Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Mantan Presiden Korea Selatan Ditangkap Kembali

badge-check


					Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol. (foto: AFP) Perbesar

Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol. (foto: AFP)

Seoul – Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, kembali ditangkap atas dugaan keterlibatannya dalam upaya pemberlakuan darurat militer pada Desember tahun lalu yang mengguncang stabilitas politik negeri Ginseng tersebut.

Penangkapan ini dilakukan setelah Pengadilan Distrik Pusat Seoul mengeluarkan surat perintah penahanan pada Rabu (9/7/2025), dengan alasan kuat bahwa Yoon berpotensi menghilangkan barang bukti penting. Yoon sebelumnya telah dimakzulkan pada April, menyusul perintah darurat militer selama enam jam yang dinilai melanggar konstitusi dan hak-hak kabinetnya.

Dalam sidang praperadilan yang berlangsung selama tujuh jam, jaksa memaparkan lima dakwaan utama terhadap Yoon. Salah satunya adalah dugaan pelanggaran hak-hak menteri kabinet dengan tidak mengundang sebagian dari mereka dalam pertemuan sebelum pengumuman darurat militer.

Yoon hadir dalam sidang didampingi kuasa hukumnya dan membantah seluruh tuduhan. Namun setelah itu, ia langsung dibawa ke Pusat Penahanan Seoul sembari menunggu keputusan akhir atas status penahanannya.

Ancaman Hukuman Seumur Hidup

Yoon sebelumnya sempat ditangkap pada Januari lalu dalam sebuah drama penegakan hukum yang melibatkan penyidik memanjat barikade dan memotong kawat berduri di rumah pribadinya. Namun, dua bulan kemudian, penangkapannya dibatalkan oleh pengadilan karena alasan teknis.

Kini, sebagai warga sipil, Yoon tidak lagi memiliki kekebalan hukum. Jika terbukti bersalah atas dakwaan pemberontakan, ia terancam hukuman seumur hidup, bahkan hukuman mati. Laporan media menyebutkan bahwa jaksa menemukan bukti keterlibatan Yoon dalam memerintahkan penggunaan drone militer untuk melintasi wilayah udara Korea Utara. Tindakan tersebut diduga bertujuan memancing balasan yang dapat digunakan untuk melegitimasi pengumuman darurat militer.

Sejumlah pejabat tinggi lain dalam pemerintahannya juga menghadapi dakwaan serupa, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan keterlibatan dalam insiden darurat militer tersebut.

Langkah Presiden Baru Lee Jae-myung

Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae-myung, yang terpilih dalam pemilu kilat pasca pemakzulan Yoon, berkomitmen untuk memperkuat demokrasi dan menuntaskan penyelidikan terhadap berbagai pelanggaran di masa pemerintahan pendahulunya. Ia menunjuk tim penasihat khusus untuk mendalami kasus ini secara menyeluruh.

Kasus Yoon menandai sejarah baru di Korea Selatan, di mana seorang presiden aktif untuk pertama kalinya ditangkap dan diadili atas tuduhan pemberontakan terhadap negara yang ia pimpin sendiri. Pemerhati politik menyebut peristiwa ini sebagai “ujian terbesar bagi demokrasi Korea sejak era reformasi 1987”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional