INDIA, 24 September 2026 — Lagi diet tapi ingin tetap merasakan sensasi pesan makanan? Ada situs yang bisa jadi solusi paling aneh di internet. Pilih burger, ayam, sushi, atau es krim, masukkan ke keranjang, lihat total belanja, lalu checkout. Setelah itu, tunggu “kurir” datang. Bahkan, Anda akan mendapat telepon yang mengatakan pesanan sudah berada di depan rumah.
Tapi jangan ditunggu terlalu lama—makanannya memang tidak akan pernah datang. Tidak ada kurir, tidak ada paket, dan tidak ada tagihan. Yang benar-benar dikirim hanyalah sensasi.
Namanya FoodNeverComes, situs yang mengubah kebiasaan memesan makanan menjadi sebuah permainan psikologis di internet.
FoodNeverComes menawarkan pengalaman aneh sekaligus menggelitik: pengguna bisa memilih makanan, memasukkannya ke keranjang, melihat total harga, melakukan proses checkout, bahkan menunggu kurir datang.
Hanya saja, makanan tersebut tidak akan pernah sampai.
Pesan Makanan, Tunggu Kurir, tetapi Tak Ada yang Datang
Begitu masuk ke FoodNeverComes, pengguna dapat memilih dari 22 kategori masakan. Ada butter chicken, bibimbap, dan berbagai menu lain yang di buat sedemikian rupa sehingga terlihat seperti layanan pesan-antar makanan sungguhan.
Pengguna bisa memasukkan beberapa makanan ke keranjang. Harga total akan terus bertambah. Setelah menekan tombol checkout, sebuah pelacak pengiriman muncul di layar. Seolah-olah pesanan sedang disiapkan dan seorang pengantar makanan sedang menuju lokasi.
Kemudian datanglah bagian yang membuat konsep ini berbeda. Pengguna dapat menerima panggilan yang di buat menggunakan AI. Suara di ujung telepon mengaku sebagai pengantar makanan yang sudah berada di sekitar alamat pemesanan, tetapi kesulitan menemukan jalan atau rumah yang tepat.
Padahal sejak awal tidak ada makanan yang dimasak, tidak ada kurir, dan tidak ada pesanan yang benar-benar dikirim.
Slogan situs itu pun terang-terangan mengakui konsep tersebut, “Order the food. Skip the bill.” Atau, dalam bahasa Indonesia, pesan makanannya, tetapi lewati tagihannya.
Mereka juga memiliki slogan lain yang lebih menggambarkan pengalaman tersebut: makanan tidak pernah datang, tetapi sensasi yang di cari pengguna tetap muncul.
Sudah Dikunjungi Jutaan Orang
FoodNeverComes di buat oleh dua pengembang perangkat lunak berusia 26 tahun asal Udaipur, Rajasthan, India, Purvansh Parmar dan Anshul Sharma. Keduanya bertemu ketika mengikuti pendidikan diploma ilmu komputer sebelum kemudian mendirikan NeuroX AI, perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak dan produk berbasis AI.
Sejak diluncurkan pada Juni, FoodNeverComes mengklaim telah menarik lebih dari 2,7 juta pengunjung.
Situs itu kini menyediakan 22 kategori makanan, 327 hidangan, dan 319 resep nyata lengkap dengan harganya.
Tapi yang dijual bukan makanan. Yang dijual adalah sensasi. Dan justru di situlah fenomenanya menjadi menarik.
Ternyata Tidak Selalu Tentang Makanannya
Ide FoodNeverComes bermula dari kebiasaan sederhana yang mungkin pernah dilakukan banyak orang: membuka aplikasi belanja atau pesan makanan tapi akhirnya tidak melakukan pembayaran.
Sharma mengaku sering mencari perangkat elektronik, memasukkannya ke keranjang, membandingkan beberapa pilihan, kemudian menutup aplikasi.
Ibu Parmar melakukan hal serupa. Ia sering memasukkan barang ke keranjang dan mengatakan akan membelinya nanti. Parmar sendiri mengalami kebiasaan tersebut ketika tinggal di Mumbai selama sekitar dua bulan.
Ia mengaku bisa menghabiskan 5.000 hingga 10.000 rupee per minggu untuk makanan. Beberapa di antaranya bahkan bukan makanan yang benar-benar dibutuhkan. Waffle Belgia, es krim, hingga satu toples besar sour cream pernah masuk dalam daftar pesanannya.
Dari pengalaman itu muncul sebuah pertanyaan sederhana: Bagaimana jika yang dicari sebenarnya bukan makanan, melainkan sensasi saat memesannya?
Menurut Parmar, rasa lapar bisa menjadi awalnya. Namun, lama-kelamaan proses memilih menu, memasukkannya ke keranjang, melakukan checkout, dan menunggu pengiriman dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan tersendiri.
Dari Lapar Menjadi Kebiasaan
Di sinilah FoodNeverComes bersinggungan dengan psikologi. Seseorang mungkin awalnya membuka aplikasi karena lapar. Namun, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi aktivitas yang dilakukan ketika bosan, cemas, atau sekadar membutuhkan sesuatu untuk dilakukan.
Memilih makanan.
Melihat foto makanan.
Memasukkannya ke keranjang.
Melihat total harga.
Kemudian menekan tombol checkout.
Rangkaian kecil tersebut menciptakan sebuah ritual konsumsi.
Ravi Dhar, Direktur Yale Center for Customer Insights, menyebut salah satu aspek fenomena ini sebagai anticipatory utility, yakni kesenangan yang muncul ketika seseorang membayangkan konsumsi yang akan dilakukan.
Dengan kata lain, terkadang “menunggu sesuatu terasa lebih menyenangkan, sebelum sesuatu itu benar-benar dimiliki”.
Bayangkan ketika seseorang hendak membeli sepatu baru.
Mencari model.
Membandingkan harga.
Melihat foto.
Memasukkannya ke keranjang.
Membayangkan bagaimana sepatu itu akan dipakai.
Semua terjadi sebelum sepatu benar-benar berada di tangan. Dalam kondisi tertentu, justru proses menuju pembelian itulah yang memberikan sensasi.
Diet Berhasil karena Makanannya Memang Tidak Ada
Namun, dari sisi humor internet, konsepnya memang sulit untuk tidak membuat orang tersenyum.
Bayangkan iklannya:
Lagi diet? Pesan makanan di sini saja.
Tidak perlu takut kalori. Tidak perlu takut tagihan.
Karena makanan Anda memang tidak akan pernah datang.
Masalahnya selesai sebelum dimulai.
Tentu, ini hanya lelucon yang menggambarkan konsep situs tersebut. FoodNeverComes tidak benar-benar menyelesaikan persoalan pola makan atau kebiasaan konsumsi seseorang.
Yang menarik justru pertanyaan di balik lelucon itu: “Mengapa kita terkadang menikmati proses memesan sesuatu, bahkan ketika sebenarnya tidak membutuhkan barang tersebut?”
Ketika Keranjang Belanja Lebih Menyenangkan daripada Barangnya
Sharma pernah mengalami eksperimen tidak sengaja. Ketika layar ponselnya retak, ia menghabiskan waktu sekitar seminggu mencari ponsel pengganti di Amazon.
Ia membandingkan enam atau tujuh perangkat, membaca berbagai informasi, dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Namun, pada akhirnya ia tidak membeli ponsel baru. Ia memilih memperbaiki ponsel lamanya. “Saya menikmati proses riset dan memasukkan ponsel ke keranjang. Pada akhirnya saya tidak membeli ponsel,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa aktivitas serupa juga terjadi ketika membuka aplikasi pesan makanan.
Terutama ketika sedang cemas, ia bisa mengisi keranjang tanpa pernah melakukan pembayaran.
FoodNeverComes kemudian menjadi semacam cermin digital dari kebiasaan tersebut.
Tidak Hanya Makanan, Ada Juga Liburan yang Tak Pernah Berangkat
Tidak hanya makanan, tetapi ada juga situs wisata. TripNeverLeaves, situs yang memungkinkan pengguna merencanakan liburan secara virtual.
Pengguna dapat menentukan destinasi, penerbangan, kursi, hotel, hingga aktivitas wisata. Setelah semuanya siap, perjalanan virtual di mulai.
Tetapi pesawatnya tidak pernah benar-benar meninggalkan landasan.
Situs tersebut di klaim telah menarik lebih dari 100.000 pengunjung. Konsepnya sama, menghadirkan sensasi konsumsi tanpa konsumsi sebenarnya.
Fenomena Internet yang Mengajukan Pertanyaan Serius
FoodNeverComes dan situs sejenisnya merupakan bagian dari fenomena internet yang disebut “dopamine sites”. Konsep tersebut muncul dengan berbagai bentuk: belanja palsu, pesan makanan palsu, perjalanan palsu hingga pengalaman konsumsi virtual lainnya.
Sekilas, semuanya tampak seperti lelucon. Namun, di balik lelucon itu terdapat pertanyaan psikologis yang cukup serius.
Dalam ekonomi digital, perusahaan berlomba membuat pengguna terus melihat layar, memilih produk, memasukkan barang ke keranjang, dan melakukan transaksi.
FoodNeverComes justru membalik proses tersebut. Bagaimana jika seseorang hanya membutuhkan ritualnya? Bagaimana jika rasa senang muncul saat proses mencari, memilih, dan menunggu, bukan ketika barangnya tiba?
Dan jika benar sebagian kesenangan konsumsi muncul sebelum barang berada di tangan, pertanyaan terakhirnya menjadi semakin menarik:
Apakah kita benar-benar menginginkan barangnya, atau sebenarnya kita hanya menginginkan sensasi saat mengejarnya?











