WASHINGTON, 23 April 2026 — Pemerintah Amerika Serikat pecat Sekretaris Angkatan Laut AS, John Phelan. Keputusan tersebut berlaku efektif segera, sebagaimana disampaikan Pentagon pada Rabu (waktu setempat).
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa posisi Phelan akan sementara di isi oleh Wakil Sekretaris Angkatan Laut, Hung Cao.
“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Sekretaris Phelan atas pengabdiannya kepada Departemen dan Angkatan Laut Amerika Serikat,” tulis Parnell melalui media sosial. Ia juga menyampaikan harapan terbaik bagi karier Phelan ke depan.
Namun, pihak Angkatan Laut tidak memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemecatan tersebut.
Gelombang Pergantian Pejabat Militer
Pemecatan Phelan ini menambah daftar panjang pejabat tinggi militer yang meninggalkan jabatannya dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga meminta Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, untuk mengundurkan diri. Selain itu, dua pejabat militer lainnya, David Hodne dan William Green, turut dicopot dari jabatan mereka.
Sejak menjabat di Pentagon, Hegseth telah memberhentikan lebih dari selusin perwira tinggi, termasuk Kepala Operasi Angkatan Laut serta Wakil Kepala Staf Angkatan Udara.
Latar Belakang Phelan dan Penggantinya
Phelan, seorang sipil yang tidak memiliki latar belakang militer sebelumnya. Dia dilantik sebagai Sekretaris Angkatan Laut pada Maret 2025.
Sementara itu, Hung Cao—yang kini menjabat sebagai pelaksana tugas—merupakan veteran Angkatan Laut selama 25 tahun. Ia juga sempat mencalonkan diri sebagai senator dari negara bagian Virginia pada 2024, namun kalah dari senator petahana dari Partai Demokrat, Tim Kaine.
Ketegangan di Selat Hormuz
Pergantian kepemimpinan di tubuh Angkatan Laut terjadi di tengah konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah. Pemerintahan Trump menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan terus berlanjut meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata.
Ketegangan juga masih berlangsung di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Iran sebelumnya mengklaim telah menyita dua kapal di wilayah tersebut.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Trump “puas” dengan jalannya blokade laut AS dan menilai Iran berada dalam posisi yang lemah.
Di sisi lain, negosiator utama Iran dalam perundingan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz “tidak memungkinkan” akibat pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat dan Israel.
Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan sekaligus meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.












