JAKARTA, 3 Oktober 2026 — Arab Saudi tengah menyiapkan operasi militer dan akan serang kelompok Houthi yang di Yaman.
Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat regional dan negara-negara Barat yang mengetahui persiapan operasi tersebut.
Menurut enam sumber yang mengetahui rencana tersebut, operasi kemungkinan akan meluncur dalam beberapa pekan mendatang. Pasukan darat Yaman akan menjadi kekuatan utama dalam operasi dengan pengawasan Arab Saudi dan dukungan udara dari Riyadh.
Ada dua opsi strategi yang saat ini tengah dalam pertimbangan. Pertama, operasi terbatas di wilayah pesisir untuk mengamankan jalur pelayaran penting di Laut Merah. Kedua, serangan yang lebih luas melalui sejumlah front dengan melibatkan serangan terkoordinasi di beberapa wilayah Yaman.
Bab el-Mandeb Jadi Titik Utama
Salah satu tujuan utama operasi tersebut adalah merebut kembali wilayah yang baru-baru ini dikuasai Houthi, termasuk kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Houthi terlihat bergerak ke arah selatan sepanjang pesisir Yaman dan menguasai wilayah Bab el-Mandeb pada bulan lalu.
Bab el-Mandeb merupakan jalur keluar bagian selatan Laut Merah yang menjadi salah satu rute pelayaran penting antara Laut Tengah dan Asia.
Jalur tersebut kini semakin strategis karena konflik Iran telah mengganggu akses melalui Selat Hormuz, sehingga Bab el-Mandeb menjadi salah satu jalur alternatif bagi perdagangan internasional.
Sejumlah pejabat Teluk dan diplomat Barat mengatakan Riyadh menilai sulit untuk kembali melakukan perundingan damai dengan Houthi selama kelompok tersebut masih menguasai Bab el-Mandeb.
Penguasaan kawasan tersebut memberikan Houthi pengaruh terhadap salah satu jalur perdagangan laut paling penting di dunia.
Dua Opsi Operasi Militer
Menurut sumber-sumber tersebut, Arab Saudi sedang mengevaluasi dua kemungkinan operasi.
Opsi pertama berupa serangan terbatas yang berfokus pada kawasan Bab el-Mandeb dan wilayah pesisir di sekitarnya.
Opsi kedua berupa operasi yang lebih luas dengan serangan secara bersamaan di sejumlah provinsi, termasuk Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf.
Jumlah pasukan Yaman yang dapat dimobilisasi diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 personel, bergantung pada skala operasi yang akhirnya dipilih.
Belum ada kepastian mengenai tanggal peluncuran operasi. Sumber-sumber yang mengetahui persiapan tersebut memperkirakan waktunya dapat berlangsung dalam hitungan satu pekan hingga setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada awal November.
Pemerintah Arab Saudi dan Yaman, kelompok Houthi, serta militer AS belum memberikan tanggapan langsung mengenai laporan tersebut.
AS Bantu Intelijen
AS disebut telah memberikan dukungan intelijen kepada Arab Saudi untuk membantu operasi udara di Yaman. Seorang diplomat Barat mengatakan dukungan tersebut mencakup informasi penargetan yang dapat bermanfaat dalam operasi udara Saudi.
Namun, keterlibatan langsung AS dalam pertempuran belum dapat dipastikan.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk memberikan dukungan militer langsung, termasuk serangan udara.
Sekutu Saudi lainnya juga siap memberikan bantuan, terutama dalam bidang pertahanan. Turki dan Pakistan disebut telah menyediakan peralatan militer yang digunakan Arab Saudi di Yaman.
Pakistan mengirim empat pesawat kargo ke Aden pada bulan lalu. Peralatan yang di kirim antara lain sistem pertahanan udara, artileri ringan, drone, serta sistem untuk menangkal drone.
Sejumlah penasihat militer Pakistan juga sedang berada di Arab Saudi dan membantu mendukung pasukan Yaman.
Turki juga memasok drone yang sebelumnya telah di beli Arab Saudi dan kini beroperasi di wilayah Yaman.
Arab Saudi Khawatir Serangan Balasan
Salah satu kekhawatiran utama Riyadh adalah kemungkinan serangan balasan Houthi terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur penting Arab Saudi.
Houthi sebelumnya menggunakan drone dan rudal untuk menyerang sasaran Saudi.
Karena itu, Riyadh meminta sejumlah negara sekutu membantu menyediakan sistem pertahanan untuk melindungi fasilitas strategisnya.
Pakistan telah menempatkan sekitar 30.000 hingga 40.000 personel di Arab Saudi untuk membantu menjaga perbatasan dan menghadapi ancaman drone serta rudal.
Namun, menurut pejabat Pakistan, Islamabad belum mengambil keputusan untuk mengirim pasukan ke Yaman dalam kapasitas tempur.
Perancis juga mengumumkan rencana mengirim sistem pertahanan dan personel ke Arab Saudi untuk membantu melindungi kota pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Pasukan Anti-Houthi Terpecah
Operasi darat Arab Saudi akan sangat bergantung pada berbagai kelompok bersenjata Yaman yang selama perang saudara sebelumnya mendapat dukungan dan pelatihan dari Arab Saudi serta Uni Emirat Arab.
Namun, kekuatan anti-Houthi masih menghadapi persoalan koordinasi.
Analis Yaman Mohammed Albasha mengatakan banyak kelompok anti-Houthi belum terorganisasi dan belum siap menjalankan operasi ofensif berkelanjutan untuk menghadapi pasukan Houthi.
Kelompok Houthi sendiri di nilai memiliki struktur militer yang lebih terorganisasi.
Situasi pasukan Yaman semakin terpecah setelah kelompok pejuang dari wilayah selatan yang di dukung Uni Emirat Arab mencoba menguasai wilayah timur dan mengumumkan rencana pemisahan diri.
Kelompok tersebut akhirnya kalah oleh pasukan yang di dukung Arab Saudi setelah serangkaian bentrokan.
Operasi Berpotensi Buka Babak Baru Konflik Yaman
Arab Saudi sebelumnya telah terlibat langsung dalam perang saudara Yaman sejak 2015.
Riyadh memimpin koalisi Arab untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional setelah pasukan Houthi merebut Sanaa.
Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 2022 sebagian besar bertahan hingga konflik kembali meningkat tahun ini.
Serangan drone dan rudal Houthi terhadap kapal dan infrastruktur minyak Saudi kemudian kembali meningkatkan ketegangan.
Michael Ratney, mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, memperkirakan operasi yang akan dilakukan Riyadh kemungkinan berfokus pada sasaran tertentu. Selain itu kemungkinan juga hanya akan memiliki skala lebih terbatas daripada operasi Saudi pada 2015.
Menurut dia, salah satu tujuan utama Riyadh adalah merebut kembali wilayah pesisir yang berada di sekitar Bab el-Mandeb dan memulihkan kelancaran lalu lintas maritim.
Jika operasi tersebut benar-benar berlangsung, langkah Arab Saudi dapat membuka titik konflik baru di kawasan Timur Tengah yang saat ini masih penuh dengan sejumlah konflik.
Houthi sendiri telah menjadi salah satu kelompok sekutu Iran yang paling kuat di kawasan tersebut, terutama setelah kekuatan Hezbollah di Lebanon melemah akibat konflik dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir.









1 Komentar