PARIS, 4 Oktober 2026 — Gelombang demo pelajar yang memprotes kondisi pendidikan di Perancis meluas ke berbagai wilayah dan berujung bentrokan dengan polisi. Ribuan pelajar turun ke jalan, sementara lebih dari 700 sekolah terdampak aksi tersebut.
Aksi protes dipicu berbagai persoalan pendidikan, mulai dari kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu penuh, hingga kondisi sejumlah gedung sekolah yang dinilai memprihatinkan.
Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nuñez mengatakan, sebanyak 1.747 orang ditangkap pada Jumat (2/10) setelah demonstrasi berubah menjadi kerusuhan di sejumlah kota. “Situasi mulai bergeser menuju kerusuhan dan kekerasan perkotaan,” kata Nuñez kepada stasiun televisi TF1.
Menurut Menteri Kehakiman Gérald Darmanin, sebanyak 735 dari sekitar 3.700 sekolah di Perancis terdampak aksi tersebut dalam berbagai bentuk.
Protes Menyebar ke Berbagai Kota
Demonstrasi awalnya berlangsung di Paris pada pekan lalu sebelum menyebar ke sejumlah kota, termasuk Montpellier, Nantes, Marseille, Strasbourg, Rennes, dan kawasan sekitar Paris.
Di sejumlah lokasi, demonstrasi berubah menjadi bentrokan antara polisi dan massa. Api terlihat membakar sejumlah tempat di jalanan, sementara tempat sampah juga dibakar di Rennes dan Paris.
Di Pantin, salah satu kawasan di pinggiran Paris, polisi bergerak membubarkan massa setelah sejumlah benda dilemparkan ke arah petugas. Sementara itu, polisi menggunakan gas air mata di Strasbourg karena khawatir situasi semakin tidak terkendali.
Kementerian Pendidikan Perancis menyebut sedikitnya 65 staf pendidikan mengalami luka-luka selama kerusuhan. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah fasilitas sekolah, termasuk gerbang, pintu masuk, dan pagar.
Di Nantes, Nelson Mandela High School mengalami kerusakan yang diperkirakan mencapai lebih dari 2 juta euro setelah kebakaran menghancurkan pintu masuk berbahan kaca dan beberapa bagian bangunan.
Polisi Sita Bom Molotov dan Kapak
Polisi Perancis juga merilis foto sejumlah barang yang disita dari demonstran. Barang-barang tersebut antara lain bom pembakar, kapak, serta kembang api jenis mortar.
Salah satu insiden serius terjadi di Belfort, Perancis timur laut. Seorang remaja berusia 17 tahun ditangkap karena diduga melakukan percobaan pembunuhan terhadap seorang polisi.
Video yang telah di verifikasi BBC menunjukkan sekelompok pemuda mengejar seorang petugas. Polisi tersebut kemudian terjatuh dan dipukuli serta ditendang beberapa kali di bagian kepala.
Pelajar Keluhkan Kondisi Sekolah
Para pelajar mengatakan kondisi sekolah menjadi salah satu alasan utama mereka turun ke jalan. Mereka mengeluhkan jam belajar yang terlalu panjang, ruang kelas yang terlalu panas, serta banyaknya guru dan staf yang tidak masuk kerja.
Seorang pelajar berusia 16 tahun bernama Lola mengatakan aksi tersebut telah berhasil membuat sekolahnya di tutup. “Kami menganggap kami sudah menang karena sekolah kami tutup pagi ini,” ujarnya kepada AFP.
Namun, Lola juga mengkritik tindakan polisi yang menurutnya justru memperburuk keadaan.
Pemerintah Soroti Keterlibatan Non-Pelajar
Menteri Pendidikan Édouard Geffray mengatakan gerakan tersebut telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang bukan pelajar. Menurut dia, sejumlah guru melaporkan bahwa orang-orang yang berada di garis depan demonstrasi bukanlah siswa mereka.
Pemerintah juga mengambil langkah hukum terhadap orangtua. Darmanin mengatakan jaksa telah diminta mempertimbangkan pertanggungjawaban orangtua atas kerusakan yang dilakukan anak-anak mereka, termasuk kewajiban membayar biaya perbaikan.
Di sisi lain, sejumlah serikat pekerja Perancis menyatakan dukungan terhadap aksi para pelajar.
Serikat pendidikan SNEP-FSU, serikat layanan publik SNUEP-FSU, dan Solidaires menyerukan dukungan terhadap demonstrasi tersebut. Solidaires mengatakan para pelajar sekolah menengah memiliki hak untuk berkumpul, berserikat, dan melakukan demonstrasi.
Gelombang protes ini berlangsung pada saat pemerintahan Presiden Emmanuel Macron menghadapi tekanan politik menjelang pemilihan presiden tahun depan. Rencana pemangkasan anggaran yang berdampak pada pendanaan pendidikan turut memicu kemarahan para pelajar.
Sementara itu, sejumlah orangtua mengaku khawatir anak-anak mereka terjebak dalam aksi yang semakin penuh dengan kekerasan.
Di sekolah Claude Monet di Paris selatan, seorang ibu berusia 53 tahun bernama Anya mengatakan dia datang untuk mencari putranya. “Kami melarang dia datang. Saya berharap dia tidak ada di sini, tetapi dia memang meninggalkan rumah,” katanya kepada AFP.
Ia mengaku khawatir situasi akan semakin memburuk.











