WASHINGTON, 5 Mei 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan militer AS serang tujuh kapal cepat milik Iran di Selat Hormuz. Serangan ini terjadi di tengah upaya Washington mengawal kapal-kapal yang terjebak di jalur pelayaran vital tersebut.
Trump menyampaikan pernyataan itu saat ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat akibat konflik berkepanjangan antara AS dan Iran. Selat Hormuz sendiri hingga kini masih tertutup sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu.
“Nous telah menembak jatuh tujuh kapal kecil atau yang mereka sebut ‘fast boats’. Itu saja yang mereka miliki,” kata Trump. Militer AS menyatakan melakukan serangan tersebut dengan menggunakan helikopter.
Namun, Pemerintah Iran melalui media membantah klaim tersebut. Kantor berita Tasnim yang mengutip sumber militer, melaporkan bahwa dua kapal kargo kecil justru menjadi sasaran serangan. Lebih jauh, media menyebut serangan tersebut menewaskan lima warga sipil.
Di sisi lain, perusahaan pelayaran Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapal berbendera AS miliknya berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS. Operasi ini merupakan bagian dari inisiatif yang disebut Trump sebagai “Project Freedom”.
Maersk menyatakan pelayaran kapal tersebut berlangsung tanpa insiden dan seluruh awak kapal dalam kondisi aman.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa eskalasi di Selat Hormuz menunjukkan tidak adanya solusi militer untuk krisis politik.
“Project Freedom adalah Project Deadlock,” ujarnya.
Serangan di Teluk Picu Kekhawatiran
Ketegangan semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab dan Korea Selatan melaporkan adanya serangan terhadap kapal mereka di perairan tersebut pada Senin (4/5).
Otoritas UEA juga menyebut terjadi kebakaran di pelabuhan minyak Fujairah akibat serangan Iran. Sistem pertahanan udara UEA dilaporkan mencegat 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone.
India menyatakan tiga korban luka dalam insiden di Fujairah merupakan warga negaranya, dan menyebut serangan tersebut “tidak dapat diterima”.
Abu Dhabi menyebut serangan itu sebagai eskalasi berbahaya dan menegaskan pihaknya berhak merespons. Namun, media Iran mengutip pejabat militer yang menyatakan Teheran tidak berniat menargetkan UEA.
Reaksi Dunia Internasional
Sejumlah pemimpin dunia mengecam serangan terhadap infrastruktur UEA. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutnya tidak dapat dibenarkan, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan dukungan bagi mitra di kawasan Teluk.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran kembali ke meja perundingan dan menghentikan blokade Selat Hormuz.
Arab Saudi juga menyerukan Iran untuk menghormati prinsip bertetangga yang baik.
Dampak ke Pasar Energi
Situasi ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak melewati 115 dollar AS per barel, naik lebih dari 5 persen dalam sehari.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan jalur ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Sebagai alternatif, ekspor sebagian minyak tetap dapat berjalan melalui pelabuhan Fujairah yang terhubung pipa dari Abu Dhabi, meski kapasitasnya terbatas.

Merah: jalur pelayaran asli di Selat Hormuz. Biru: “jalur pengamanan” AS yang terletak lebih dekat ke Oman.
Sumber: Institute for the Study of War with AEI’s Critical Threats Project. Gambar: Phil Holm/APNEWS
Ribuan Pelaut Terjebak
Sekitar 20.000 pelaut dari 2.000 kapal masih terjebak sejak konflik memuncak pada Februari. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait pasokan logistik serta kesehatan fisik dan mental awak kapal.
Trump menyatakan banyak negara meminta kepada AS untuk membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak. Namun, ia tidak merinci mekanisme evakuasi tersebut, selain memperingatkan akan menggunakan kekuatan jika proses kemanusiaan itu terganggu.
Di tengah situasi yang terus memanas, komunitas internasional mendesak deeskalasi guna mencegah krisis yang lebih luas di kawasan Teluk.












