RIYADH, 15 Oktober 2026 – Kelompok Houthi serang kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi, pada Selasa malam. Serangan tersebut merusak tiga lantai teratas gedung yang digunakan oleh jajaran eksekutif perusahaan minyak raksasa itu, termasuk kantor CEO Aramco.
Dua pejabat Aramco menyampaikannya pada Rabu (14/10), bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media.
Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya melaporkan kebakaran terbatas di gedung administrasi Aramco.
Serangan ini menambah tekanan terhadap Arab Saudi di tengah meningkatnya konflik dengan Houthi, kelompok pemberontak Yaman. Rentetan serangan terhadap fasilitas strategis kerajaan juga memicu kekhawatiran di kawasan dan pasar global.
Houthi Sasar Infrastruktur Strategis Arab Saudi
Houthi mengklaim telah menargetkan Dhahran menggunakan rudal balistik. Kelompok tersebut juga memperingatkan akan melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sejumlah rudal jelajah, rudal balistik, dan drone yang mengarah ke Riyadh. Koalisi juga melaporkan pencegatan rudal balistik menuju Dhahran serta rudal jelajah yang mengarah ke Al-Kharj, lokasi Pangkalan Udara Prince Sultan dan perusahaan industri militer milik negara.
Di Riyadh, puing-puing hasil pencegatan melukai seorang warga asing asal negara Arab, menurut laporan pertahanan sipil Arab Saudi, Rabu. Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) merilis foto sebuah kendaraan yang bagian depannya tertancap benda berbentuk silinder serta bangunan yang mengalami kerusakan.
Dalam sepekan terakhir, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh juga beberapa kali menjadi sasaran serangan. Rangkaian serangan tersebut menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan itu juga mengganggu penerbangan di berbagai wilayah kerajaan.
Perusahaan analitik penerbangan Cirium mencatat ribuan jadwal keberangkatan terganggu selama periode tersebut. Lebih dari 3.000 penerbangan dari berbagai bandara di Arab Saudi akhirnya dibatalkan atau tercatat tidak beroperasi.
Arab Saudi Hadapi Keterbatasan Pertahanan Udara
Eskalasi serangan memperlihatkan kekurangmampuan Arab Saudi dalam melindungi wilayah udaranya. Kerajaan itu dilaporkan meminta tambahan dukungan militer dari sekutu, termasuk Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat regional menyebut persediaan rudal pencegat Arab Saudi mulai menipis. Kondisi ini menjadi perhatian karena kerajaan tersebut merupakan pembeli senjata Amerika Serikat terbesar di dunia.
Arab Saudi harus menghadapi serangan harian di wilayah yang luasnya sekitar tiga kali negara bagian Texas. Para pakar menilai tidak mungkin mencegat seluruh rudal dan drone yang meluncur.
Houthi memiliki persenjataan yang mampu menjangkau sasaran lebih dari 1.600 kilometer. Sebagian hulu ledaknya juga dapat mengubah arah selama penerbangan, sehingga menyulitkan upaya pencegatan.
Situasi ini turut menempatkan Presiden AS Donald Trump dalam posisi sulit. Trump sedang mengevaluasi kemungkinan keterlibatan militer AS dalam serangan Arab Saudi kepada kelompok Houthi. Langkah tersebut dipertimbangkan di tengah eskalasi konflik di kawasan yang kian meluas dan melibatkan Iran..
Houthi Sebut Serangan sebagai Balasan
Kelompok Houthi menyatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi merupakan aksi balasan atas operasi militer kerajaan tersebut. Operasi militer itu menyasar Sanaa, ibu kota Yaman yang berada di bawah kendali kelompok pemberontak tersebut, serta beberapa wilayah lainnya.
Arab Saudi mendukung pasukan pemerintah Yaman yang mendapat pengakuan internasional dalam operasi militer besar yang dimulai sekitar satu setengah pekan sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Houthi melaporkan dua orang tewas dalam serangan di Yaman pada Selasa dan menyalahkan Arab Saudi.
Konflik kedua pihak kembali memanas tahun ini setelah Houthi menyalahkan Riyadh atas serangan terhadap bandara di Sanaa. Perselisihan itu membangkitkan kembali kemarahan kelompok tersebut terhadap blokade Arab Saudi. Houthi kemudian menyatakan blokade terhadap kerajaan.
Koalisi pimpinan Saudi kini juga menyasar infrastruktur minyak di wilayah yang dikuasai Houthi. Kementerian Kesehatan kelompok itu menyebut dua orang tewas dalam serangan udara di kawasan pelabuhan Ras Isa, Provinsi Hodeidah, pada Selasa. Serangan tersebut di klaim menghantam fasilitas perusahaan minyak milik negara.
Koalisi Saudi juga dilaporkan menyerang fasilitas minyak di Sanaa.
Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, menilai penargetan tempat penyimpanan bahan bakar menandai fase baru konflik. Menurut dia, perang atrisi atau perang pengurasan dapat mengancam kapasitas militer Houthi jika kelompok tersebut kehilangan sebagian besar kemampuan persenjataannya.
“Houthi bertaruh pada tekanan, sedangkan Saudi bertaruh pada waktu. Houthi berusaha menyerang infrastruktur penting di Arab Saudi untuk meningkatkan biaya intervensi militer yang terus berlangsung,” kata Nagi.
Upaya Diplomatik di Tengah Krisis Kemanusiaan
Di tengah eskalasi militer, Houthi mengungkapkan adanya upaya diplomatik untuk menghentikan serangan dan mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Mohamed al-Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, mengatakan Oman berupaya mempertemukan kedua pihak di meja perundingan. Rusia dan China juga disebut berusaha mendorong upaya tersebut melalui Iran.
“Kami menyambut setiap mediasi yang mengarah pada berakhirnya perang dan blokade antara Sanaa dan Riyadh,” kata al-Bukhaiti.
Ia menegaskan kelompoknya menginginkan penyelesaian menyeluruh atas perang dan blokade dari kedua belah pihak, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Namun, pertempuran yang kembali berkobar telah memperburuk kondisi warga sipil Yaman setelah empat tahun relatif tenang. Seorang warga Sanaa bernama Umm Shadi mengatakan masyarakat ketakutan setelah serangan koalisi Saudi pada Selasa. Banyak warga memilih tetap berada di rumah.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan lonjakan kasus korban luka akibat senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh garis depan pertempuran, terutama di Marib, Taiz, dan sepanjang pesisir Laut Merah.
Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan tidak lagi dapat menjangkau lebih dari 600.000 orang di Kota Taiz yang terkepung dan bergantung pada bantuan kemanusiaan.















