Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Gelombang Demonstrasi Masih Berlanjut di Eropa, Albania dan Italia Memanas

badge-check

Polisi berhadapan dengan para pengunjuk rasa "Italia in Piazza" di Milan, Italia. Sabtu, 17 Oktober 2026. (LaPresse/Stefano Porta) Perbesar

Polisi berhadapan dengan para pengunjuk rasa "Italia in Piazza" di Milan, Italia. Sabtu, 17 Oktober 2026. (LaPresse/Stefano Porta)

TIRANA, 21 Oktober 2026 — Gelombang demonstrasi di sejumlah negara Eropa terus berlanjut, dipicu kenaikan biaya hidup, persoalan pendidikan, korupsi, dan krisis perumahan. Di Albania, polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran di ibu kota Tirana pada Selasa (20/10), dalam aksi yang memasuki hari kedelapan berturut-turut.

Sementara itu, di Italia, pemerintah mengumumkan langkah-langkah keamanan baru setelah kerusuhan di Milan pada akhir pekan menyebabkan penjarahan toko dan pembakaran properti di kawasan perbelanjaan pusat kota.

Di Albania, pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabung dengan gerakan anti-pemerintah yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri dari Partai Sosialis, Edi Rama. Mereka menuntut penurunan biaya kuliah, peningkatan investasi negara di bidang pendidikan, serta pemberantasan korupsi dalam sistem pendidikan.

Selama beberapa hari terakhir, bentrokan terjadi di pusat kota Tirana. Demonstran melempar batu, suar, bom api, dan kembang api ke arah polisi. Petugas merespons dengan tongkat, meriam air, dan gas air mata.

Aksi terbaru ini menyusul demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan oleh gerakan Flamingo. Gerakan tersebut muncul untuk menentang proyek pengembangan pariwisata mewah di pesisir selatan Albania yang dikaitkan dengan perusahaan investasi yang didirikan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Rama Tuduh Ada Pihak yang Memanfaatkan Demonstrasi

Perdana Menteri Albania Edi Rama menuduh sejumlah pihak memanfaatkan keresahan masyarakat untuk memicu kekerasan dan menggulingkan pemerintah.

“Gelombang lemparan batu, upaya menggulingkan pemerintah dan mengganti mereka yang berkuasa melalui pemaksaan kekerasan—sesuatu yang tidak akan pernah dibiarkan terjadi, dalam bentuk apa pun atau dengan alasan apa pun,” kata Rama setelah bertemu dengan guru dan perwakilan sekolah di Tirana, Selasa.

Rama mengatakan, persoalan biaya hidup, perumahan, keamanan masa depan, dan terbatasnya kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan merupakan keresahan yang nyata. Namun, menurut dia, beberapa pihak memanfaatkan kekhawatiran tersebut dan sengaja menciptakan kekerasan.

Ia juga menuduh para demonstran menciptakan suasana teror di kota dan menyebut mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut sebagai bagian dari arus ekstremisme politik yang sedang berkembang.

Italia Denda Orang Tua Pelajar yang Ikuti Demo

Sementara itu, pemerintah Italia mengumumkan dekret keamanan baru untuk menanggulangi kekerasan dalam demonstrasi, terutama setelah kerusuhan di Milan pada akhir pekan.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan pemerintah akan mengerahkan tambahan 500 personel militer ke Milan hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut juga mencakup aturan yang mewajibkan orang tua membayar kerusakan properti yang disebabkan anak-anak mereka.

Pemerintah turut memperkenalkan tindak pidana baru berupa keterlibatan dalam demonstrasi dengan kekerasan. Pelanggaran tersebut mendapat ancaman hukuman hingga lima tahun penjara dan denda maksimal 20.000 euro atau sekitar 404 juta rupiah. Sanksi dapat diperberat jika pelaku menutupi wajah atau menyebabkan seseorang terluka.

Dekret tersebut masih harus disahkan menjadi undang-undang oleh parlemen dalam waktu 60 hari.

Melihat banyaknya video yang beredar di media sosial, Meloni menyatakan prihatin terhadap banyaknya anak muda yang terlibat dalam kerusuhan.

“Anak-anak muda datang ke jalan untuk menghancurkan barang, mencuri, dan merekam tindakan mereka sendiri,” kata Meloni. Ia menilai fenomena tersebut perlu mendapatkan penanganan secara serius agar tidak menjadi contoh bagi orang lain.

Aturan baru itu juga mengubah ketentuan mengenai pertanggungjawaban pidana anak. Berdasarkan dekret tersebut, orang berusia di atas 14 tahun di anggap mampu memahami tindakannya, kecuali terbukti sebaliknya. Sebelumnya, hanya hakim yang dapat menentukan penilaian tersebut.

Pemerintah Italia juga berencana menambah kapasitas fasilitas penahanan dan jumlah hakim dalam sistem peradilan anak.

Lebih dari 100 Polisi Terluka dalam Kerusuhan Milan

Kerusuhan di Milan terjadi pada Sabtu (17/10) dan berlanjut hingga Minggu (18/10). Sejumlah demonstran yang menutupi wajah terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko, dan membakar properti di pusat kota.

Otoritas setempat melaporkan lebih dari 100 polisi terluka selama dua hari kerusuhan tersebut.

Polisi Milan memperkirakan sekitar 2.000 anak muda terlibat dalam kerusuhan pada Sabtu malam. Dari sekitar 50 orang yang di tangkap selama akhir pekan, lebih dari 30 di antaranya masih berusia di bawah umur.

Kerusuhan itu berlangsung bersamaan dengan demonstrasi di sejumlah wilayah Perancis yang menyoroti kenaikan biaya hidup dan keluhan pelajar sekolah menengah. Polisi Perancis juga menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran yang terlibat kekerasan.

Gelombang Protes Meluas di Eropa

Albania dan Italia menjadi bagian dari gelombang protes yang melanda sejumlah negara Eropa. Kenaikan biaya hidup, buruknya kondisi layanan publik, persoalan pendidikan, dan sulitnya mendapatkan tempat tinggal yang terjangkau menjadi sejumlah pemicu keresahan masyarakat.

Di Spanyol dan Portugal, demonstran mendirikan kamp-kamp tenda sebagai bentuk protes terhadap mahalnya biaya perumahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Hasil Referendum Alberta, 75 Persen Pilih Tetap Gabung Kanada

21 Okt 2026 - 10:48 WIB

Hasil Referendum Alberta, 75 Persen Pilih Tetap Gabung Kanada

Gara-Gara Dua Tentara Korut, Korsel Tarik Staf Kedutaan dari Kyiv

21 Okt 2026 - 09:39 WIB

Gara-Gara Dua Tentara Korut, Korsel Tarik Staf Kedutaan dari Kyiv

Inggris Kerahkan Jet Tempur, Lindungi Arab Saudi dari Houthi

21 Okt 2026 - 08:11 WIB

Inggris Kerahkan Jet Tempur, Lindungi Arab Saudi dari Houthi

Perancis Tangkap Terduga Pelaku Pembakar Gedung Limoges

21 Okt 2026 - 07:11 WIB

Perancis Tangkap Terduga Pelaku Pembakar Gedung Limoges

AS Larang DeepSeek di Sistem Pemerintah, Ini Alasannya

21 Okt 2026 - 06:26 WIB

AS Larang DeepSeek di Sistem Pemerintah, Ini Alasannya
Trending di Internasional