PIDIE, 24 Oktober 2026 — Aparat gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai membongkar laboratorium sabu rahasia atau clandestine lab di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Laboratorium yang berada di sebuah rumah toko (ruko) dua pintu itu disebut sebagai yang terbesar di Indonesia.
Dalam pengungkapan tersebut, petugas menyita barang bukti sabu cair (liquid methamphetamine) dan sabu kristal dengan total mencapai 1,2 ton. Aparat juga mengamankan dua warga negara China berinisial LJ (45) dan XM (42) yang diduga berperan sebagai ahli kimia sekaligus peracik utama sabu.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan pengungkapan kasus tersebut dalam konferensi pers di Pidie, Jumat (23/10).
“Dua warga negara Tiongkok selaku koki utama atau ahli kimia berinisial LJ (45) dan XM (42) juga kita amankan dalam penggerebekan itu,” kata Suyudi.
Dua Warga China Diduga Meracik Sabu
Berdasarkan pemeriksaan aparat, LJ dan XM diketahui telah memetakan lokasi sejak pertengahan 2026. Keduanya berangkat dari Yunnan, China, kemudian transit di Malaysia sebelum tiba di Banda Aceh pada Juni 2026.
Mereka berada di Aceh selama 10 hari untuk memetakan wilayah sebelum kembali ke Malaysia.
Pergerakan keduanya kembali terdeteksi pada 15 Oktober 2026. Saat itu, LJ dan XM terbang dari Kunming, China, menuju Kuala Lumpur, Malaysia, untuk menemui seorang warga negara Indonesia berinisial B yang juga menjadi tersangka.
Aktivitas produksi di laboratorium rahasia tersebut terdeteksi pada 18 Oktober 2026, ketika aparat memantau komunikasi LJ.
LJ diketahui menghubungi atasannya di China yang berinisial LX dan NX untuk melaporkan bahwa proses pembuatan sabu telah dimulai. Menurut Suyudi, kedua atasannya kemudian menginstruksikan agar produksi dan pengemasan dipercepat sehingga narkotika tersebut dapat segera dikirim.
“Komunikasi LJ terendus saat menghubungi atasannya di China berinisial LX dan NX bahwa pembuatan sabu sudah dimulai. Atasan LJ menginstruksikan agar mempercepat produksi dan pengemasan barang untuk segera dikirim,” ujar Suyudi.
Penggerebekan di Empat Wilayah Aceh
Berbekal informasi tersebut, aparat melakukan penggerebekan secara serentak di sejumlah lokasi, yakni di Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe.
Di Pidie, petugas mengamankan lima tersangka, yaitu LJ, F, MY, AK, dan AY.
Dari penggeledahan di ruko yang digunakan sebagai laboratorium rahasia, petugas menyita 20 drum sabu cair dan 500 kilogram sabu kristal.
Suyudi mengatakan, proses produksi narkotika di laboratorium tersebut dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Menurut dia, hal itu menunjukkan adanya peran ahli kimia berpengalaman dalam jaringan tersebut.
“Proses yang mereka lakukan sangat sistematis sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,” katanya.
Pengungkapan tersebut menggagalkan peredaran sabu cair dan sabu kristal yang diduga terhubung dengan jaringan narkotika internasional.















