KONGO, 26 Oktober 2026 — Seorang perawat tewas dan seorang petugas kesehatan mengalami luka parah setelah diserang ketika merespons laporan dugaan kasus wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut insiden tersebut sebagai serangan terbaru terhadap tenaga kesehatan yang berupaya menghentikan penyebaran wabah Ebola.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, serangan itu terjadi pada Sabtu (24/10) di Kota Bafwasende, Provinsi Tshopo, wilayah timur Kongo. Ia menyampaikan informasi tersebut melalui unggahan di platform X pada Minggu (25/10).
“Setiap orang yang bekerja untuk melindungi masyarakat dari penyakit mematikan ini harus dapat bekerja dengan bermartabat dan aman. Layanan kesehatan harus selalu dilindungi,” kata Tedros.
Direktur Regional WHO untuk Afrika, Dr. Mohamed Yakub Janabi, turut mengecam serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa informasi keliru dan ketakutan tidak boleh memicu kekerasan.
“Informasi yang salah dan ketakutan tidak boleh menjadi pemicu kekerasan,” tulis Janabi melalui X.
Wabah Ebola Paling Mematikan dalam Sejarah Kongo
Serangan terhadap petugas kesehatan menambah hambatan dalam upaya mengendalikan wabah Ebola yang berkembang pesat di Kongo.
Data terbaru Kementerian Kesehatan negara tersebut mencatat lebih dari 9.800 kasus, termasuk lebih dari 4.700 kematian, sejak wabah dimulai pada Mei. Angka tersebut menjadikan wabah kali ini sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Kongo.
Bulan lalu, seorang politikus Kongo tewas setelah di aniaya di Provinsi Kivu Utara. Sebelum kejadian itu, ia secara terbuka membela upaya pemerintah dalam menangani Ebola.
Melalui sebuah acara radio, politikus tersebut menyerukan agar masyarakat mematuhi langkah-langkah penanggulangan wabah, terutama menjaga jarak fisik dan mencuci tangan.
Kejadian itu berlangsung setelah pemerintah menerapkan pendekatan penanganan wabah yang berpusat pada desa. Namun, upaya tersebut menghadapi penolakan dari sebagian warga yang menganggap Ebola sebagai rekayasa.
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga menjadi persoalan. Hal ini berkaitan dengan penanganan wabah Ebola sebelumnya serta masalah korupsi yang telah berlangsung lama di negara tersebut.
Ketakutan dan Informasi Keliru Hambat Penanganan Wabah
Petugas penanggulangan wabah mengatakan, keraguan masyarakat terhadap keberadaan dan bahaya Ebola mempersulit upaya mereka untuk bekerja sama dengan penduduk setempat.
Hambatan tersebut terutama terasa di daerah terpencil dan wilayah yang mulai menjadi titik penyebaran baru. Sejumlah daerah itu juga menghadapi keterbatasan pasokan medis dan tenaga kesehatan.
Pada Mei, ketika wabah mulai merebak, dua tenda di fasilitas kesehatan dibakar dalam dua serangan terpisah yang dilakukan warga yang marah hanya dalam waktu satu pekan.
Petugas yang terlibat langsung dalam penanganan wabah sebelumnya juga melaporkan bahwa sejumlah anggota tim respons pernah di sandera di beberapa zona kesehatan. Tim yang bertugas melakukan pemakaman secara aman dan bermartabat turut menghadapi ancaman.
Rentetan kekerasan tersebut menunjukkan tantangan yang merintangi tenaga kesehatan dalam menangani wabah Ebola di Kongo. Selain keterbatasan sumber daya medis, mereka juga harus bekerja di tengah ketakutan, ketidakpercayaan, dan risiko keselamatan.
WHO menegaskan bahwa tenaga kesehatan harus dapat menjalankan tugasnya dengan aman agar upaya melindungi masyarakat dan menghentikan penyebaran penyakit mematikan tersebut dapat terus berlangsung.
















