Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Amerika Serikat Serang Yaman, Tewaskan Puluhan Migran Afrika

badge-check


					Salah satu migran asal Afrika di pusat penahanan di Yaman yang ditandu keluar dari puing-puing bangunan yang di serang oleh Amerika Serikat. Perbesar

Salah satu migran asal Afrika di pusat penahanan di Yaman yang ditandu keluar dari puing-puing bangunan yang di serang oleh Amerika Serikat.

Sana’a – Sedikitnya 68 migran asal Afrika dilaporkan tewas setelah Amerika Serikat serang sebuah pusat penahanan di wilayah Yaman barat laut yang dikuasai kelompok Houthi, Minggu (27/4/2025) waktu setempat.

Saluran televisi Al Masirah, yang dikelola Houthi, melaporkan bahwa selain korban tewas, 47 migran lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar dalam kondisi kritis. Tayangan yang disiarkan memperlihatkan jasad para korban tertutup reruntuhan bangunan yang hancur.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari militer Amerika Serikat terkait insiden tersebut. Namun, serangan itu terjadi beberapa jam setelah Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan telah melancarkan lebih dari 800 serangan terhadap target-target Houthi sejak Presiden Donald Trump memerintahkan intensifikasi operasi militer pada 15 Maret lalu.

Menurut Centcom, serangan tersebut telah “menewaskan ratusan pejuang Houthi dan sejumlah pemimpin senior,” termasuk pejabat yang terlibat dalam program rudal dan drone. Sementara itu, otoritas Houthi mengklaim serangan udara AS banyak menewaskan warga sipil.

Pusat penahanan migran di Saada yang menjadi sasaran diketahui menampung 115 migran Afrika. Meski dilanda konflik berkepanjangan selama 11 tahun, Yaman tetap menjadi jalur transit bagi ribuan migran dari Tanduk Afrika yang berharap menyeberang ke Arab Saudi untuk mencari penghidupan.

Namun, perjalanan tersebut kerap berujung tragis. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), para migran rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, dan kondisi hidup yang berbahaya di tengah zona konflik aktif. Sepanjang 2024, IOM mencatat hampir 60.900 migran tiba di Yaman, banyak di antaranya tanpa bekal memadai untuk bertahan hidup.

Tudingan Pelanggaran Hak Asasi

Sebelumnya, pihak Houthi di Yaman juga menuduh Amerika Serikat melakukan “kejahatan perang” usai serang terminal minyak Ras Isa di pesisir Laut Merah, yang menewaskan sedikitnya 74 orang. Pemerintah Houthi menegaskan fasilitas tersebut adalah instalasi sipil.

Sebaliknya, Centcom menyatakan bahwa serangan ke Ras Isa bertujuan melemahkan kemampuan Houthi dalam mengoperasikan terminal serta mengurangi sumber pendapatan mereka untuk aktivitas teror.

Ketegangan antara AS dan Houthi meningkat setelah Presiden Trump, yang baru menjabat kembali pada Januari lalu, menetapkan Houthi sebagai “Organisasi Teroris Asing” — status yang sebelumnya dicabut oleh pemerintahan Biden dengan alasan kemanusiaan.

Konflik Berkepanjangan

Kelompok Houthi dalam beberapa bulan terakhir melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden. Mereka mengklaim serangan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dalam konflik Israel-Hamas, meski banyak klaim mereka yang terbukti tidak akurat.

Konflik di Yaman sendiri telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan menyebabkan bencana kemanusiaan besar, dengan hampir 5 juta orang mengungsi dan setengah dari populasi negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Centcom dalam pernyataannya menegaskan operasi militer terhadap Houthi akan terus dilanjutkan “hingga tujuan tercapai,” yakni memulihkan kebebasan navigasi dan memperkuat efek jera terhadap ancaman di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional