Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Mulai Frustasi, Trump akan Kirim Rudal Patriot ke Ukraina

badge-check

Peluncur sistem pertahanan udara Patriot. (foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko) Perbesar

Peluncur sistem pertahanan udara Patriot. (foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko)

Washington, D.C. – Pada hari Senin (14/7/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump umumkan akan mengirimkan rudal Patriot ke Ukraina. Selain itu, ia juga mengancam akan memberlakukan sanksi terhadap pembeli ekspor Rusia, kecuali Moskow setuju untuk melakukan kesepakatan damai. Langkah ini mencerminkan perubahan signifikan dalam kebijakan AS, yang dipicu oleh frustrasi terhadap serangan Rusia yang terus berlanjut terhadap Ukraina.

Dalam konferensi pers di Ruang Oval bersama Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump mengungkapkan bahwa senjata AS senilai miliaran dolar akan segera dikirim ke Ukraina. “Kami akan memproduksi senjata canggih dan mengirimkannya ke NATO,” tegas Trump, menambahkan bahwa sekutu NATO akan menanggung biaya pengiriman tersebut.

Senjata yang akan dikirim termasuk sistem rudal pertahanan udara Patriot yang sangat dibutuhkan oleh Ukraina. “Ini paket lengkap dengan baterainya,” lanjut Trump. “Sebagian akan tiba dalam hitungan hari, dan beberapa negara yang memiliki Patriot akan menukarnya dengan versi terbaru.”

Rutte menambahkan bahwa negara-negara seperti Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, Belanda, dan Kanada semua ingin terlibat dalam penguatan militer Ukraina.

Ancaman Sanksi Sekunder

Ancaman Trump untuk memberlakukan sanksi sekunder terhadap Rusia—jika terlaksana—akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan sanksi Barat. Anggota parlemen AS dari kedua partai mendukung RUU yang memungkinkan langkah tersebut, yang menargetkan negara lain yang membeli minyak Rusia. Selama lebih dari tiga tahun perang, negara-negara Barat telah memutus sebagian besar hubungan finansial dengan Moskow. Namun Barat tidak membatasi penjualan minyak Rusia ke pasar lain. Hal ini kemudian yang memungkinkan Rusia untuk terus mendapatkan ratusan miliar dolar dari ekspor minyak ke China dan India.

“Kami akan memberlakukan tarif sekunder,” ungkap Trump. “Jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, tarifnya akan naik menjadi 100%.” Pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa tarif tersebut akan dikenakan pada barang-barang Rusia serta sanksi sekunder untuk negara-negara yang membeli ekspor Rusia.

Respon Kyiv

Di Kyiv, pengumuman tersebut disambut dengan optimisme, meskipun ada skeptisisme terhadap niat Trump. Denys Podilchuk, seorang dokter gigi berusia 39 tahun, menyatakan, “Saya senang akhirnya politisi Eropa, dengan kesabaran dan keyakinan mereka, sedikit membawanya (Trump) ke sisi kami.”

Artyom Nikolayev, analis dari firma informasi keuangan Invest Era, menilai bahwa Trump tidak mengambil langkah sekeras yang ditakutkan pasar Rusia. “Dia memberi 50 hari bagi kepemimpinan Rusia untuk merancang sesuatu dan memperpanjang jalur diplomasi,” katanya.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga menyerukan gencatan senjata segera untuk membuka jalan menuju solusi politik, menekankan pentingnya langkah-langkah yang sesuai dengan hukum internasional.

Pergeseran Sikap Trump

Sejak kembali ke Gedung Putih dengan janji mengakhiri perang, Trump berupaya mendekatkan diri ke Moskow, namun kini pergeseran sikapnya tampak jelas. “Saya tidak ingin menyebutnya pembunuh, tapi dia orang yang keras,” ungkap Trump mengenai Putin. Ia juga menyoroti bahwa negosiasi damai telah gagal beberapa kali, dengan serangan Rusia yang terus berlanjut.

Senator AS Jeanne Shaheen menyebut pengumuman Trump “positif, tetapi terlambat,” dan menekankan perlunya komitmen berkelanjutan terhadap bantuan keamanan untuk Ukraina.

Dalam perkembangan terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengumumkan penggantian Perdana Menteri Denys Shmyhal dengan wakilnya, Yulia Svyrydenko. Harapannya, penunjukan ini dapat memperkuat posisi Ukraina dalam negosiasi dengan AS.

Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022 dan saat ini menguasai sekitar seperlima wilayah negara tersebut. Dengan pasukan Rusia yang terus maju di timur tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk mundur, harapan untuk perdamaian tampaknya masih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Perancis Akan Berlakukan Jam Malam Usai Kerusuhan

20 Okt 2026 - 08:05 WIB

Perancis Akan Berlakukan Jam Malam Usai Kerusuhan

Rusia Serang 28 Fasilitas Energi Ukraina, 500.000 Warga Terdampak

20 Okt 2026 - 07:15 WIB

Rusia Serang 28 Fasilitas Energi Ukraina, 500.000 Warga Terdampak

Gelombang Demonstrasi Meluas di Eropa, dari Perancis hingga Italia dan Portugal

20 Okt 2026 - 06:25 WIB

Gelombang Demonstrasi Meluas di Eropa, dari Perancis hingga Italia dan Portugal

Drone Ukraina Hantam Fasilitas Minyak Rusia, Satu Orang Tewas

19 Okt 2026 - 09:11 WIB

Drone Ukraina Hantam Fasilitas Minyak Rusia, Satu Orang Tewas

Kerusuhan Perancis, 2.400 Orang Ditangkap usai Penjarahan dan Pembakaran

19 Okt 2026 - 08:31 WIB

Kerusuhan Perancis, 2.400 Orang Ditangkap usai Penjarahan dan Pembakaran
Trending di Internasional