Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Trump Tolak Tawaran Iran Buka Selat Hormuz

badge-check

Abbas Araghchi saat menghadiri sidang DK PBB di New York, September 2026. (BLOOMBERG) Perbesar

Abbas Araghchi saat menghadiri sidang DK PBB di New York, September 2026. (BLOOMBERG)

WASHINGTON, 27 September 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump tolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial dalam waktu tujuh hari. Trump mengatakan Iran ingin segera membuka jalur strategis tersebut karena berada dalam tekanan akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Mereka ingin membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz segera karena mereka kalah telak,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (26/9). Trump menegaskan tawaran tersebut tidak dapat di terima meski ia mengaku terbuka untuk melakukan kesepakatan dengan Iran.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, dan menurut saya itu bagus. Saya juga suka membuat kesepakatan. Tetapi kesepakatan itu tidak dapat di terima,” ujarnya.

Iran Tunggu Respons Mediator

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran masih menunggu tanggapan resmi dari para mediator sebelum mengambil keputusan. Dalam unggahan di Telegram, Araghchi menyebut Trump telah menyampaikan sejumlah pernyataan yang positif, tetapi juga beberapa pernyataan yang saling bertentangan.

“Kami akan menunggu pandangan definitif dari para mediator. Iran akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut,” kata Araghchi.

Sebelumnya, Araghchi mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat dicapai apabila persyaratan yang diperlukan dipenuhi. Menurut dia, persyaratan tersebut sudah tercantum dalam nota kesepahaman atau MOU yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Juni.

“Jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi, selat dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dipulihkan dalam waktu tujuh hari,” ujar Araghchi di New York, Jumat (25/9).

Ia menyebut langkah yang harus dilakukan Amerika Serikat bukanlah hal baru karena seluruhnya sudah tercantum dalam MOU. “Pilihan sekarang berada di tangan Amerika Serikat,” katanya.

Selat Hormuz Masih Terganggu

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati selat tersebut. Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada Februari telah memicu gejolak harga energi dan mengganggu lalu lintas pelayaran.

Data perusahaan analitik komoditas Kpler menunjukkan rata-rata sekitar 18 kapal melintas setiap hari dalam periode 10 hari terakhir. Pada hari tertentu, jumlah tersebut bahkan turun hingga sembilan kapal.

Iran sebelumnya memblokade selat tersebut setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Sebagai respons, Iran menyerang Israel, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, serta sejumlah negara Arab sekutu Washington.

Amerika Serikat kemudian menyerang sejumlah fasilitas Iran di sekitar Selat Hormuz dan kapal tanker Iran di lepas pantai. Washington juga mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

MOU Iran-AS Pernah Jadi Dasar Gencatan Senjata

MOU antara Iran dan AS yang sebelumnya sudah ada pada Juni 2026, di rancang untuk mengakhiri konflik dan membuka sebagian akses pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut terdiri atas 14 poin, termasuk komitmen Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir. Iran, Amerika Serikat, dan sekutu masing-masing juga akan menghentikan operasi militer di berbagai front.

Kesepakatan itu turut mencakup penghentian blokade laut Amerika Serikat dan sejumlah sanksi.

Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh setelah kedua pihak kembali melancarkan serangan.

Kirsten Fontenrose, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional AS, mengatakan kepada BBC bahwa tidak ada keinginan di Washington untuk kembali membahas MOU tersebut. Menurut dia, kesepakatan itu di pandang tidak menguntungkan oleh pihak AS.

Ketegangan di kawasan juga meningkat akibat serangan kelompok Houthi terhadap kepentingan energi Arab Saudi.

Kelompok yang bersekutu dengan Iran itu meningkatkan serangan terhadap jalur ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah. Houthi juga menguasai sejumlah wilayah strategis di pesisir Laut Merah Yaman, termasuk Pelabuhan Mokha yang berada dekat Selat Bab al-Mandab.

Pada Sabtu, koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan telah mencegat dua rudal balistik dan sejumlah drone yang diluncurkan Houthi ke arah Arab Saudi.

Di tengah meningkatnya tekanan untuk mengakhiri konflik, Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran kemungkinan baru tercapai setelah pemilihan anggota Kongres AS pada November.

Araghchi menegaskan bahwa ancaman tidak akan menjadi jalan menuju perdamaian. “Perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman pemusnahan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

AS dan China Sepakat Pangkas Tarif Dagang

27 Sep 2026 - 08:16 WIB

AS dan China Sepakat Pangkas Tarif Dagang

AI Lepas Kendali, 53 Gambar Pengguna ChatGPT Bocor

26 Sep 2026 - 10:08 WIB

AI Lepas Kendali, 53 Gambar Pengguna ChatGPT Bocor

Kunjugan Xi Jinping ke AS Penuh Seremoni, Tapi Kesepakatan AS-China Masih Samar

25 Sep 2026 - 10:37 WIB

Kunjugan Xi Jinping ke AS Penuh Seremoni, Tapi Kesepakatan AS-China Masih Samar

Pesan Makanan di FoodNeverComes, Diet Dijamin Sukses

24 Sep 2026 - 11:05 WIB

Pesan Makanan di FoodNeverComes, Diet Dijamin Sukses

OpenAI Bobol Portal Pemerintah Australia, Albanese Murka

24 Sep 2026 - 10:19 WIB

OpenAI Bobol Portal Pemerintah Australia, Albanese Murka
Trending di Internasional