PARIS, 8 Oktober 2026 — Pemerintah Perancis hentikan penggunaan granat kejut oleh polisi untuk mengendalikan demonstrasi pelajar yang meluas di berbagai wilayah negara itu. Keputusan tersebut diambil setelah seorang pelajar berusia 15 tahun mengalami cedera parah hingga kehilangan tangan dalam insiden di Lens.
Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nuñez mengatakan pemberlakuan penghentian sementara itu berlaku hingga aparat mengetahui fakta mengenai insiden yang terjadi pada Senin (5/10) tersebut. Kesaksian dari pihak demonstran dan aparat mengenai kronologi kejadian masih berbeda.
Aksi protes masih berlanjut pada Rabu (7/10). Lebih dari 500 sekolah dilaporkan ditutup seluruhnya atau sebagian akibat gelombang demonstrasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Pelajar Kehilangan Tangan
Insiden yang memicu keputusan pemerintah terjadi di dekat SMA Auguste Béhal di Lens, wilayah utara Perancis.
Seorang pelajar berusia 15 tahun mengalami cedera parah pada tangan setelah sebuah granat polisi meledak. Polisi dan pihak berwenang Perancis menyebut pelajar tersebut mengambil granat yang berada di lokasi sebelum benda itu meledak.
Namun, sejumlah pelajar memberikan kesaksian berbeda. Mereka menyatakan korban terkena granat yang ditembakkan polisi.
Kronologi tersebut kini tengah dalam penyelidikan. Polisi pengawas internal Perancis, IGPN, telah membuka 18 penyelidikan terkait dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan selama penanganan demonstrasi.
Nuñez mengatakan insiden di Lens menimbulkan pertanyaan serius di lingkungan Kementerian Dalam Negeri.
Lebih dari 500 Sekolah Terdampak
Demonstrasi dipicu oleh tuntutan pelajar terhadap kondisi pendidikan yang dinilai memburuk. Hal itu termasuk masalah kekurangan guru, ruang kelas yang padat, serta kondisi sejumlah bangunan sekolah.
Pada Selasa (6/10), ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air ketika sebagian aksi berujung bentrokan.
Kementerian Dalam Negeri menyebut 488 orang ditangkap, sementara 43 anggota aparat keamanan terluka dalam rangkaian aksi tersebut.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan 24 sekolah mengalami kebakaran atau kerusakan berat akibat aksi vandalisme. Kondisi tersebut membuat sekolah-sekolah itu harus ditutup selama beberapa pekan dan berdampak terhadap sekitar 30.000 siswa.
Pemerintah Janji Respons Terhadap Tuntutan Pelajar
Perdana Menteri Perancis Sébastien Lecornu membela tindakan aparat keamanan. Ia mengatakan polisi tidak menerima perintah untuk menghadapi pelajar secara langsung.
Dalam pidatonya pada Rabu malam, Lecornu mengakui bahwa keresahan pelajar memiliki alasan dan pemerintah akan menanggapi tuntutan mereka.
Pemerintah berencana menyampaikan sejumlah proposal pada akhir Oktober. Usulan tersebut antara lain mencakup renovasi bangunan sekolah dan penambahan jumlah guru.
Namun, pemerintah belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai langkah yang akan ditempuh.
Lecornu juga meminta sekolah menyediakan waktu bagi siswa untuk menyampaikan keluhan dan usulan mereka. Konsultasi daring yang dibuka pemerintah disebut telah menerima sekitar 30.000 tanggapan dalam satu hari.
Polisi dan Pelajar Saling Tuding
Penggunaan kekuatan oleh polisi menjadi salah satu isu utama dalam demonstrasi.
Selain kasus di Lens, seorang pelajar berusia 14 tahun sebelumnya mengalami cedera wajah setelah terkena granat gas air mata di Saint-Ouen-l’Aumône, sebelah barat laut Paris. Pengacaranya mengatakan korban kehilangan beberapa gigi dan mengalami patah rahang. Seorang polisi telah didakwa terkait insiden tersebut.
Di Strasbourg, seorang pelajar berusia 16 tahun juga mengalami cedera serius pada tangan karena petasan jenis mortir.
Sementara itu, jaksa membuka penyelidikan atas dugaan percobaan pembunuhan setelah seorang pelajar berusia 17 tahun mengaku kepalanya dibenamkan ke dalam air oleh polisi ketika hendak ditangkap di dekat sungai di Belfort.
Namun, polisi juga menjadi korban dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Pemerintah melaporkan ratusan aparat mengalami luka dalam bentrokan.
Serikat polisi UNSA mempertanyakan keputusan menghentikan penggunaan granat kejut. Sekretaris nasional serikat tersebut, Jean-Paul Nascimento, mengatakan aparat membutuhkan alat untuk membubarkan massa ketika demonstrasi berubah menjadi kekerasan.
Demonstrasi Berlanjut
Pemerintah mengatakan skala kekerasan yang menyertai demonstrasi berkembang dengan cepat dan belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Geffray mengeklaim sejumlah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah mengalami kekerasan. Ia juga menuduh kelompok-kelompok yang sangat militan telah menyusup ke dalam gerakan demonstrasi.
Nuñez menolak penyebutan tindakan aparat sebagai bentuk “represi polisi”. Menurut dia, aparat bertindak sebagai respons terhadap kekerasan dan kerusakan yang terjadi selama demonstrasi.
Di sisi lain, kelompok pelajar dan serikat pekerja menilai pemerintah belum menawarkan langkah konkret yang cukup untuk mengatasi persoalan pendidikan.
Serikat pelajar menyatakan demonstrasi lanjutan akan digelar pada Kamis (8/10) di Paris dan sejumlah kota lainnya.













1 Komentar