JAKARTA, 15 April 2026 — Hari pertama penerapan blokade penuh Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Iran belum memberikan dampak signifikan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. Data pelayaran menunjukkan sedikitnya delapan kapal, termasuk tiga tanker yang terkait dengan Iran, tetap melintasi jalur strategis tersebut pada Selasa (14/4).
Presiden AS, Donald Trump mengumumkan kebijakan blokade Selat Hormuz pada Minggu (12/4), setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Langkah ini menambah ketidakpastian bagi pelaku industri pelayaran, perusahaan minyak, serta penyedia asuransi risiko perang.
Sumber menyebutkan, volume lalu lintas di Selat Hormuz kini hanya sebagian kecil berbanding lebih dari 130 pelayaran harian sebelum pecahnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade sepenuhnya. Enam kapal disebut mematuhi arahan militer AS untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran.
Namun, tiga kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran tetap melintas karena tidak menuju pelabuhan Iran, sehingga tidak terdampak langsung oleh kebijakan tersebut. Salah satunya adalah kapal tanker berbendera Panama, Peace Gulf, yang berlayar menuju Pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab. Kapal ini biasanya mengangkut nafta Iran ke pelabuhan Timur Tengah lainnya untuk kemudian di ekspor ke Asia.
Kapal Tanker Iran dan Aktivitas Pelayaran
Sebelumnya, dua tanker yang masuk daftar sanksi AS juga tercatat melintasi selat sempit tersebut. Kapal Murlikishan, yang pernah mengangkut minyak Rusia dan Iran, rencananya akan menuju Irak untuk memuat bahan bakar minyak pada 16 April. Sementara itu, tanker Rich Starry kemungkinan akan menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak berlakunya blokade.
Kapal Rich Starry, milik perusahaan China Shanghai Xuanrun Shipping Co, tengah mengangkut sekitar 250.000 barel metanol yang dari Pelabuhan Hamriyah. Perusahaan tersebut sebelumnya telah mendapatkan sanksi oleh AS karena keterlibatannya dalam perdagangan dengan Iran.
Pemerintah China melalui kementerian luar negerinya menyebut blokade tersebut sebagai langkah “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang berpotensi memperburuk ketegangan. Namun, tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai keberadaan kapal-kapal China di kawasan tersebut.
Selain itu, lima kapal lainnya—terdiri dari tanker kimia dan gas, kapal kargo curah, serta kapal Ocean Energy—juga terlihat melintas sejak blokade mulai berlaku pada Senin (13/4) pukul 14.00 GMT. Kapal Ocean Energy diketahui sempat bersandar di Pelabuhan Bandar Abbas, Iran.
Strategi Blokade dan Analisis Pengamat
Militer AS menyatakan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan akan dikecualikan dari kebijakan blokade. Sementara itu, analis menilai bahwa seharusnya penerapan blokade tidak menutup total jalur pelayaran.
Profesor ilmu politik dari Universitas Genoa, Fabrizio Coticchia, mengatakan bahwa AS kemungkinan akan menerapkan blokade di Selat Hormuz secara selektif. “Kapal tidak akan diserang, melainkan dialihkan,” ujarnya. Beliau juga menambahkan bahwa kapal perang AS kemungkinan akan berada di luar selat, tepatnya di Teluk Oman.
Di sisi lain, biaya asuransi risiko perang belum mengalami kenaikan sejak blokade berlaku. Namun tetap berada pada level tinggi, mencapai ratusan ribu dolar per minggu.
Laporan perusahaan pialang kapal, BRS, menyebutkan bahwa peluang kembali normalnya situasi di Timur Tengah kini semakin kecil. “Kemungkinan akan ada sedikit atau bahkan tidak ada lalu lintas komersial di selat tersebut dalam waktu dekat,” tulis laporan itu.












