Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Gencatan Dagang China – AS Dorong Optimisme Investor Asing

badge-check


					Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, usai pertemuan bilateral di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Busan, Korea Selatan. (foto: REUTERS/Evelyn Hockstein) Perbesar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, usai pertemuan bilateral di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Busan, Korea Selatan. (foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)

SINGAPURA/HONG KONG, 31 Oktober 2025 – Gencatan dagang terbaru antara China dan Amerika Serikat (AS) menjadi angin segar bagi para investor global yang selama ini berhati-hati menanamkan modal di pasar saham China. Kesepakatan tersebut menghapus salah satu faktor penghambat utama bagi arus investasi asing yang selama setahun terakhir menahan diri di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Meski bursa saham China mencatat performa terbaik sejak 2019, banyak manajer investasi asing tetap bersikap selektif. Kekhawatiran terhadap tekanan deflasi, lemahnya konsumsi domestik, dan ketegangan dagang membuat sebagian besar investor mengambil posisi aman.

Namun, kesepakatan dagang yang diumumkan Kamis waktu setempat antara Beijing dan Presiden AS Donald Trump membawa sedikit optimisme baru. Gencatan selama setahun ini menjadi yang terpanjang dalam hubungan kedua negara yang kerap diwarnai gesekan. Perjanjian itu menurunkan tarif impor bagi produk China, melonggarkan pengawasan atas ekspor rare earths, serta membuka kembali akses perusahaan China terhadap sebagian teknologi AS.

Meski pasar menyambut datar, analis menilai sinyal kerja sama dan itikad baik dari kedua pihak merupakan kemajuan yang signifikan.

“Kesepakatan ini memang tidak mengubah keadaan secara dramatis. Tapi akan meningkatkan minat investasi asing ke China,” ujar Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar Global di Man Group, New York.

Hooper menambahkan, sebagian investor, khususnya di AS, khawatir akan dipaksa menjual aset mereka di China jika ketegangan memanas. Karena itu, setiap tanda pelonggaran hubungan kedua negara menjadi sinyal positif bagi pasar.

Bursa Saham China Terbang, Investor Masih Waspada

Didorong kebijakan pemerintah dan geliat sektor kecerdasan buatan (AI), indeks saham unggulan CSI300 naik 20% sepanjang tahun ini. Sementara Hang Seng Index di Hong Kong melonjak 31%, mengungguli Nasdaq yang tumbuh 23%.

Namun, investor asing masih berhati-hati. Data LSEG Lipper menunjukkan arus keluar sebesar 3,9 miliar dolar AS dari dana investasi ekuitas yang berfokus pada China sepanjang tahun.

Padahal, jika dibandingkan dengan skala ekonominya yang mencapai seperlima dari PDB global, porsi investasi global di China tergolong kecil. Morningstar mencatat eksposur rata-rata dana global terhadap China hanya 1,43% per akhir September.

Bagi sebagian manajer investasi, tanda-tanda meredanya tensi dagang menjadi momentum untuk kembali membangun portofolio.

“Saya akan terus menambah posisi di saham China,” kata Cusson Leung, Chief Investment Officer di KGI, Hong Kong. “Bukan semata karena kesepakatan dagang, tapi lebih pada keyakinan terhadap pemulihan ekonomi China.”

Persaingan dan Kerja Sama

Para analis menilai, meski rivalitas dagang belum berakhir, kombinasi antara kompetisi dan kerja sama justru membuka peluang baru.

“Kedua pihak masih ingin memperkuat rantai pasok masing-masing. Memberikan kesempatan bagi pemain domestik di berbagai sektor,” ujar Chaoping Zhu, Analis Pasar Global di JP Morgan Asset Management, Shanghai.

Ia menilai, investor kini telah memperhitungkan skenario “kompetisi plus kolaborasi”, dengan potensi kenaikan pasar yang lebih besar ketimbang risiko penurunan.

Lembaga keuangan besar seperti BNP Paribas dan Goldman Sachs memproyeksikan saham China akan terus menguat didorong faktor domestik. Dalam laporannya pekan lalu, Goldman memperkirakan indeks saham utama di daratan dan Hong Kong bisa naik hingga 30% hingga akhir 2027.

“Valuasi saham China masih tergolong murah dibanding pasar lain, sehingga investor tidak membayar terlalu mahal untuk optimisme AI dan likuiditas di sana,” tulis Goldman.

Masih Perlu Waspada

Meski demikian, banyak analis mengingatkan bahwa gencatan dagang bukanlah akhir dari perang tarif.

“Belum banyak sentimen positif yang benar-benar tercermin di pasar. Investor masih ragu apakah keseimbangan rapuh ini akan bertahan lama,” kata Devesh Divya, analis valuta asing di Standard Chartered, Singapura.

Divya menilai, ketidakpastian memang berkurang, namun situasi tetap sulit bagi perusahaan multinasional yang berencana memperluas investasi.

Dengan hubungan yang belum sepenuhnya stabil, kehati-hatian tetap menjadi kata kunci bagi investor yang ingin kembali ke pasar China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.
Trending di Internasional