BANYUWANGI – Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banyuwangi, Bapak H. Sugeng Maryono S.Pd, M.M. memberikan arahan dan motivasi kepada peserta Diklat Ruang Organisasi Pecinta Alam Siswa Hijau (ORPASH) dan Ikatan Pencak Silat MAN 1 Banyuwangi (IPMAN), Sabtu (17/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan pentingnya kemampuan mengatur diri sendiri, kedisiplinan dalam berorganisasi, kepedulian terhadap lingkungan, serta pengendalian hawa nafsu sebagai bekal membentuk karakter generasi muda yang berakhlak mulia.
Dalam arahannya, Kepala MAN 1 Banyuwangi menyampaikan bahwa berorganisasi bukan sekadar mengikuti kegiatan atau menjalankan program kerja, melainkan juga menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Setiap anggota organisasi harus mampu mengatur waktu serta mengendalikan dirinya sendiri.
“Berorganisasi itu harus bisa mengatur waktu, mengatur dirinya sendiri. Karena kesuksesan seseorang dimulai dari mengatur dirinya sendiri,” pesannya kepada para peserta diklat.
Menurutnya, kemampuan mengelola waktu dan diri sendiri merupakan fondasi penting untuk meraih kesuksesan. Seorang kader organisasi harus mampu menyeimbangkan tanggung jawab sebagai pelajar dengan aktivitas organisasi.
“Dengan demikian, keaktifan berorganisasi tidak menjadi penghalang dalam meraih prestasi akademik, tetapi justru menjadi sarana untuk mengembangkan potensi, kepemimpinan, dan kedewasaan,” imbuhnya.

ORPASH: Menjaga Lingkungan Dimulai Dari Hal Terdekat
Khusus kepada kader ORPASH, Kepala MAN 1 Banyuwangi mengingatkan agar kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari tempat terdekat, yakni lingkungan rumah dan sekolah. Menurutnya, kecintaan terhadap alam tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan di gunung, hutan, atau kawasan alam terbuka, tetapi harus diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari.
Beliau mengaitkan pesan tersebut dengan ajaran Islam tentang pentingnya kebersihan. Ungkapan “An-nadhafatu minal iman”, yang berarti kebersihan merupakan bagian dari iman, menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab moral yang perlu ditanamkan kepada setiap kader.
“Jagalah lingkungan dari yang terdekat dulu. Lingkungan rumah, lingkungan sekolah,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi pecinta alam merupakan sebuah tugas yang mulia. Alam adalah karunia Allah SWT yang harus disyukuri, bukan sekadar dinikmati. Oleh karena itu, rasa syukur tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah, merawat tanaman, serta ikut melestarikan lingkungan.
Untuk menggambarkan betapa pentingnya alam bagi kehidupan manusia, Kepala MAN 1 Banyuwangi mengajak peserta membayangkan apa yang akan terjadi apabila udara di sekitar tiba-tiba menghilang selama lima detik.
Kondisi tersebut menjadi ilustrasi tentang betapa manusia sangat bergantung pada udara dan keseimbangan alam untuk mempertahankan kehidupan. Pesan tersebut menegaskan bahwa lingkungan memiliki peran yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup.
Karena itu, kader ORPASH diharapkan tidak hanya memiliki kecintaan terhadap alam secara simbolis, tetapi juga mampu menjadi pelopor gerakan pelestarian lingkungan, baik di madrasah maupun di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan diklat ini, kader ORPASH diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, peduli, bertanggung jawab, serta memiliki kesadaran ekologis yang kuat. Jiwa petualang harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap kelestarian alam.
IPMAN: Kuat Bukan Berarti Sombong, tetapi Mampu Mengendalikan Diri
Sementara itu, kepada peserta IPMAN, Kepala MAN 1 Banyuwangi memberikan penekanan khusus mengenai makna bela diri dan pembentukan karakter. Menurutnya, pencak silat tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik dan kemampuan melindungi diri, tetapi juga mendidik anggotanya agar mampu mengendalikan emosi serta hawa nafsu.
Seorang pesilat sejati, lanjutnya, bukanlah orang yang gemar menunjukkan kekuatan atau merasa lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, pesilat yang baik adalah mereka yang mampu menjaga sikap, menghormati sesama, dan menggunakan kemampuannya secara bertanggung jawab.
Kepala madrasah mengingatkan agar ilmu pencak silat tidak digunakan untuk kesombongan, pamer kekuatan, atau merendahkan orang lain. Kekuatan fisik harus diimbangi dengan kekuatan mental, kematangan sikap, serta akhlak yang baik.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi kader IPMAN bahwa tantangan terbesar dalam membentuk karakter bukan semata-mata menghadapi orang lain, melainkan juga mengendalikan diri sendiri. Kemampuan menahan amarah, menjaga kerendahan hati, dan menghormati sesama merupakan bagian penting dari nilai-nilai luhur pencak silat.
Dengan demikian, anggota IPMAN diharapkan tumbuh menjadi generasi muda yang disiplin, berani dalam kebenaran, rendah hati, serta mampu menjadi teladan di lingkungan madrasah maupun masyarakat.
Diklat Sebagai Sarana Pembentukan Karakter
Diklat Ruang ORPASH dan IPMAN menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan pengendalian diri kepada para kader. Kedua organisasi tersebut memiliki bidang kegiatan yang berbeda, tetapi sama-sama mengemban tanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik.
ORPASH menanamkan kecintaan terhadap alam dan kepedulian terhadap lingkungan, sedangkan IPMAN membangun kedisiplinan, keberanian, serta kemampuan mengendalikan diri melalui pencak silat. Keduanya memiliki tujuan yang sejalan, yakni membentuk generasi muda yang tangguh secara mental, kuat dalam prinsip, dan mulia dalam perilaku.
Melalui arahan Kepala MAN 1 Banyuwangi, para peserta diharapkan mampu memahami bahwa keberhasilan berorganisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan atau prestasi yang diraih, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku anggotanya.
“Kader yang baik adalah mereka yang mampu mengatur waktu, bertanggung jawab terhadap tugas, menjaga lingkungan, menghormati sesama, dan tidak menyalahgunakan kemampuan yang dimiliki,” tutupnya.














