Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Gelombang Demonstrasi Meluas di Eropa, dari Perancis hingga Italia dan Portugal

badge-check

Pengunjuk rasa di Lisbon, Portugal. (AFP/Filipe Amorim) Perbesar

Pengunjuk rasa di Lisbon, Portugal. (AFP/Filipe Amorim)

MILAN, 20 Oktober 2026 – Gelombang demonstrasi di Eropa yang sebelumnya mengguncang Spanyol dan Perancis meluas ke Italia dan Portugal. Protes terkait kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, dan ketimpangan sosial di sejumlah negara Eropa itu diwarnai bentrokan dengan polisi, pembakaran properti, hingga pendirian tenda darurat.

Di Milan, Italia, demonstrasi pada Sabtu (17/10) berlangsung damai pada awalnya. Namun, aksi tersebut berakhir ricuh setelah sejumlah demonstran bertopeng melemparkan batu, paving block, dan benda lain ke arah polisi antihuru-hara.

Massa juga membakar barikade yang dibuat dari meja-meja bar. Polisi kemudian menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Foto-foto setelah bentrokan menunjukkan sebuah mobil Carabinieri, kepolisian nasional Italia, mengalami kerusakan parah. Kantor berita LaPresse melaporkan sedikitnya dua polisi terluka dan sekitar 50 demonstran, termasuk banyak anak di bawah umur, ditahan.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan masyarakat berhak menyampaikan aspirasi, tetapi tindakan membakar kota tidak dapat dibenarkan.

Demonstran berkumpul di Piazza Duomo, Milan, Italia. (AFP/Piero Cruciatti)

Dalam unggahan di media sosial, Meloni menuding sejumlah perusuh memanfaatkan demonstrasi untuk menciptakan kekacauan, menyerang aparat keamanan, dan menyandera kehidupan kota.

Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga menyatakan bahwa alasan di balik demonstrasi dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan perusakan kota tidak dapat dibenarkan.

Portugal Diramaikan Tenda Darurat Protes Perumahan

Di Lisbon, Portugal, para demonstran mendirikan tenda darurat untuk menuntut penanganan krisis perumahan dan kenaikan biaya hidup. Aksi tersebut mengingatkan pada tenda darurat yang didirikan di Madrid sekitar tiga pekan sebelumnya.

Ratusan demonstran berkumpul pada malam hari di Rossio Square, kawasan pusat ibu kota Portugal yang ramai dikunjungi wisatawan. Aksi itu berlangsung setelah demonstrasi yang diikuti ribuan orang di berbagai wilayah negara tersebut.

Para peserta berjanji bertahan semalaman. Ratusan orang terlihat duduk mengelilingi patung Raja Pedro IV sambil menyanyikan lagu-lagu protes.

Tenda-tenda darurat yang didirikan oleh para demonstran di Rossio Square (Praça de Dom Pedro IV), Lisbon, Portugal. (EPA/Manuel Fuentes)

Elena Costa, pekerja sosial berusia 46 tahun, mengatakan masyarakat pembayar pajak yang menopang perekonomian Portugal merasa kehilangan hak-haknya, terutama hak atas tempat tinggal.

Sementara itu, Antonio Margado, insinyur berusia 52 tahun, mengkritik pemerintah kanan-tengah yang dinilainya semakin melonggarkan aturan sewa. Menurut dia, pemilik properti semakin terlindungi, sedangkan penyewa justru semakin rentan.

Data resmi menunjukkan harga rumah di Portugal naik 124 persen pada periode 2015–2024, sekitar dua kali lebih cepat daripada rata-rata Uni Eropa. Kenaikan tersebut memberikan tekanan besar kepada kelompok usia muda dan penduduk Lisbon.

Sekitar seperempat dari lebih dari 11 juta penduduk Portugal tinggal di kawasan metropolitan Lisbon.

Kamp tenda darurat di Lisbon memperluas gerakan protes perumahan yang sebelumnya muncul di Porto, kota di bagian utara Portugal. Di sana, puluhan tenda telah didirikan oleh para demonstran.

Dalam demonstrasi lain yang digelar serikat pekerja utama CGTP di Lisbon, massa menuntut perbaikan layanan publik, kenaikan pensiun dan upah, serta kebijakan untuk mengatasi mahalnya biaya perumahan.

Perdana Menteri Portugal Luís Montenegro mengatakan pemerintah memahami keinginan masyarakat untuk menyampaikan kemarahan terhadap kebijakan publik. Namun, ia memperingatkan lawan politik agar tidak membawa situasi ketidakstabilan dan gelombang protes dari negara lain ke Portugal.

Protes di Albania Berujung Pembakaran Bangunan

Kerusuhan juga terjadi di Albania pada pekan yang sama. Para demonstran yang memprotes kondisi universitas dan tingginya biaya kuliah menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.

Pada Sabtu, demonstran melemparkan batu, benda logam, bahkan bom molotov ke arah polisi. Massa juga membakar mobil serta tempat sampah untuk dijadikan barikade guna menghambat pergerakan aparat.

Sebuah mobil terbakar di luar gedung Perdana Menteri di Tirana, Albania. (AP/Hameraldi Agolli)

Polisi menembakkan peluru karet kepada demonstran untuk pertama kalinya sejak rangkaian protes dimulai. Bentrokan berlanjut hingga malam hari. Sejumlah bangunan, termasuk gedung pengadilan, bank, dan kantor pos, terbakar atau mengalami kerusakan berat.

Kerusuhan tersebut terjadi setelah berbulan-bulan demonstrasi antipemerintah di negara Balkan itu. Aksi sebelumnya dipicu oleh proyek pembangunan resor kontroversial yang dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Krisis Perumahan Memicu Gelombang Protes di Eropa

Di Spanyol, kemarahan terhadap kenaikan harga sewa dan ketimpangan sosial meningkat setelah seorang perempuan berusia 87 tahun, María del Carmen Abascal, diusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar kenaikan sewa sebesar 230 persen yang diminta perusahaan investasi pemilik apartemennya.

Kasus tersebut memicu demonstrasi jalanan dan pendirian kamp protes di pusat Madrid. Pemerintah yang dipimpin Partai Sosialis kemudian mengusulkan langkah darurat untuk mempermudah dan melindungi akses masyarakat terhadap perumahan.

Namun, partai-partai kanan dan kanan-jauh menolak langkah tersebut di parlemen. Perdana Menteri Pedro Sánchez kemudian mengumumkan pemilihan umum dini yang dijadwalkan berlangsung pada akhir November.

Sementara itu, di Perancis, kemarahan atas ketidakhadiran guru dan buruknya fasilitas sekolah di kawasan pinggiran utara Paris yang berpenghasilan rendah berkembang menjadi gerakan nasional. Demonstrasi tersebut meluas ke isu ketimpangan, rendahnya belanja publik, dan penurunan standar pendidikan.

Lebih dari 1.200 orang ditangkap di Perancis pada Sabtu setelah demonstran yang mendukung pelajar sekolah menengah bentrok dengan polisi. Sejumlah aksi kemudian berkembang menjadi kerusuhan, disertai pembakaran bangunan dan penjarahan toko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Drone Ukraina Hantam Fasilitas Minyak Rusia, Satu Orang Tewas

19 Okt 2026 - 09:11 WIB

Drone Ukraina Hantam Fasilitas Minyak Rusia, Satu Orang Tewas

Kerusuhan Perancis, 2.400 Orang Ditangkap usai Penjarahan dan Pembakaran

19 Okt 2026 - 08:31 WIB

Kerusuhan Perancis, 2.400 Orang Ditangkap usai Penjarahan dan Pembakaran

Baru Sepekan Bertugas, Jubir Gedung Putih Katie Zacharia Diganti

18 Okt 2026 - 09:06 WIB

Baru Sepekan Bertugas, Jubir Gedung Putih Katie Zacharia Diganti

Trump Tunda Sanksi Baru terhadap Rusia, Apa Alasannya?

18 Okt 2026 - 08:34 WIB

Trump Tunda Sanksi Baru terhadap Rusia, Apa Alasannya?

Demo di Perancis Berujung Ricuh, Massa Jarah Toko dan Lakukan Pembakaran

18 Okt 2026 - 08:07 WIB

Demo di Perancis Berujung Ricuh, Massa Jarah Toko dan Lakukan Pembakaran
Trending di Internasional