ROMA, 14 Oktober 2026 – Paus Leo XIV didiagnosis menderita kanker paru-paru setelah menjalani operasi pengangkatan lobus bawah paru-paru kanan pada Selasa (13/10). Operasi tersebut dinyatakan berhasil tanpa komplikasi, menurut keterangan Vatikan.
Dalam buletin medis yang di rilis setelah operasi, Vatikan menyebut hasil pemeriksaan mengonfirmasi diagnosis lung adenocarcinoma atau adenokarsinoma paru-paru.
Meski demikian, Vatikan belum memberikan keterangan mengenai rencana pengobatan lanjutan. Tim medis masih menunggu hasil pemeriksaan tambahan sebelum menentukan apakah Paus memerlukan kemoterapi atau terapi lainnya.
Kantor pers Vatikan menjelaskan, pengangkatan lobus paru-paru dilakukan secara menyeluruh untuk menghilangkan jaringan yang dicurigai mengandung kanker.
Belum ada informasi mengenai hasil pemeriksaan kelenjar getah bening yang juga perlu dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan penyebaran kanker.
Dokter Menunggu Hasil Pemeriksaan untuk Menentukan Stadium Kanker
Dokter spesialis kanker paru-paru dari Lombardi Comprehensive Cancer Center, Georgetown University, Stephen Liu, mengatakan adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru-paru yang paling umum. Menurutnya, jenis kanker ini juga memiliki prognosis yang relatif lebih baik.
Namun, ia menegaskan bahwa stadium kanker perlu diketahui untuk memperkirakan kondisi pasien secara lebih akurat. “Meski diagnosisnya sudah diketahui, kita sekarang perlu mengetahui stadiumnya,” kata Liu.
Ia menjelaskan bahwa dokter perlu memastikan ukuran tumor dan jumlah titik kanker yang ditemukan di paru-paru. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk mengetahui apakah kelenjar getah bening turut terdampak.
Jika kanker diketahui telah menyebar, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk menentukan terapi yang sesuai. Pilihan pengobatan yang tersedia dapat mencakup kemoterapi maupun kombinasi antara kemoterapi dan imunoterapi. Selain itu, pasien juga dapat menjalani terapi target dengan obat yang dirancang khusus untuk jenis kanker tertentu.
Operasi Paus Leo XIV Berlangsung Sekitar 90 Menit
Paus Leo XIV menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma. Menurut keterangan Vatikan, ia berada di ruang operasi selama sekitar tiga jam, sedangkan prosedur pembedahan berlangsung kurang lebih 90 menit.
“Operasi berhasil dan tidak ada komplikasi,” demikian pernyataan Vatikan. Setelah prosedur selesai, Paus kembali ke kamar perawatannya.
Sebelum menjalani operasi, Paus berusia 71 tahun itu tiba di rumah sakit melalui pintu utama. Beliau juga sempat menyapa puluhan orang yang telah berkumpul untuk memberikan dukungan.
Operasi dilakukan oleh tim yang dipimpin kepala bedah toraks Rumah Sakit Gemelli, Stefano Margaritora.
Paru-paru kanan manusia terdiri dari tiga lobus, sedangkan paru-paru kiri memiliki dua lobus. Setelah satu lobus diangkat, bagian paru-paru yang tersisa secara bertahap dapat menyesuaikan diri untuk membantu mempertahankan fungsi pernapasan.
Vatikan Batalkan Agenda Paus hingga 20 Oktober
Paus Leo XIV sebelumnya mengungkapkan bahwa pemeriksaan medis menemukan sebuah nodul di paru-parunya. Ia menyampaikan informasi tersebut saat doa tengah hari pada Minggu dan mengatakan bahwa jaringan tersebut akan diangkat.
Pengungkapan itu menjadi salah satu bentuk keterbukaan yang jarang dilakukan mengenai masalah kesehatan besar selama masa kepausannya yang telah berlangsung sekitar 17 bulan.
Vatikan membatalkan seluruh agenda audiensi Paus hingga 20 Oktober untuk mendukung pemulihan setelah operasi.
Selama menjalani perawatan di Rumah Sakit Gemelli, Paus tidak akan menempati apartemen khusus kepausan yang biasa digunakan para paus sebelumnya. Fasilitas tersebut sedang direnovasi sehingga ia akan tinggal di kamar lain di rumah sakit.
Perjalanan ke Amerika Selatan Masih Menunggu Pemulihan
Kondisi kesehatan Paus juga menimbulkan pertanyaan mengenai rencana kunjungan ke Amerika Selatan pada November mendatang.
Perjalanan yang dijadwalkan berlangsung pada 6–17 November itu mencakup Uruguay, Argentina, dan Peru. Agenda tersebut menjadi perjalanan terpanjang selama masa kepausannya sejauh ini. Rangkaian kunjungan ini menempuh total perjalanan udara sekitar 31.000 kilometer melalui sejumlah penerbangan dan dua kali perjalanan menggunakan helikopter.
Selain jarak perjalanan yang panjang, agenda di Peru juga melibatkan perubahan ketinggian yang signifikan.
Sejumlah dokter spesialis kanker menyarankan pasien menghindari penerbangan selama sekitar tiga minggu setelah operasi. Jika rekomendasi tersebut diterapkan, waktu pemulihan Paus akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah perjalanan dapat dilaksanakan sesuai jadwal.
Kardinal Tokyo, Kikuchi Tsutomu, yang bertemu dengan Paus pada Senin, mengatakan keputusan untuk menjalani operasi lebih awal diambil agar rencana perjalanan luar negeri tidak perlu diubah.
Ia juga menyampaikan bahwa tindakan tersebut bukan dilakukan dalam situasi darurat.
Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai kelanjutan perjalanan Paus ke Amerika Selatan.
Pernah Dirawat karena Demam Tifoid pada 1985
Operasi kali ini menjadi rawat inap kedua bagi Leo XIV. Sebelum terpilih sebagai Paus, ia dikenal aktif berolahraga, termasuk bermain tenis setiap pekan dan berenang.
Pada 1985, ketika masih menjadi imam misionaris muda di Peru, Leo pernah dirawat akibat demam tifoid tidak lama setelah tiba di Chulucanas.
Dalam buku biografi Pope Leo XIV: The Biography yang ditulis Elise Ann Allen pada 2025, Leo menceritakan bahwa pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Saat mengalami rasa sakit yang berat, ia bahkan sempat berdoa agar Tuhan membiarkannya meninggal daripada terus menanggung penderitaan akibat penyakit tersebut.
Namun, setelah pulih, pengalaman itu justru memperkuat keputusannya untuk tetap melayani masyarakat di Peru.
Paus Leo kemudian melanjutkan pelayanannya di sana, sebuah keputusan yang pada akhirnya turut membentuk perjalanan hidupnya hingga terpilih sebagai Paus.














