Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Ratusan Pekerja Korea Selatan Pulang Usai Ditahan di AS

badge-check


					Pesawat carteran yang mengangkut para pekerja Korea Selatan tiba di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, pada 12 September 2025. (foto: REUTERS/Kim Soo-hyeon) Perbesar

Pesawat carteran yang mengangkut para pekerja Korea Selatan tiba di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, pada 12 September 2025. (foto: REUTERS/Kim Soo-hyeon)

INCHEON, 13 September 2025 – Ratusan pekerja asal Korea Selatan akhirnya kembali ke tanah air pada Jumat (12/9) setelah sempat ditahan selama sepekan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat (AS). Mereka menggambarkan pengalaman mencekam ketika aparat melakukan penggerebekan di pabrik baterai mobil di negara bagian Georgia.

“Itu seperti operasi militer,” kata salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya. Ia merujuk pada penggerebekan pada 4 September lalu di pabrik milik Hyundai Motor dan LG Energy Solution. Menurutnya, aparat menyebar di seluruh area pabrik dalam waktu kurang dari 10 menit.

Beberapa saksi lain menyebut agen pemerintah AS datang menggunakan helikopter dan kendaraan lapis baja. Para pekerja dipisahkan berdasarkan jenis visa. Mereka yang menggunakan program bebas visa ESTA atau visa bisnis B-1 langsung ditahan.

Penahanan Massal Terbesar

Dalam operasi yang disebut terbesar sepanjang sejarah Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) di satu lokasi, sebanyak 475 pekerja ditahan. Dari jumlah itu, lebih dari 300 di antaranya adalah warga negara Korea Selatan.

Otoritas AS menuding para pekerja melakukan aktivitas di luar otorisasi visa atau telah melewati masa tinggal. Selama penahanan, ponsel para pekerja disita sehingga mereka tidak bisa segera menghubungi keluarga.

“Saya sangat lega sekarang,” ujar Hwang In-song, kakak dari salah seorang insinyur yang ditahan. “Selama seminggu, saya tidak bisa tidur nyenyak karena terus khawatir.”

Keluhan Kondisi Penahanan

Sejumlah pekerja juga mengeluhkan kondisi di pusat detensi Folkston, Georgia. Mereka menyebut makanan yang disajikan berkualitas buruk, sementara air minum berbau pemutih.

“Itu yang terburuk,” ungkap seorang pekerja saat ditanya soal kehidupan di fasilitas tersebut.

Hingga kini, Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) belum memberikan tanggapan terkait tudingan tersebut.

Dampak pada Karier

Keluarga para pekerja turut mencurahkan kekhawatiran. Seorang istri pekerja subkontraktor, yang hanya menyebutkan nama keluarganya Kim, mengaku suaminya ditahan di hari pertama bekerja.

“Saya kira status visa B-1 memungkinkan dia bekerja sebagai supervisor,” ujarnya. Ia kini khawatir kejadian itu akan mempersulit perjalanan bisnis suaminya ke AS di masa depan.

Guncangan di Korea Selatan

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut Presiden AS Donald Trump sempat mendorong agar para pekerja Korea yang dibebaskan tetap tinggal di Amerika untuk melatih tenaga kerja lokal. Namun, sebagian besar pekerja menolak gagasan itu.

“Tidak ada yang ingin tinggal. Setelah mengalami ini, saya ragu kami akan kembali,” kata Jang Young-seon, pemegang visa B-1.

Rekaman video dan foto para pekerja dengan borgol di pergelangan tangan, pinggang, dan pergelangan kaki memicu kemarahan publik di Korea Selatan.

“Saya marah melihat sekutu memperlakukan saudara saya seperti kriminal,” kata Jang Young-eun, kakak dari salah satu pekerja yang ditahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional