Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Yaman Umumkan Operasi Militer Besar untuk Rebut Wilayah Houthi

badge-check

Api berkobar di kilang minyak perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco pada 3 oktober 2026. (Foto: AFP) Perbesar

Api berkobar di kilang minyak perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco pada 3 oktober 2026. (Foto: AFP)

ADEN, 5 Oktober 2026 — Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang masih dikuasai kelompok Houthi.

Pengumuman tersebut disampaikan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu (4/10). Al-Alimi mengatakan operasi tersebut bertujuan mengembalikan kendali pemerintah dan institusi negara ke seluruh wilayah Yaman.

“Mulai hari ini, saya mengumumkan dimulainya operasi militer untuk merebut kembali wilayah Republik yang tersisa dan memperluas kewenangan negara serta institusinya ke seluruh wilayah nasional,” kata Al-Alimi.

Ia juga memerintahkan angkatan bersenjata, pasukan keamanan, serta seluruh formasi militer untuk menjalankan operasi berdasarkan rencana yang telah disiapkan.

Houthi Kuasai Wilayah Strategis

Langkah pemerintah Yaman tersebut terjadi setelah kelompok Houthi dalam beberapa pekan terakhir memperluas wilayah kekuasaannya. Houthi telah merebut sebagian besar garis pantai Laut Merah Yaman. Termasuk kawasan strategis di sekitar Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting dunia.

Perkembangan tersebut meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Yaman yang di dukung Arab Saudi. Salah satu titik pertempuran utama saat ini berada di sekitar Taiz, kota strategis yang masih dikuasai pasukan pemerintah.

Dalam perkembangan terbaru, Houthi berhasil memutus jalur utama yang menghubungkan Taiz dengan Aden, kota yang menjadi pusat sementara pemerintahan Yaman.

Sejumlah sumber militer mengatakan langkah tersebut secara efektif membuat Taiz terisolasi dari Aden. Reuters juga melaporkan bahwa Houthi dalam 48 jam terakhir memperoleh sejumlah posisi strategis di sekitar Taiz.

Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco

Di tengah eskalasi pertempuran di Yaman, Houthi juga mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik dan drone terhadap fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan dilakukan terhadap fasilitas Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais di bagian timur Arab Saudi. Saree mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran di fasilitas yang menjadi sasaran.

Namun, klaim tersebut belum terkonfirmasi secara independen. Pemerintah Arab Saudi dan Aramco juga belum memberikan komentar mengenai klaim serangan tersebut.

Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan yang dilakukan Arab Saudi.

Kelompok tersebut mengklaim Arab Saudi telah melancarkan sekitar 50 serangan udara dan rudal dalam periode 12 jam terhadap sejumlah wilayah Yaman.

Arab Saudi Kembali Terlibat Langsung

Arab Saudi merupakan pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Riyadh sebelumnya memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi di Yaman pada 2015, setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memperluas pengaruhnya di wilayah utara.

Setelah periode relatif tenang dan gencatan senjata yang membantu menurunkan intensitas konflik, pertempuran kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Pemerintah Yaman sebelumnya juga melaporkan serangkaian serangan terhadap posisi Houthi, termasuk di Sanaa, Saada dan wilayah sekitar Taiz.

Reuters melaporkan bahwa pasukan pemerintah Yaman pada awal Oktober melakukan sekitar 20 serangan udara terhadap personel, kendaraan dan peralatan militer Houthi di Provinsi Taiz.

Konflik Yaman Kembali Meningkat

Perang Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dari pemerintahan yang di dukung Arab Saudi. Konflik kemudian berkembang menjadi perang regional setelah Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman pada tahun berikutnya.

Kini, pengumuman operasi militer Yaman atas kelompok Houthi tersebut membuka fase konflik yang lebih intens. Selain berdampak terhadap kondisi keamanan Yaman, perkembangan ini juga berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb.

Yaman sendiri masih menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, sementara konflik baru berpotensi meningkatkan jumlah korban dan pengungsian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Gara-gara Rebutan Parkir, Seorang Anak Tewas, Tiga Luka-luka

5 Okt 2026 - 08:23 WIB

Gara-gara Rebutan Parkir, Seorang Anak Tewas, Tiga Luka-luka

Demo Pelajar Meluas, 500 Sekolah di Perancis Terancam Tutup

5 Okt 2026 - 07:48 WIB

Demo Pelajar Meluas, 500 Sekolah di Perancis Terancam Tutup

Final FIFA ASEAN Cup 2026, Gianni Infantino Tiba di Indonesia

5 Okt 2026 - 07:08 WIB

Final FIFA ASEAN Cup 2026, Gianni Infantino Tiba di Indonesia

Pemerintah Australia: Roblox dan Minecraft Tidak Aman Bagi Anak

5 Okt 2026 - 06:57 WIB

Pemerintah Australia: Roblox dan Minecraft Tidak Aman Bagi Anak

Rusia Kembali Serang Jembatan, Lalu Lintas Ibu Kota Ukraina Terganggu

4 Okt 2026 - 08:13 WIB

Rusia Kembali Serang Jembatan, Lalu Lintas Ibu Kota Ukraina Terganggu
Trending di Internasional