PARIS, 21 Oktober 2026 – Perancis tangkap seorang pria berusia 40 tahun terduga pelaku pembakar balai kota bersejarah Limoges saat kerusuhan akhir pekan. Insiden tersebut terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang meluas akibat kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik.
Media Perancis FranceInfo melaporkan, tersangka memiliki rekam jejak melakukan tindakan kekerasan terhadap pejabat publik. Ia juga dikategorikan sebagai subjek berstatus “S”, yakni individu yang dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional.
Kebakaran pada Sabtu melalap menara jam dan sebagian atap balai kota Limoges, bangunan berornamen yang berasal dari abad ke-19. Api kemudian menyebabkan bagian-bagian bangunan tersebut runtuh.
Hingga Senin (19/10), lebih dari 120 orang telah dipenjarakan terkait rangkaian demonstrasi dan kerusuhan di berbagai wilayah Perancis, menurut Menteri Kehakiman Gérald Darmanin kepada CNews-Europe.
Darmanin menyatakan telah meminta pihak kejaksaan untuk bertindak sangat tegas terhadap para pelaku kerusuhan. Terutama kepada pihak-pihak yang menyerang aparat kepolisian, gendarmerie atau polisi militer, petugas pemadam kebakaran, menjarah toko, serta merusak bangunan publik.
Meski demikian, ia menilai Perancis tidak perlu memberlakukan keadaan darurat nasional yang dapat membatasi kebebasan individu masyarakat.
Perdana Menteri Sébastien Lecornu sebelumnya mengatakan pemerintah belum mengesampingkan kemungkinan penerapan keadaan darurat.
Jam Malam Berlaku di Sejumlah Kota
Lecornu mengatakan pemberlakuan jam malam secara terbatas pada Senin membantu menciptakan situasi yang lebih tenang setelah kerusuhan.
Penerapan jam malam itu berlaku di sejumlah kawasan Paris, termasuk Place de la République, tempat demonstran berkumpul selama akhir pekan, serta kawasan perbelanjaan Les Halles.
Sejumlah kota lain juga menerapkan langkah serupa, antara lain Marseille, Bordeaux, Nice, Lyon, dan Lille. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan pergerakan kaum muda dan larangan terhadap pertemuan tertentu di lokasi yang dinilai memerlukan pengamanan tambahan.
Lecornu berterima kasih kepada polisi dan gendarmerie yang menjalankan langkah-langkah pengamanan tersebut. Ia mengatakan keputusan mengenai jam malam pada Selasa malam akan bergantung pada kebutuhan di lapangan.
Dalam unggahan di media sosial X, Lecornu menyatakan pemerintah daerah dan wali kota akan memutuskan hal tersebut sesuai situasi setempat.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengakui bahwa aparat kehilangan kendali di sejumlah kota ketika kerusuhan berlangsung.
Pernyataan tersebut menuai kritik dari politisi oposisi yang mempertanyakan kesiapan pemerintah menghadapi aksi kekerasan. Nuñez kemudian mengajukan pengunduran diri pada Senin (19/10), tetapi Presiden Emmanuel Macron menolaknya.
Aparat Tangkap Lebih dari 2.500 Orang
Pejabat Perancis melaporkan pihak kepolisian telah menangkap lebih dari 2.500 orang sejak kerusuhan pecah. Kantor berita AFP juga melaporkan seorang demonstran kehilangan tangan setelah terkena granat pengendali massa yang ditembakkan polisi.
Sekitar 1.000 anggota kepolisian terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Demonstrasi pada awalnya berlangsung sejak bulan lalu ketika para pelajar menuntut perbaikan kondisi sekolah. Seiring waktu, aksi berkembang dengan mencakup persoalan yang lebih luas, termasuk kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup, dan penurunan kualitas layanan publik.
Jumlah peserta demonstrasi bertambah setelah serikat pekerja dan berbagai kelompok protes ikut bergabung.
Kekerasan pada akhir pekan juga berdampak besar terhadap dunia usaha. Kepala Kamar Dagang dan Industri Perancis (CCI) mengatakan lebih dari 2.000 toko dan perusahaan lainnya terdampak langsung.
Sejumlah perusuh berpakaian hitam dan mengenakan masker atau penutup wajah terlihat membakar mobil serta bangunan dan menjarah tempat usaha di Paris, Marseille, dan sejumlah kota maupun kota kecil lainnya.
Gelombang Protes Act II
Penyelenggara demonstrasi menyatakan putaran kedua aksi di seluruh Perancis rencananya akan berlangsung pada Sabtu (24/10) mendatang.
Kelompok rompi kuning atau gilets jaunes, juga mengumumkan rencana aksi lanjutan yang mereka sebut sebagai “Act II”. Kelompok tersebut terkenal pada 2018 karena menggelar demonstrasi selama lebih dari setahun, salah satu gelombang protes terpanjang di Perancis modern.
















