SITUBONDO, 19 September 2026 — Macet berulang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mendorong Pemerintah Kabupaten Situbondo mencari jalur alternatif menuju Bali. Salah satu opsinya ialah membuka rute penyeberangan langsung dari Pelabuhan Jangkar, Situbondo, menuju Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali.
Gagasan tersebut muncul sebagai jalur alternatif bagi kendaraan, terutama angkutan logistik, yang selama ini bergantung pada lintasan utama Ketapang-Gilimanuk.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pembukaan rute Jangkar-Celukan Bawang diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan kendaraan yang terjadi di Ketapang.
Pemkab Situbondo dan pihak terkait rencananya akan membahas tindak lanjut rencana konektivitas tersebut di Buleleng pada 22 September 2026.
Antrean Ketapang Capai Belasan Kilometer
Persoalan kepadatan di Ketapang kembali terlihat pada Jumat (18/9). Antrean kendaraan menuju pelabuhan sempat mencapai belasan kilometer hingga kawasan Bangsring. Kondisi tersebut terutama berdampak pada kendaraan logistik yang hendak menyeberang ke Bali.
Salah seorang sopir truk, Yoyok, mengatakan bahwa dia terjebak macet jalur Ketapang sejak Kamis (17/9) sekitar pukul 22.00 WIB di wilayah Desa Bangsring. Ia baru memasuki kantong parkir di Bulusan pada Jumat sekitar pukul 11.00 WIB.
Yoyok membawa muatan buah segar dari Jakarta menuju Tabanan, Bali. Dalam kondisi normal, perjalanan Jakarta-Tabanan biasanya dapat ditempuh sekitar 22 jam. Namun, ketika ditemui pada Jumat, perjalanan yang ditempuhnya sudah mencapai sekitar 35 jam dan truknya belum menyeberang ke Bali.
“Ini sudah 35 jam masih belum menyeberang,” ujar Yoyok.
Laporan lain menyebut antrean kendaraan menuju Ketapang pada Jumat pagi mencapai sekitar 12,7 kilometer hingga kawasan Bangsring.
Kepadatan tersebut menjadi persoalan penting karena Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu jalur utama distribusi kendaraan dan barang antara Jawa dan Bali.
Jangkar-Celukan Bawang Sebagai Jalur Alternatif
Di tengah upaya mengurai antrean Ketapang, Pemerintah Kabupaten Situbondo melihat Pelabuhan Jangkar memiliki peluang untuk menjadi bagian dari solusi. Pelabuhan tersebut selama ini telah melayani penyeberangan menuju Lembar, Lombok. Pemerintah Situbondo kini mendorong agar konektivitasnya bertambah menuju Celukan Bawang di Bali Utara.
Rio mengatakan, jalur tersebut dapat menjadi alternatif bagi kendaraan yang tidak harus melewati Ketapang-Gilimanuk. “Untuk apa tujuannya? Untuk mengurai kemacetan yang terjadi di Ketapang,” kata Rio.
Pemkab Situbondo bersama KSOP Kelas IV Panarukan berencana akan melakukan kunjungan ke Kabupaten Buleleng pada pekan berikutnya untuk membahas pembukaan rute tersebut. Rio berharap proses pembahasan dapat berjalan cepat sehingga layanan penyeberangan Jangkar-Celukan Bawang dapat mulai terealisasi pada akhir 2026.
“Mudah-mudahan inisiasi ini bisa berjalan dengan lancar. Paling tidak Desember nanti sudah ada kapal yang membawa mobil-mobil dari Jangkar ke Buleleng,” ujarnya.
Rencana itu bukan gagasan yang berdiri sendiri. Sebelumnya, pemerintah pusat juga telah memasukkan Pelabuhan Jangkar dan Celukan Bawang dalam opsi penguatan konektivitas alternatif untuk mengurangi kepadatan di Ketapang-Gilimanuk.
Pada Juli 2026, Pelindo juga menyatakan dukungan terhadap pengembangan rute Celukan Bawang-Jangkar sebagai jalur alternatif untuk mendistribusikan arus kendaraan Jawa-Bali.
Siapkan Pelabuhan Jangkar
Kepala KSOP Kelas IV Panarukan Herland Aprilyanto mengatakan Pelabuhan Jangkar secara operasional telah memiliki pengalaman melayani kapal penyeberangan. Meski demikian, terdapat fasilitas pelabuhan yang masih dalam proses penyiapan untuk mengantisipasi kebutuhan tambahan apabila rute baru tersebut dapat terealisasi.
“Untuk Pelabuhan Jangkar memang kita siapkan untuk pelabuhan kapal penyeberangan. Memang ada salah satu pelabuhannya masih berproses untuk antisipasi terkait dengan penambahan fasilitas pelabuhan,” kata Herland.
Menurut dia, kesiapan fasilitas menjadi bagian penting agar Pelabuhan Jangkar dapat berfungsi optimal sekaligus membantu mengurai kepadatan pada lintasan Ketapang-Gilimanuk. “Sehingga nantinya pelabuhan itu bisa optimal berfungsi dan bisa mengurai kepadatan daripada Ketapang-Gilimanuk,” ujarnya.
Dengan demikian, rute Jangkar-Celukan Bawang tidak hanya diarahkan sebagai koneksi baru bagi Situbondo dan Buleleng, tetapi juga sebagai salah satu alternatif untuk mendistribusikan arus kendaraan yang selama ini terkonsentrasi di Ketapang.
ASDP Ubah Pola Operasi
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry melakukan perubahan pola operasi di Pelabuhan Ketapang. Mulai Jumat malam, kapal yang beroperasi di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) dan Dermaga MB IV Ketapang diarahkan khusus untuk mengangkut kendaraan logistik.
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil koordinasi antara ASDP, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Indonesian National Ferryowners Association (INFA), KSOP, serta kepolisian.
ASDP juga membuka kemungkinan menerapkan pola tiba, bongkar, dan berangkat atau TBB apabila antrean membutuhkan tambahan kapasitas. Namun, pola tersebut akan diterapkan secara situasional agar tidak mengganggu jadwal penyeberangan yang sudah berjalan.
Pada Jumat (18/9), ASDP mengoperasikan 24 kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk, terdiri dari 22 kapal reguler dan dua kapal perbantuan.












