PARIS, 25 Oktober 2026 — Taktik pengendalian massa (dalmas) polisi Perancis menuai kritik setelah sejumlah remaja mengalami luka serius, termasuk kehilangan mata dan tangan, saat aksi protes. Penggunaan senjata pengendali massa oleh aparat kini menjadi sorotan menjelang demonstrasi lanjutan yang diperkirakan berlangsung di sejumlah kota.
Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun kehilangan satu matanya ketika mengikuti demonstrasi di Mulhouse pada Sabtu (17/10). Pada hari yang sama, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan satu tangannya dalam aksi protes di Saint-Etienne.
Remaja lainnya juga mengalami cedera yang menyebabkan gangguan fisik permanen selama beberapa pekan aksi blokade sekolah menengah dan demonstrasi jalanan.
Kritik terhadap polisi muncul setelah demonstrasi pekan lalu menentang kenaikan biaya hidup dan buruknya kondisi sekolah. Dalam aksi tersebut, petugas terlihat kewalahan menghadapi jumlah demonstran. Pemerintah Prancis kemudian mengumumkan penambahan personel polisi untuk mengantisipasi demonstrasi lanjutan dan mencegah kekerasan kembali terjadi.
Senjata Pengendali Massa Jadi Sorotan
Polisi Prancis menggunakan sejumlah perlengkapan untuk mengendalikan demonstrasi, termasuk tongkat, gas air mata, granat kejut, pelontar proyektil busa, serta tameng dengan lampu strobo kuat untuk membingungkan demonstran.
Kepolisian Nasional Prancis menyatakan senjata berkekuatan menengah tersebut merupakan alat pertahanan yang memungkinkan aparat merespons ancaman secara bertahap dan proporsional.
Namun, keluarga remaja yang terluka dan kelompok pengkritik menilai penggunaan senjata tersebut terlalu berlebihan. Mereka menyerukan pelarangan pelontar proyektil busa, gas air mata, dan granat kejut.
Amnesty International pada awal Oktober juga meminta pelarangan permanen terhadap seluruh jenis granat kejut. Organisasi tersebut menyatakan penggunaan senjata itu bertujuan untuk mengejutkan, membingungkan, dan menimbulkan kepanikan. Lebih jauh, senjata itu juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan cedera serius akibat ledakan maupun serpihan.
Pedoman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai less-lethal weapon atau senjata kurang mematikan, menyatakan proyektil berdampak kinetik hanya boleh digunakan ketika terdapat ancaman nyata. Proyektil tersebut tidak boleh diarahkan ke kepala, wajah, atau leher.
Neil Corney, peneliti persenjataan dari Omega Research Foundation di Inggris yang turut menyusun pedoman PBB, memperingatkan bahwa pelontar proyektil busa tetap dapat menyebabkan kematian dalam kondisi tertentu, meskipun masuk dalam kategori sebagai senjata yang kurang mematikan.

Metode Penanganan Demonstrasi
Penggunaan senjata tersebut mencerminkan perubahan pendekatan kepolisian Prancis yang semakin mengandalkan taktik menjaga jarak dari demonstran, menurut Jean-Marie Godard, pengamat keamanan dalam negeri Prancis.
Pada awal 2000-an, pemerintah konservatif Prancis beralih dari model kepolisian berbasis komunitas, yang menekankan patroli berjalan kaki dan interaksi dengan warga, menuju penggunaan unit khusus pengendali kerusuhan.
Laura Keesmann, sosiolog Universitas Antwerp yang memimpin penelitian perbandingan metode kepolisian di Prancis, Inggris, Belanda, dan Swedia, mengatakan pendekatan Prancis berbeda dari negara-negara lain yang diteliti.
Di negara-negara tersebut, polisi lebih sering berinteraksi langsung dengan demonstran, termasuk berada di tengah kerumunan untuk meredakan ketegangan.
Meski demikian, Keesmann mengakui polisi Prancis menghadapi demonstran yang sangat militan dan terkadang melakukan kekerasan.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez sebelumnya mengatakan bahwa polisi dan gendarmerie harus dapat menggunakan seluruh senjata berkekuatan menengah yang tersedia bagi mereka.
Perancis Tangkap Ribuan Orang dalam Demonstrasi
Prancis memiliki lebih dari 250.000 personel polisi nasional dan gendarmerie. Polisi umumnya bertugas di perkotaan, sedangkan gendarmerie lebih banyak menangani wilayah pedesaan dan kota-kota kecil. Kedua institusi berada di bawah Kementerian Dalam Negeri.
Menurut kementerian tersebut, sebanyak 997 polisi dan anggota gendarmerie terluka dalam kerusuhan pada Sabtu, termasuk tujuh orang yang mengalami luka serius.
Polisi juga melaporkan lebih dari 100 demonstran dan warga mengalami luka di Paris pada hari yang sama. Namun, pemerintah belum merilis jumlah korban luka secara nasional.
Polisi menangkap sekitar 2.400 orang di seluruh Prancis pada hari tersebut.
Pemerintah Prancis menyalahkan kelompok radikal kiri atas sebagian besar kekerasan dalam demonstrasi baru-baru ini. Otoritas menuduh kelompok tersebut mengorganisasi bentrokan dengan polisi dan menyerang bangunan publik. Sejumlah pihak lain juga disebut memanfaatkan situasi untuk menjarah toko.















