Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Mulai Frustasi, Trump akan Kirim Rudal Patriot ke Ukraina

badge-check


					Peluncur sistem pertahanan udara Patriot. (foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko) Perbesar

Peluncur sistem pertahanan udara Patriot. (foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko)

Washington, D.C. – Pada hari Senin (14/7/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump umumkan akan mengirimkan rudal Patriot ke Ukraina. Selain itu, ia juga mengancam akan memberlakukan sanksi terhadap pembeli ekspor Rusia, kecuali Moskow setuju untuk melakukan kesepakatan damai. Langkah ini mencerminkan perubahan signifikan dalam kebijakan AS, yang dipicu oleh frustrasi terhadap serangan Rusia yang terus berlanjut terhadap Ukraina.

Dalam konferensi pers di Ruang Oval bersama Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump mengungkapkan bahwa senjata AS senilai miliaran dolar akan segera dikirim ke Ukraina. “Kami akan memproduksi senjata canggih dan mengirimkannya ke NATO,” tegas Trump, menambahkan bahwa sekutu NATO akan menanggung biaya pengiriman tersebut.

Senjata yang akan dikirim termasuk sistem rudal pertahanan udara Patriot yang sangat dibutuhkan oleh Ukraina. “Ini paket lengkap dengan baterainya,” lanjut Trump. “Sebagian akan tiba dalam hitungan hari, dan beberapa negara yang memiliki Patriot akan menukarnya dengan versi terbaru.”

Rutte menambahkan bahwa negara-negara seperti Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, Belanda, dan Kanada semua ingin terlibat dalam penguatan militer Ukraina.

Ancaman Sanksi Sekunder

Ancaman Trump untuk memberlakukan sanksi sekunder terhadap Rusia—jika terlaksana—akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan sanksi Barat. Anggota parlemen AS dari kedua partai mendukung RUU yang memungkinkan langkah tersebut, yang menargetkan negara lain yang membeli minyak Rusia. Selama lebih dari tiga tahun perang, negara-negara Barat telah memutus sebagian besar hubungan finansial dengan Moskow. Namun Barat tidak membatasi penjualan minyak Rusia ke pasar lain. Hal ini kemudian yang memungkinkan Rusia untuk terus mendapatkan ratusan miliar dolar dari ekspor minyak ke China dan India.

“Kami akan memberlakukan tarif sekunder,” ungkap Trump. “Jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, tarifnya akan naik menjadi 100%.” Pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa tarif tersebut akan dikenakan pada barang-barang Rusia serta sanksi sekunder untuk negara-negara yang membeli ekspor Rusia.

Respon Kyiv

Di Kyiv, pengumuman tersebut disambut dengan optimisme, meskipun ada skeptisisme terhadap niat Trump. Denys Podilchuk, seorang dokter gigi berusia 39 tahun, menyatakan, “Saya senang akhirnya politisi Eropa, dengan kesabaran dan keyakinan mereka, sedikit membawanya (Trump) ke sisi kami.”

Artyom Nikolayev, analis dari firma informasi keuangan Invest Era, menilai bahwa Trump tidak mengambil langkah sekeras yang ditakutkan pasar Rusia. “Dia memberi 50 hari bagi kepemimpinan Rusia untuk merancang sesuatu dan memperpanjang jalur diplomasi,” katanya.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga menyerukan gencatan senjata segera untuk membuka jalan menuju solusi politik, menekankan pentingnya langkah-langkah yang sesuai dengan hukum internasional.

Pergeseran Sikap Trump

Sejak kembali ke Gedung Putih dengan janji mengakhiri perang, Trump berupaya mendekatkan diri ke Moskow, namun kini pergeseran sikapnya tampak jelas. “Saya tidak ingin menyebutnya pembunuh, tapi dia orang yang keras,” ungkap Trump mengenai Putin. Ia juga menyoroti bahwa negosiasi damai telah gagal beberapa kali, dengan serangan Rusia yang terus berlanjut.

Senator AS Jeanne Shaheen menyebut pengumuman Trump “positif, tetapi terlambat,” dan menekankan perlunya komitmen berkelanjutan terhadap bantuan keamanan untuk Ukraina.

Dalam perkembangan terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengumumkan penggantian Perdana Menteri Denys Shmyhal dengan wakilnya, Yulia Svyrydenko. Harapannya, penunjukan ini dapat memperkuat posisi Ukraina dalam negosiasi dengan AS.

Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022 dan saat ini menguasai sekitar seperlima wilayah negara tersebut. Dengan pasukan Rusia yang terus maju di timur tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk mundur, harapan untuk perdamaian tampaknya masih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.

Pencurian Mahkota Kerajaan di Louvre Prancis, Pakar Sebut Barang Curian Akan Hilang Selamanya

22 Oktober 2025 - 09:22 WIB

Pencurian mahkota Kerajaan di Louvre jadi aib nasional Prancis. Polisi buru geng spesialis perhiasan lintas Eropa.

Industri Film Dunia Tetap Melaju di Tengah Ancaman Tarif Trump

19 Oktober 2025 - 10:29 WIB

Ancaman tarif 100 persen dari Donald Trump tak hentikan produksi global seperti Star Wars: Starfighter. Industri film tetap melaju.

Aksi ‘No Kings’ di AS, Ribuan Warga Protes Kebijakan Trump

19 Oktober 2025 - 07:59 WIB

Ribuan warga AS turun ke jalan dalam aksi No Kings memprotes kebijakan Donald Trump yang dinilai mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.

Tercatat Sejarah: Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir

14 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Hamas bebaskan sandera terakhir, Trump nyatakan perang Gaza berakhir. Dunia sambut babak baru perdamaian Timur Tengah.
Trending di Internasional