Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

China Pecat 33 Anggota Partai Komunis, Termasuk Jenderal Militer

badge-check

Presiden China, Xi Jinping dan para pejabat partai di Balai Agung Rakyat di Beijing, China. Kamis, 22 Oktober 2026. (REUTERS/Florence Lo/Pool) Perbesar

Presiden China, Xi Jinping dan para pejabat partai di Balai Agung Rakyat di Beijing, China. Kamis, 22 Oktober 2026. (REUTERS/Florence Lo/Pool)

BEIJING, 30 Oktober 2026 — China Pecat 33 anggota Partai Komunis setelah berakhirnya sidang pleno kelima Komite Sentral yang berlangsung selama empat hari di Beijing. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi dalam satu periode pleno, yang kali ini juga mencatat jumlah kehadiran anggota paling sedikit sepanjang sejarah.

Berdasarkan komunike yang terbit pada Kamis (29/10), 16 dari 33 anggota yang dipecat berasal dari kalangan militer. Partai Komunis China menyebut mereka melakukan pelanggaran disiplin serius dan pelanggaran hukum, tetapi tidak merinci tuduhan itu secara spesifik.

Sidang pleno kelima tersebut dihadiri 279 anggota Komite Sentral. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan pleno keempat pada Oktober 2025 yang dihadiri 315 anggota dan pleno ketiga pada Juli 2024 dengan 364 anggota.

Untuk pertama kalinya selama 14 tahun kepemimpinan Xi Jinping, jumlah kehadiran dalam pleno turun di bawah 300 orang. Padahal, Komite Sentral yang mulai bertugas pada 2022 memiliki lebih dari 370 anggota.

Pembersihan Antikorupsi Terus Berlanjut

Sejak mengambil alih kepemimpinan pada 2012, Xi Jinping menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu pilar utama pemerintahannya. Ia pernah menyebut korupsi sebagai ancaman terbesar bagi Partai Komunis China.

Namun, sejumlah pengamat menilai kampanye tersebut kini tidak hanya berkaitan dengan pemberantasan korupsi, tetapi juga upaya memperkuat kendali politik Xi.

Chong Ja Ian, sarjana nonresiden di Carnegie China, menilai kampanye tersebut telah berkembang menjadi upaya untuk mengonsolidasikan dan mempertahankan kekuasaan. Menurut Chong, perluasan kampanye itu dapat bergantung pada seberapa aman posisi Xi dalam kepemimpinannya, bukan semata-mata pada persoalan korupsi.

Dalam pernyataannya, Partai Komunis China mengakui adanya kondisi serius ketika kepemimpinan partai melemah atau kehilangan substansinya. Partai juga menegaskan akan melanjutkan penegakan disiplin internal secara ketat.

Dengan pemecatan terbaru tersebut, jumlah anggota yang disingkirkan selama masa jabatan ketiga Xi mencapai 51 orang. Angka itu meningkat di banding 35 orang pada masa jabatan pertamanya dan lima orang pada masa jabatan keduanya.

Di luar sidang pleno, badan pengawas antikorupsi tertinggi China melaporkan bahwa 680.000 orang di lingkungan partai telah mendapatkan sanksi disipliner selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Sejumlah pengamat menilai Xi memandang korupsi bukan hanya sebagai penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi, tetapi juga sebagai persoalan kemurnian ideologi dan ketidaksetiaan politik.

Pada Januari, Xi memperingatkan keberadaan kader bermuka dua, yakni pejabat yang menyatakan loyalitas politik tetapi mengabaikan perintah dan bertindak demi kepentingan pribadi.

Sejumlah Pejabat Tinggi Ikut Tersingkir

Di antara pejabat senior yang di pecat terdapat mantan pemimpin Partai Komunis di wilayah Xinjiang, Ma Xingrui, serta dua mantan jenderal senior, Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Pernyataan resmi mengenai pemberhentian mereka menyebut adanya pelanggaran serius terhadap disiplin dan aturan partai. Istilah tersebut kerap digunakan dalam pengumuman resmi China terkait kasus yang dikaitkan dengan dugaan korupsi.

Pembersihan di jajaran tertinggi militer menjadi salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian. Neil Thomas, Lobsang Tsering, dan Shengyu Wang dari Asia Society Policy Institute menilai pembersihan militer memiliki arti tersendiri di banding penyingkiran pejabat lainnya.

Mereka memperingatkan bahwa perubahan besar di pucuk pimpinan militer menimbulkan pertanyaan mengenai kepemimpinan organisasi dan kesiapan tempur China. Hal itu terjadi ketika negara tersebut terus memperkenalkan berbagai perangkat militer baru.

Zhang Youxia sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat, lembaga yang mengendalikan angkatan bersenjata China.

Setelah serangkaian penyingkiran, komisi yang semula beranggotakan tujuh orang itu kini hanya memiliki dua anggota, yakni Xi Jinping sebagai ketua dan Zhang Shengmin sebagai wakil ketua.

Ma Xingrui dan Zhang Youxia sebelumnya juga merupakan anggota Politbiro. Penyingkiran keduanya, bersama mantan jenderal He Weidong pada 2025, sempat mengurangi jumlah anggota Politbiro yang beranggotakan 24 orang menjadi 21 orang.

Chong mengatakan Xi tidak ragu memberhentikan orang-orang yang sebelumnya ia promosikan. Menurutnya, kemampuan Xi melakukan hal tersebut dengan sedikit perlawanan menunjukkan kuatnya posisi politik Xi saat ini.

Kongres Partai 2027 menjadi perhatian

Peningkatan penekanan terhadap disiplin partai juga dikaitkan dengan Kongres Partai Komunis China berikutnya yang dijadwalkan pada 2027. Dalam agenda tersebut, partai akan kembali menentukan kepemimpinan untuk periode berikutnya.

Masa perombakan kepemimpinan kemungkinan baru akan berlangsung pada tahun depan. Sejumlah analis memperkirakan Xi akan berupaya mempertahankan jabatan puncaknya untuk masa jabatan keempat atau bahkan lebih lama.

Jika terwujud, masa kepemimpinan tersebut akan menjadi yang terpanjang setelah Mao Zedong, pendiri Republik Rakyat China.

Thomas menilai banyaknya pejabat yang tersingkir dari Komite Sentral saat ini membuat Xi memiliki alasan untuk memeriksa lebih ketat calon pemimpin generasi berikutnya.

Menurutnya, kandidat yang berpeluang naik saat ini cenderung berusia relatif muda, memiliki latar belakang teknokratis, dan mempunyai hubungan dengan jaringan politik Xi. Jajaran pimpinan provinsi dinilai menjadi salah satu tempat yang patut diperhatikan untuk melihat calon-calon tersebut.

Para pengamat memperkirakan Xi akan tetap mendominasi pemilihan personel pada Kongres Partai ke-21. Kondisi itu berpotensi semakin memperkuat kendalinya atas partai dan negara.

Chong menilai hasil pleno kelima menunjukkan Xi ingin tetap menjadi pusat kekuasaan China dan Partai Komunis untuk waktu yang lama.

Meski demikian, ia memperingatkan bahwa konsentrasi kekuasaan yang semakin besar pada satu pemimpin dapat menimbulkan persoalan suksesi pada masa mendatang. Terutama ketika Xi menua dan kemampuan kepemimpinannya mulai menurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang Midterm 2026, Manuver Trump Picu Kekhawatiran soal Integritas Pemilu AS

30 Okt 2026 - 12:02 WIB

Jelang Midterm 2026, Manuver Trump Picu Kekhawatiran soal Integritas Pemilu AS

Gubernur Alaska Perintahkan Penyelidikan atas Kandidat Partai Demokrat, Terkait Nama Sam

30 Okt 2026 - 10:01 WIB

Gubernur Alaska Perintahkan Penyelidikan atas Kandidat Partai Demokrat, Terkait Nama Sam

Kalah Pilpres Brasil, Flávio Bolsonaro Pindah ke AS

30 Okt 2026 - 07:10 WIB

Kalah Pilpres Brasil, Flávio Bolsonaro Pindah ke AS

Keberadaan Flávio Bolsonaro Masih Misterius, Dikabarkan ke Ekuador

29 Okt 2026 - 08:19 WIB

Keberadaan Flávio Bolsonaro Masih Misterius, Dikabarkan ke Ekuador

Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol Tewaskan Sedikitnya 64 Orang

29 Okt 2026 - 07:08 WIB

Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol Tewaskan Sedikitnya 64 Orang
Trending di Internasional