PARIS, 24 Oktober 2026 — Museum Louvre dan sejumlah museum besar lainnya di Paris, Perancis, akan tutup pada Sabtu (24/10) karena kekhawatiran terhadap potensi kekerasan dalam aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung.
Kementerian Kebudayaan Perancis menyampaikan bahwa Museum Orsay dan Museum Picasso juga termasuk dalam daftar museum yang akan tutup. Keputusan ini timbul setelah demonstrasi pada akhir pekan sebelumnya berujung kerusuhan, dengan sejumlah perusuh membakar benda-benda, memecahkan kaca toko, menjarah, dan bentrok dengan polisi.
Kementerian meminta seluruh lembaga di bawah kewenangannya mengambil langkah yang diperlukan untuk menjamin keselamatan pengunjung, melindungi staf, serta menjaga koleksi karya seni.
Kekhawatiran serupa juga berdampak pada Art Basel Paris, salah satu pameran seni kontemporer bergengsi di dunia. Setelah hanya menerima tamu undangan selama dua hari, pameran tersebut terbuka untuk umum pada Jumat (23/10), tetapi hanya berlangsung satu hari. Penyelenggara membatalkan seluruh rangkaian acara akhir pekan karena ancaman kerusuhan.
Art Basel Paris Batalkan Acara Akhir Pekan
Art Basel Paris berlangsung di Grand Palais dan menghadirkan 211 galeri internasional beserta karya-karya mereka. Pameran ini adalah salah satu ajang seni kontemporer paling bergengsi di dunia.
Seniman asal New York, Drake Carr, yang memamerkan karyanya bersama Mariposa Gallery, menggambarkan acara tersebut seperti Olimpiade dalam dunia seni.
Namun, penyelenggaraan tahun ini berlangsung di tengah ketegangan sosial di Perancis. Bentrokan dan penjarahan yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya menjadi salah satu kerusuhan paling keras di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Demonstrasi di Paris pada Kamis sore berlangsung damai. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, penyelenggara Art Basel mengumumkan pembatalan acara untuk akhir pekan. Demonstrasi yang direncanakan pada Sabtu diperkirakan akan diikuti lebih banyak orang.
“Keputusan ini tidak diambil dengan mudah. Keselamatan semua pihak yang terlibat dalam pameran tetap menjadi prioritas utama kami,” kata penyelenggara dalam pernyataan tertulis.
Penyelenggara juga menyatakan akan menghubungi pemegang tiket untuk acara akhir pekan.
Kolektor Seni Dukung Keputusan Penutupan
Keputusan pembatalan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pengunjung dan pelaku industri seni.
Saloni Doshi, kolektor seni yang datang dari India untuk menghadiri pameran, mengaku khawatir setelah melihat kebakaran dan kepanikan warga dalam kerusuhan akhir pekan sebelumnya. Ia juga menerima telepon dari teman-temannya yang menanyakan keamanan Paris.
Doshi memahami keputusan penyelenggara untuk membatalkan acara akhir pekan.
“Sulit menerima bahwa hal seperti ini harus terjadi, tetapi kegiatan negara dan kebebasan masyarakat harus tetap berjalan,” ujarnya.
Ia juga menilai ketidaknyamanan kalangan elite akibat pembatalan acara tidak seharusnya mengalahkan perhatian terhadap tuntutan sosial masyarakat.
Antoine Donzeaud dan Elisa Rigoulet, pemilik galeri seni exo exo, juga menyampaikan pandangan serupa. Keduanya menilai keputusan tersebut masuk akal dan sejalan dengan situasi sosial yang sedang berlangsung di Perancis.
Penutupan museum dan pembatalan acara seni itu menunjukkan bagaimana ketegangan sosial di Paris mulai berdampak pada kegiatan budaya dan pariwisata, termasuk sejumlah institusi seni ternama di ibu kota Perancis.
















