NEW DELHI, 17 Oktober 2026 – Ribuan warga India demo turun ke jalan di New Delhi, Jumat (16/10), sambil mengibarkan bendera nasional dan mendesak Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gyanesh Kumar mengundurkan diri. Aksi ini menjadi bentuk terbaru penolakan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.
Para demonstran berkumpul di Connaught Place, salah satu kawasan komersial tersibuk di ibu kota India. Demonstrasi tersebut terjadi menyusul seruan dari kelompok anak muda bernama “Cockroach”. Adapun pemimpin gerakan itu, Abhijeet Dipke, dilaporkan telah ditahan pihak kepolisian sebelum aksi berlangsung.
Peserta aksi berasal dari berbagai generasi. Kehadiran mereka mencerminkan meluasnya kemarahan publik sekaligus meningkatnya tekanan terhadap pejabat tertinggi penyelenggara pemilu India.
Gelombang protes yang digerakkan kelompok anak muda dan partai oposisi meningkat seiring peninjauan daftar pemilih yang telah menghapus lebih dari 130 juta nama sejak tahun lalu.
Para pengkritik menilai proses tersebut bermotif politik dan berisiko mencabut hak pilih jutaan warga. Selain itu, kebijakan ini dinilai memberikan dampak yang tidak proporsional bagi kelompok minoritas, khususnya umat Muslim. Mereka pun menuntut Kumar mundur dari jabatannya.
Komisi Pemilu dan pemerintahan Modi membantah tuduhan tersebut. Keduanya menyatakan revisi daftar pemilih bertujuan menghapus data ganda dan nama orang yang tidak memenuhi syarat.
Polisi Kerahkan Pasukan Pengamanan
Demonstrasi pada Jumat menjadi bagian dari kampanye yang semakin meluas dan menambah tekanan terhadap pemerintahan Modi. Aksi tersebut berlangsung sepekan setelah polisi melakukan tindakan keras terhadap demonstran di New Delhi.
Jumlah demonstran jauh melampaui personel keamanan yang berjaga di sepanjang jalan. Barisan polisi antihuru-hara juga bersiaga untuk mengawasi jalannya aksi.
Sebelumnya, polisi meminta masyarakat tidak mengikuti demonstrasi. Mereka menawarkan izin kepada kelompok kecil untuk berkumpul, mengibarkan bendera nasional, dan menyanyikan lagu kebangsaan.
Untuk mengantisipasi aksi, pihak berwenang juga menutup Central Park pada Jumat dan Sabtu. Taman tersebut berada di tengah kawasan Connaught Place penuh bangunan bergaya kolonial berwarna putih.
Modi belum memberikan komentar terbuka mengenai demonstrasi tersebut. Sejumlah politikus dari partainya justru menyebut para demonstran sebagai “anarkis” dan menduga, tanpa memberikan bukti, bahwa mereka mendapat dukungan kekuatan asing.
Polisi Tahan Pemimpin Gerakan Cockroach
Sebelum demonstrasi berlangsung, polisi menahan Abhijeet Dipke, pendiri gerakan Cockroach. Ia sebelumnya mengajak para pendukung yang tidak dapat datang ke New Delhi untuk mengibarkan bendera India dan menggelar aksi di komunitas masing-masing.
Video live akun Instagram gerakan tersebut memperlihatkan Dipke keluar dari sebuah rumah menuju jalan sebelum dicegat sejumlah polisi. Setelah percakapan singkat, petugas memasukkannya ke kendaraan polisi dan membawanya pergi.
“Mengibarkan bendera tiga warna India bukanlah kejahatan,” kata Dipke kepada wartawan pada Kamis.
Gerakan Cockroach bermula sebagai kampanye satire daring pada musim panas tahun ini. Gerakan tersebut muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India membandingkan kaum muda pengangguran dengan parasit.
Sejumlah anak muda India kemudian mengadopsi kecoak sebagai simbol ketahanan. Gerakan yang awalnya berlangsung di dunia maya itu berkembang menjadi aksi protes anak muda berskala nasional.
Pada Juli, demonstrasi yang di gagas kelompok tersebut turut mendorong pengunduran diri menteri pendidikan dalam pemerintahan Modi. Peristiwa itu menjadi salah satu kemunduran langka bagi Modi, yang telah berkuasa selama lebih dari 12 tahun.
Masa Depan Demokrasi India
Belum jelas apakah gelombang demonstrasi tersebut akan berkembang menjadi gerakan politik yang lebih luas.
Pemerintahan Modi masih memiliki kekuatan elektoral yang besar. Kemarahan publik mengenai daftar pemilih juga belum tentu berujung pada meningkatnya dukungan terhadap oposisi, yang selama ini memanfaatkan persoalan tersebut untuk mengkritik pemerintahan nasionalis Hindu pimpinan Modi.
Meski demikian, semakin banyak demonstran memandang aksi mereka sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk melindungi lembaga-lembaga demokrasi India.
“India sedang bergerak menuju fasisme, dan itulah kekhawatiran terbesar saya,” kata Nashid Khan, salah seorang demonstran.
Kendati demikian, ia menilai demonstrasi tersebut memberikan harapan bagi masa depan India.















