SANAA, 6 Oktober 2026 — Pasukan pemerintah Yaman klaim telah rebut kembali kendali atas kota pelabuhan Mokha di Laut Merah dan mengamankan Selat Bab al-Mandeb. Perebutan itu terjadi ketika pemerintah Yaman memulai serangan besar untuk merebut wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.
Militer Yaman mengatakan pasukan National Shield, Giants Brigades, dan Tihama Resistance merebut Mokha pada Senin (5/10) sore dengan dukungan serangan udara Arab Saudi.
Beberapa jam sebelumnya, pasukan pemerintah juga mengklaim telah menguasai Bandara Dhubab, sekitar 45 kilometer di selatan Mokha. Pasukan pemerintah kemudian mengepung pejuang Houthi di kota terdekat.
Houthi belum memberikan tanggapan langsung terhadap klaim perebutan Mokha. Namun, media milik kelompok Houthi membantah bahwa pasukan pemerintah berhasil membuat kemajuan di Dhubab.
Serangan Meluas ke Sanaa
Pemerintah Yaman mengatakan operasi militer juga dimulai di sejumlah front lain pada Senin, termasuk di sekitar Sanaa, ibu kota yang direbut Houthi pada awal perang saudara sekitar 12 tahun lalu.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengatakan jet tempurnya memberikan dukungan udara “sepanjang waktu” kepada pasukan pemerintah Yaman.
Koalisi tersebut mengklaim telah menghancurkan 324 target yang di anggap sebagai sasaran “bernilai tinggi” sejak serangan di mulai.
Di sisi lain, serangan udara Saudi dilaporkan menewaskan seorang siswi dan seorang perempuan di distrik Sanhan dan Saawan, Sanaa, pada Senin, menurut stasiun televisi Al Masirah yang dikelola Houthi.
Juru bicara Houthi Mohammed Abdul Salam menuduh Arab Saudi melakukan “puluhan pembantaian” dan mengatakan Riyadh harus menanggung seluruh konsekuensinya.
Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan yang dikelola Houthi juga memperingatkan maskapai penerbangan sipil bahwa wilayah udara Arab Saudi, kecuali kawasan di atas kota suci Mekkah dan Madinah, tidak lagi aman karena telah menjadi “sasaran operasi”.
Yaman Luncurkan Operation Yemen Dawn
Pada Minggu (4/10), kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, mengumumkan dimulainya serangan bernama Operation Yemen Dawn. Operasi tersebut bertujuan merebut kembali seluruh wilayah yang masih dalam penguasaan kelompok Houthi.
Al-Alimi mengatakan seluruh peluang untuk melakukan deeskalasi telah habis. Ia meminta seluruh pasukan menjalankan misi mereka sampai Yaman “terbebaskan dari cengkeraman milisi teroris Houthi”.
Serangan tersebut berlangsung setelah Houthi memutus jalur pegunungan di dekat Taiz, Yaman barat daya. Tindakan itu secara efektif membuat pasukan pemerintah dan warga di wilayah tersebut terkepung.
Houthi Serang Fasilitas Minyak Saudi
Houthi juga mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas minyak milik Saudi Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais. Serangan tersebut disebut sebagai aksi balasan atas puluhan serangan udara Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi.
Citra satelit pada Sabtu menunjukkan kepulan asap hitam pekat dari lokasi serangan di kilang Aramco Riyadh, bagian tenggara kota.
Kepulan asap serupa juga terlihat dari Fasilitas Pemrosesan Pusat Khurais. Citra satelit pada Minggu juga menunjukkan kemungkinan adanya titik serangan lainnya.
Konflik Kembali Mengancam Bab al-Mandeb
Perkembangan terbaru ini kembali meningkatkan ketegangan di sekitar Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Tindakan kelompok Houthi menggulingkan pemerintahan Yaman di Sanaa pada 2014 menjadi titik awal terjadinya perang saudara Yaman. Konflik meningkat pada 2015 setelah koalisi negara-negara Arab yang di pimpin Arab Saudi melakukan intervensi untuk mengembalikan pemerintahan Yaman.
Gencatan senjata informal yang berlangsung selama sekitar empat tahun mulai runtuh pada Juli. Houthi kemudian mengumumkan “embargo maritim” terhadap Arab Saudi dan melancarkan serangan rudal serta drone terhadap bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka serta serangan udara terhadap Bandara Sanaa yang mereka tuduhkan kepada Arab Saudi.
Bulan lalu, Houthi melancarkan serangan mendadak di sepanjang pesisir Laut Merah bagian barat daya Yaman. Mereka dengan cepat merebut sejumlah wilayah yang menghadap Selat Bab al-Mandeb, termasuk Mokha, Dhubab, dan Pulau Perim atau Mayyun.
Houthi mengatakan mereka tidak mengancam pelayaran internasional yang melewati jalur tersebut, tetapi tetap akan menargetkan kapal-kapal yang berasal dari Arab Saudi.
Konflik Berdampak pada Harga Minyak Dunia
Penguasaan Selat Bab al-Mandeb oleh Houthi sebelumnya ikut mendorong kenaikan harga minyak global. Kondisi tersebut terjadi karena saat ini Arab Saudi mengandalkan jalur Laut Merah untuk ekspor minyak. Saudi memilih menggunakan jalur itu setelah meledaknya perang AS dengan Iran yang membuat Selat Hormuz di Teluk Persia tertutup.
Kementerian Kesehatan pemerintah Yaman memperkirakan sedikitnya 959 orang tewas dan 5.000 lainnya terluka dalam pertempuran sejak 6 Agustus.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 197.000 orang lainnya telah mengungsi akibat konflik terbaru tersebut.













