Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Langgar Kode Etik, Jabatan PM Thailand Ditangguhkan MK

badge-check


					PM Thailand, Paetongtarn Shinawatra, memberikan pernyataan setelah jabatannya ditangguhkan Mahkamah Konstitusi Thailand di Gedung Pemerintahan, Bangkok, Thailand, pada 1 Juli 2025. (foto: REUTERS/Athit Perawongmetha) Perbesar

PM Thailand, Paetongtarn Shinawatra, memberikan pernyataan setelah jabatannya ditangguhkan Mahkamah Konstitusi Thailand di Gedung Pemerintahan, Bangkok, Thailand, pada 1 Juli 2025. (foto: REUTERS/Athit Perawongmetha)

Bangkok – Jabatan Perdana Menteri (PM) Paetongtarn Shinawatra resmi ditangguhkan Mahkamah Konstitusi (MK) Thailand, Selasa (1/7/2025). Penangguhan jabatan PM Thailand ini menyusul kontroversi percakapan teleponnya dengan mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen yang bocor ke publik. Kasus ini semakin memanaskan situasi politik Thailand dan memperlemah stabilitas koalisi pemerintahan yang sudah rapuh.

Dalam rekaman yang beredar, Paetongtarn terdengar menyebut Hun Sen sebagai “paman” dan mengkritik seorang komandan militer Thailand. Hal ini memicu kemarahan publik, khususnya dari kalangan konservatif dan militer, serta mendorong munculnya petisi untuk pemberhentiannya.

Mahkamah Konstitusi memutuskan dengan suara 7-2 untuk menangguhkannya dari jabatan perdana menteri sambil mempertimbangkan pemberhentiannya. Paetongtarn memiliki waktu 15 hari untuk mengajukan pembelaan. Selama masa penangguhan, wakil perdana menteri akan menjabat sebagai pelaksana tugas perdana menteri.

Meski begitu, Paetongtarn (38) tetap akan berada dalam kabinet sebagai Menteri Kebudayaan. Posisi yang baru diemban setelah reshuffle kabinet, yang disetujui hanya beberapa jam sebelum keputusan pengadilan diumumkan.

Minta Maaf, Tegaskan Demi Negara

Dalam konferensi pers yang berlangsung Selasa malam, Paetongtarn kembali menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Ia menegaskan bahwa percakapannya dengan Hun Sen semata-mata bertujuan menjaga kepentingan nasional, terutama dalam meredakan ketegangan di wilayah perbatasan.

“Tujuan saya lebih dari 100 persen untuk mencegah kekacauan, pertempuran, dan korban jiwa,” katanya. “Jika anda mendengarkan secara menyeluruh, publik akan memahami bahwa saya tidak memiliki niat buruk.”

Percakapan itu membahas sengketa perbatasan Thailand-Kamboja yang kembali memanas sejak Mei lalu, setelah seorang prajurit Kamboja tewas. Banyak kalangan konservatif menilai sikap Paetongtarn merendahkan wibawa negara dan melemahkan posisi militer Thailand.

Satu Lagi dari Dinasti Shinawatra

Jika akhirnya diberhentikan, Paetongtarn akan menjadi anggota ketiga dari dinasti politik Shinawatra yang gagal menyelesaikan masa jabatan sebagai perdana menteri. Ayahnya, Thaksin Shinawatra, terguling melalui kudeta militer tahun 2006. Sementara bibinya, Yingluck Shinawatra, diberhentikan oleh pengadilan pada 2014, juga tak lama sebelum kudeta.

Koalisi pemerintahan Paetongtarn sendiri semakin goyah dalam beberapa pekan terakhir setelah mitra konservatif kunci meninggalkannya, membuatnya kehilangan suara mayoritas yang stabil di parlemen.

Popularitas Paetongtarn pun terus menurun. Survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadapnya merosot tajam dari 30,9 persen pada Maret menjadi hanya 9,2 persen pekan lalu.

Peran Kuat Mahkamah Konstitusi dan Bayang-Bayang Thaksin

Keputusan mahkamah ini kembali menyorot peran dominan lembaga yudisial dalam dinamika politik Thailand. Sejak 2006, Mahkamah Konstitusi telah membubarkan setidaknya 34 partai politik, termasuk memblokir Partai Move Forward yang memenangkan pemilu 2023 untuk membentuk pemerintahan.

“Ini bagian dari pola yang sudah berulang dalam politik Thailand,” ujar Titipol Phakdeewanich, dosen ilmu politik Universitas Ubon Ratchathani. “Penangguhan ini mencerminkan budaya politik yang tidak sehat, meskipun sebagian masyarakat menganggapnya sah karena adanya keraguan terhadap kesetiaan PM pada kepentingan nasional.”

Situasi semakin rumit karena keputusan pengadilan bertepatan dengan awal persidangan Thaksin Shinawatra. Mantan PM yang kembali ke Thailand tahun lalu setelah 15 tahun di pengasingan itu kini menghadapi tuduhan penghinaan terhadap monarki atas wawancara dengan media Korea Selatan pada 2015.

Thaksin merupakan tokoh sentral dalam politik Thailand dalam dua dekade terakhir dan masih menjadi kekuatan di balik Partai Pheu Thai dan pemerintahan putrinya.

Kembali membayangi, peran Thaksin menjadi bagian dari kompromi politik besar antara Pheu Thai dan kekuatan konservatif—termasuk militer dan pendukung monarki—yang sebelumnya menggulingkan keluarganya lewat kudeta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional