Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Samai Indonesia, Produk Filipina Kena Tarif 19%

badge-check


					Samai Indonesia, Produk Filipina Kena Tarif 19% Perbesar

Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (waktu setempat) mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 19% untuk barang-barang asal Filipina. Kebijakan itu terbit menyusul kunjungan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Gedung Putih, di mana Trump menyebutnya sebagai “kunjungan yang indah.”

Melalui pernyataan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dagang tersebut akan membuat barang-barang dari AS masuk ke pasar Filipina tanpa dikenakan tarif alias nol persen. Sementara itu, barang Filipina akan dikenakan tarif impor sebesar 19% di Amerika Serikat.

“Ini adalah kunjungan yang indah, dan kami menyelesaikan Kesepakatan Dagang kami, di mana Filipina membuka pasarnya untuk Amerika Serikat dan tarifnya menjadi NOL. Filipina akan membayar tarif sebesar 19%,” tulis Trump, menyebut Marcos sebagai “negosiator yang sangat baik dan tangguh.”

Tarif baru itu masih lebih tinggi dari yang Presiden AS Donald Trump umumkan pada April 2025, yaitu 17 persen. Akan tetapi, tarif itu sedikit lebih rendah dari ancaman tarif 20 persen, pada awal bulan ini. Tarif ini juga menyamai angka tarif untuk Indonesia, dan lebih rendah daripada tarif 20% untuk Vietnam.

Komitmen Militer dan Ekonomi

Dalam pertemuan di Oval Office, kedua pemimpin juga menyinggung kerja sama pertahanan, meski tanpa rincian lebih lanjut. Trump menyebut Filipina sebagai sekutu penting, dan menyatakan hubungan kedua negara akan menginjak usia ke-80 tahun pada 2026.

Marcos menjadi pemimpin Asia Tenggara pertama yang berkunjung ke Washington sejak Trump menjabat kembali. Dalam pernyataannya, ia menyebut Amerika Serikat sebagai “sekutu terkuat, terdekat, dan paling dapat diandalkan.”

“Perubahan satu persen mungkin tampak kecil, tetapi dalam konteks nyata, ini adalah pencapaian besar,” ujar Marcos.

Dubes Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, juga menyambut baik kesepakatan tersebut. “Ini adalah kesepakatan yang sedang berkembang, dan dapat terus ditingkatkan ke depannya,” ujarnya.

Imbal Dagang dan Sektor Otomotif

Trump menyatakan bahwa nilai kesepakatan dagang ini akan “semakin besar” seiring waktu. Tahun lalu, defisit perdagangan AS dengan Filipina hampir menyentuh USD 5 miliar dari total perdagangan bilateral sebesar USD 23,5 miliar — naik 21,8% dari tahun sebelumnya.

Untuk mengurangi ketimpangan tersebut, Marcos menyebut Filipina akan meningkatkan impor dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah sektor otomotif, di mana Filipina berjanji untuk menghapus tarif atas mobil-mobil buatan AS.

“Kami akan membuka pasar tersebut dan tidak lagi mengenakan tarif untuk mobil Amerika,” kata Marcos.

Filipina juga berencana memperbesar impor produk pertanian seperti kedelai dan gandum, serta produk obat-obatan dari Amerika Serikat.

Reaksi dan Konteks Regional

Trump telah mengubah lanskap perdagangan global dengan menerapkan tarif sebesar 10% kepada hampir seluruh mitra dagang sejak April, dengan tambahan tarif besar lainnya yang akan berlaku mulai Agustus. Kebijakan ini juga berdampak pada negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Vietnam.

Trump juga sempat menegaskan bahwa Filipina kini telah menjauh dari pengaruh Beijing sejak kemenangannya dalam pemilu AS November tahun lalu.

“Negara itu sebelumnya condong ke China, tapi kami membalikkan arah dengan sangat cepat,” pungkasnya.

Sementara itu, di luar Gedung Putih, sekelompok demonstran menyuarakan protes atas kunjungan Marcos. Mereka menuntut perhatian dari presiden Filipina terhadap aspirasi diaspora Filipina dan buruh migran yang terdampak penggerebekan imigrasi di AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional