenuhnya, drone dapat menentukan rute kembali menuju wilayah aman. Sistemnya juga dirancang untuk beroperasi dalam kondisi hujan dan salju, serta dilengkapi kamera pencitraan termal untuk misi malam hari.

Perusahaan itu juga mengklaim StarGate pernah menunjukkan kemampuan untuk tetap terbang setelah kehilangan salah satu lengannya. Namun, SkyFall belum memberikan data yang menunjukkan seberapa andal drone tersebut bertahan dari kerusakan dalam kondisi pertempuran sebenarnya.

Pengujian di garis depan baru dimulai pekan ini.

Target Produksi 1.000 Unit per Bulan

StarGate telah melewati serangkaian pembaruan desain untuk mengoptimalkan fungsinya di lapangan. Pembaruan tersebut mencakup penggunaan lengan yang dapat dilepas guna mempermudah mobilitas, penyediaan tandu berstandar medis, hingga peningkatan pada perangkat lunak dan sistem pertahanan.

SkyFall memperkirakan harga setiap unit sistem setidaknya mencapai 50.000 dollar AS, bergantung pada konfigurasi. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi hingga 1.000 unit per bulan pada akhir 2026.

Meski demikian, KVN menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan efektivitas drone tersebut. Unitnya membutuhkan setidaknya satu bulan pengalaman operasional sebelum dapat memberikan statistik yang berarti mengenai tingkat keberhasilan evakuasi.

“Ini merupakan metode evakuasi yang benar-benar baru,” kata KVN. “Sulit membicarakan kelebihan dan kekurangannya secara mendalam saat ini. Kami perlu menggunakannya lebih lama.”

SkyFall mengonfirmasi bahwa StarGate sedang dievaluasi oleh unit militer tersebut, tetapi menolak mengungkapkan hasil pengujiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

7 Negara Bagian AS Gugat OpenAI, ChatGPT Dituding Bahayakan Anak

17 Okt 2026 - 11:28 WIB

7 Negara Bagian AS Gugat OpenAI, ChatGPT Dituding Bahayakan Anak

Ribuan Warga India Demo, Desak Ketua KPU Mundur

17 Okt 2026 - 10:05 WIB

Ribuan Warga India Demo, Desak Ketua KPU Mundur

China Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman di Tepi Barat

17 Okt 2026 - 08:30 WIB

China Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman di Tepi Barat

Senator AS Desak Investigasi Dugaan Pembatasan Starlink di Ukraina

17 Okt 2026 - 07:18 WIB

Senator AS Desak Investigasi Dugaan Pembatasan Starlink di Ukraina

Azerbaijan Larang Siswi Berjilbab di Sekolah, 37 Orang Ditahan

16 Okt 2026 - 11:01 WIB

Azerbaijan Larang Siswi Berjilbab di Sekolah, 37 Orang Ditahan
Trending di Internasional