BAKU, 17 Oktober 2026 – Menteri Luar Negeri China Wang Yi desak Israel hentikan pembangunan permukiman secara paksa di Tepi Barat dan membatalkan tindakan yang berkaitan dengan perluasan permukiman tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Wang saat bertemu langsung dengan Presiden Israel Isaac Herzog di sela-sela konferensi di Azerbaijan pada Kamis (15/10). Menurut keterangan kantor Wang, ia juga menyebut persoalan Palestina sebagai “ketidakadilan historis terbesar abad ini”.
China selama ini mendukung perjuangan Palestina dan menilai solusi dua negara sebagai arah yang tepat untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.
Beijing juga berupaya menempatkan diri sebagai mediator dalam berbagai konflik di Timur Tengah, termasuk melalui pendekatan diplomatik dan kerja sama dengan negara-negara di kawasan.
China Desak Akses Gaza Dibuka
Wang mengatakan prioritas mendesak saat ini adalah membuka akses ke Gaza sepenuhnya dan menghentikan memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Ia menegaskan, China bersedia bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk mendorong pihak-pihak yang berkonflik kembali berdialog dan mencari penyelesaian politik.
Upaya diplomasi China sebelumnya mencakup mediasi bagi faksi-faksi Palestina yang berseteru. Pada 2024, Beijing berhasil memfasilitasi pertemuan antara kelompok-kelompok tersebut hingga mencapai sebuah kesepakatan. Mereka setuju untuk membentuk pemerintahan rekonsiliasi nasional sementara bagi wilayah Tepi Barat yang diduduki serta Gaza, setelah perang dengan Israel berakhir.
Namun, kesepakatan itu tidak pernah diterapkan.
Dalam unggahan di platform X, Herzog mengatakan dirinya senang bertemu Wang. Ia menyebut pembicaraan mereka berfokus pada hubungan bilateral serta situasi di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Herzog menegaskan keinginan Israel untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut. Namun, ia juga menyoroti berbagai ancaman strategis bagi keamanan negaranya, khususnya dari Iran serta kelompok-kelompok proksi yang didukung Teheran.
China sendiri memiliki hubungan dekat dengan Iran dengan menjadi pembeli terbesar minyak negara tersebut.
China Berupaya Memainkan Peran Diplomatik
Selain mendorong penyelesaian konflik Palestina, China juga terlibat dalam sejumlah inisiatif diplomatik di Timur Tengah.
Pada 2023, Beijing menjadi perantara kesepakatan pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan.
China juga terlibat bersama Pakistan dalam upaya mengusulkan gencatan senjata dalam perang AS-Israel melawan Iran pada tahun ini.
Di sisi lain, pemerintah China menghadapi kritik terkait kebijakannya terhadap kelompok minoritas di Tibet dan Xinjiang. China dituduh mendorong migrasi etnis Han untuk mengurangi dominasi populasi minoritas di kedua wilayah tersebut.
Beijing menolak tuduhan itu dan menyatakan kebijakannya bertujuan mendorong pembangunan ekonomi serta menjaga stabilitas sosial.
Serangan di Gaza Masih Berlanjut
Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata di Gaza kini telah berlangsung selama satu tahun. Namun, warga setempat masih saja dibayangi ancaman serangan Israel, pengungsian, dan kesulitan mendapatkan pangan.
Pemboman berskala besar memang telah berhenti, tetapi Israel masih melancarkan serangan di Gaza hampir setiap hari.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 1.400 warga Palestina tewas akibat serangan Israel selama setahun sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat itu merupakan tahap pertama dari kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza. Namun, proses menuju tahap berikutnya dalam kesepakatan itu masih terhambat. Israel dan Hamas sama-sama menuduh pihak lawan melanggar ketentuan gencatan senjata.















