BANGKOK, 28 September 2026 — Ribuan warga Bangkok, Thailand, menghabiskan malam di tempat pengungsian setelah hujan deras selama beberapa hari memicu banjir di sejumlah wilayah Ibu Kota Thailand tersebut. Sebagian warga mulai kembali ke rumah untuk mengeringkan bangunan dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan. Namun, genangan masih merendam sejumlah jalan dan permukiman.
Menurut Bangkok Metropolitan Administration (BMA), hampir 4.900 warga telah dievakuasi ke tempat pengungsian. Banjir juga berdampak terhadap sekitar 52.000 rumah tangga. Pemerintah Bangkok menetapkan status bencana di seluruh wilayah ibu kota akibat banjir tersebut.
Badan meteorologi setempat mencatat curah hujan lebih dari 330 milimeter di sejumlah kawasan Bangkok selama periode Kamis hingga Minggu.
Warga Sebut Banjir Lebih Parah
Thailand memang terbiasa menghadapi hujan deras karena September merupakan puncak musim hujan. Namun, sejumlah warga Bangkok menilai banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kosin Nilset (44), seorang pekerja kantoran yang tinggal di dekat Kanal Premprachakorn di pinggiran Bangkok, mengatakan rumahnya terendam selama sekitar 30 jam. “Rumah kami terendam air selama sekitar 30 jam,” kata Kosin, Minggu.
Menurut dia, ketinggian air kali ini bahkan melebihi banjir besar yang melanda Thailand pada 2011. “Kali ini, permukaan air lebih tinggi daripada banjir 2011,” ujarnya.
Banjir besar pada 2011 menewaskan lebih dari 500 orang dan merusak jutaan rumah di Thailand.
Kosin dan keluarganya berusaha memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi setelah melihat permukaan air mulai melewati dinding penahan kanal. Namun, lantai dasar rumah mereka tetap terendam.
Ia bersyukur aliran air bersih dan listrik masih berfungsi. “Setidaknya air keran dan listrik masih berfungsi,” katanya sambil menyapu air yang menggenangi rumah.
Warga Menembus Genangan
Genangan air juga terlihat di sejumlah kawasan Bangkok bagian timur. Warga yang mengenakan jas hujan plastik terlihat berjalan menerobos air banjir yang keruh. Di beberapa lokasi, ketinggian air mencapai lutut, termasuk di area parkir sebuah toko bahan makanan.
Sebagian warga membawa barang-barang mereka menggunakan wadah plastik yang di apungkan di atas genangan.
Pada Minggu pagi, permukaan air di jaringan kanal Bangkok masih tinggi. Pemerintah kota berupaya mempercepat proses pengeringan dan pembuangan air.
Hujan juga masih diperkirakan turun di Bangkok dan provinsi-provinsi sekitarnya sepanjang Minggu. Namun, intensitas hujan diperkirakan mulai berkurang pada Senin.
Para ilmuwan sebelumnya memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat emisi bahan bakar fosil.
Hampir 4.900 Warga Mengungsi
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengatakan sejumlah jalan masih terendam banjir. Ia mengimbau warga menghindari perjalanan yang tidak penting.
Chadchart juga mengunjungi tempat pengungsian sementara di sebuah sekolah di kawasan Kheha Romklao pada Sabtu malam. Sekitar 1.000 warga telah di evakuasi ke lokasi tersebut.
Suasana pengungsian penuh dengan warga yang berusaha beristirahat sambil membawa hewan peliharaan mereka.
Sebagian warga tidur di ranjang lipat dan bangku yang terletak di lorong sekolah. Warga lainnya tidur beralaskan selimut di lantai ruang kelas setelah meja dan kursi di pindahkan.
BMA juga menyatakan ratusan sekolah di Bangkok akan di tutup pada Senin akibat kondisi banjir.
Sejumlah toko kelontong bahkan mulai kehabisan beberapa kebutuhan pokok setelah warga berbondong-bondong membeli persediaan untuk menghadapi banjir.
Kantor Perdana Menteri Thailand mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Pemerintah juga mengingatkan bahwa menaikkan harga barang secara tidak wajar merupakan tindakan yang dapat dikenai sanksi pidana.
Warga Bertahan di Rumah
Thidarat Silsuwan (56) memilih tetap bertahan di rumahnya yang sebagian masih terendam di sepanjang Kanal Premprachakorn.
Perempuan yang tinggal seorang diri itu mengatakan dirinya sudah tidur di atas meja selama dua hari untuk menghindari genangan. “Saya sudah tidur di atas meja selama dua hari,” ujar Thidarat.
Ia tidak ingin meninggalkan rumah menuju tempat pengungsian karena masih berusaha membersihkan rumah dan menyelamatkan barang-barangnya. Thidarat mengatakan masih berusaha untuk memindahkan sebagian besar barang ke tempat yang lebih tinggi. Namun, ia akhirnya menyerah untuk menyelamatkan sejumlah peralatan elektronik berukuran besar.
“Saya mencoba mengangkat semuanya, tetapi menyerah untuk peralatan elektronik besar seperti kulkas dan mesin cuci. Sepertinya keduanya rusak,” katanya.










